Ketika Seragam Loreng Masuk Kelas, Siswa Belajar Arti Mencintai Indonesia

 

Prajurit TNI dari Satgas Pengamanan Perbatasan RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani saat menjadi guru di SMP Negeri 5 Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kamis (14/5/2026). (foto: Yonarmed 19/Bogani)

Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara – Kehadiran sejumlah prajurit berseragam loreng di SMP Negeri 5 Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kamis (14/5/2026), menghadirkan suasana yang berbeda. Para siswa tidak hanya mengikuti pelajaran seperti biasa, tetapi juga memperoleh pemahaman baru tentang arti mencintai Indonesia.

Prajurit dari Satgas Pengamanan Perbatasan RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani itu datang ke sekolah dalam rangka memberikan pembelajaran bela negara sebagai bagian dari latihan prapenugasan untuk menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia pada 2026-2027.

Di dalam kelas, para prajurit menyampaikan materi wawasan kebangsaan, kedisiplinan, serta pentingnya persatuan dan kesatuan. Di halaman sekolah, para siswa diajak berlatih baris-berbaris, meneriakkan yel-yel kebangsaan, dan mengikuti permainan edukatif yang menumbuhkan semangat kebersamaan.

Komandan Satgas, Letkol Arm Hanafi Solaeman, mengatakan bahwa bela negara dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti belajar dengan sungguh-sungguh, menaati peraturan, serta menjaga kerukunan dengan sesama.

“Generasi muda perlu memiliki semangat nasionalisme, disiplin, dan rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara,” ujarnya.

Menurut dia, sekolah merupakan tempat yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan dekat dengan dunia pelajar, pesan tentang cinta tanah air diharapkan lebih mudah dipahami dan dihayati.

Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut. Para guru menilai kehadiran prajurit memberi pengalaman belajar yang berbeda sekaligus memotivasi siswa untuk lebih disiplin dan percaya diri.

Bagi para siswa, pelajaran hari itu meninggalkan kesan tersendiri. Di balik seragam loreng yang identik dengan tugas menjaga kedaulatan negara, mereka menemukan sosok guru yang mengajarkan bahwa mencintai Indonesia dapat dimulai dari ruang kelas dan perilaku sehari-hari.(*)

Kontributor: Johannes

Editor: Abdel Rafi