Trump Dinilai Salah Baca China dan Iran, Pengamat UNAIR: AS Terjebak Kepercayaan Diri Berlebihan!

Pengamat politik FISIP UNAIR, Airlangga Pribadi Kusman, dalam ilustrasi berita.

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pengamat politik FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Airlangga Pribadi Kusman, menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump salah membaca peta geopolitik setelah pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping. Trump dinilai terlalu percaya diri menganggap Beijing akan mendukung tekanan Washington terhadap Iran.

Menurut Airlangga, sikap Trump menunjukkan keyakinan berlebihan bahwa China sepakat dengan agenda Amerika Serikat untuk menghentikan pengayaan uranium Iran. Padahal, pernyataan resmi kedua negara justru memperlihatkan perbedaan tajam.

“Trump mengesankan seolah setelah bertemu Xi Jinping, maka Iran akan mudah ditekan. Padahal kalau membaca rilis resmi kedua pihak, justru ada perbedaan sangat mendasar,” kata Airlangga saat tampil di salah satu stasiun TV nasional, Minggu (17/5/2026).

Ia merujuk pada laporan sejumlah media internasional, termasuk Al Jazeera yang menyoroti tidak adanya kesepahaman utuh antara Washington dan Beijing terkait Iran.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa AS dan China sepakat Iran harus menghentikan pengayaan uranium. Namun China, kata Airlangga, justru lebih menekankan penghentian perang demi menjaga stabilitas kawasan dan keberlangsungan kerja sama ekonomi global yang adil.

“China tidak ingin konflik meluas karena itu akan mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Jadi framing Trump bahwa Beijing berada penuh di belakang agenda AS terhadap Iran itu terlalu jauh,” ujarnya.

Airlangga menilai kekuatan Iran selama ini juga tidak semata bertumpu pada bantuan militer China. Negeri itu, menurut dia, telah lama membangun kemampuan pertahanan secara mandiri melalui riset domestik dan kerja sama strategis dengan negara-negara di kawasan.

Ia mencontohkan pengembangan sistem pertahanan seperti Bavar-373 dan Khordad-15 yang disebut mampu meredam berbagai serangan teknologi militer modern.

“Selama ini Iran membangun strategi berdikari dalam pertahanan. Itu yang membuat mereka tidak mudah ditekan,” kata dia.

Menurut Airlangga, tujuan utama strategi militer Iran bukan untuk menghancurkan Amerika Serikat, melainkan menghalau agresi dan menjaga kedaulatan wilayahnya. Karena itu, tekanan militer langsung justru dinilai berisiko menjadi jebakan bagi Washington.

“Kalau sampai terjadi invasi darat, itu justru bisa menjadi titik yang sangat merugikan AS sendiri,” ujar pria yang juga Kepala Prodi S2 Ilmu Politik FISIP UNAIR itu.

Ia juga menilai elite politik Iran, termasuk Mojtaba Khamenei, cenderung tetap menggunakan strategi jangka panjang yang konsisten dan tidak mudah terpancing oleh pernyataan-pernyataan Trump yang kerap berubah.

“Iran tampaknya sudah punya skenario sendiri menghadapi tekanan AS. Mereka tidak bereaksi berdasarkan komentar sesaat Trump,” kata Airlangga.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, Airlangga mengingatkan bahwa salah membaca posisi China dan ketahanan Iran dapat menjadi kesalahan strategis besar bagi Amerika Serikat.

“Problem terbesar Washington saat ini justru kecenderungan merasa masih bisa mengatur seluruh arah geopolitik dunia seperti era lama, padahal konfigurasi kekuatan global sudah berubah,” ujarnya.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi