
BLITAR, CAKRAWARTA.com – Kemampuan mengajar belum selalu berbanding lurus dengan kemampuan menulis. Di tengah tuntutan guru untuk terus beradaptasi dengan perkembangan pendidikan dan teknologi, budaya literasi di kalangan pendidik masih menghadapi persoalan mendasar dinana banyak guru terbiasa menyampaikan gagasan secara lisan, tetapi belum percaya diri menuangkannya dalam tulisan.
Kondisi itu menjadi perhatian Kementerian Agama Kota Blitar bersama Dinas Pendidikan Kota Blitar yang menggelar workshop teknik penulisan bagi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI), Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya gerakan literasi di kalangan guru, khususnya melalui penulisan buku antologi.
Sebanyak 86 guru PAI jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK mengikuti kegiatan itu. Mereka tidak hanya menerima materi dasar kepenulisan, tetapi juga diajak menyusun draft tulisan yang diproyeksikan berkembang menjadi buku ber-ISBN.
Kepala Kemenag Kota Blitar, Mohammad Kanzul Fathoni, mengatakan rendahnya tradisi menulis di kalangan guru perlu segera diatasi. Menurut dia, guru tidak cukup hanya hadir sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga perlu menjadi penghasil gagasan dan pengetahuan.
“Literasi guru harus diperkuat. Menulis bukan hanya untuk pengembangan diri, tetapi juga kontribusi nyata terhadap dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia mengakui, menulis masih dianggap sebagai sesuatu yang sulit oleh sebagian besar guru. Karena itu, diperlukan keberanian untuk memulai sekaligus pembiasaan agar tradisi tersebut tumbuh.
“Menulis itu memang harus dipaksa sampai akhirnya menjadi kebiasaan. Saya sendiri sudah menerbitkan beberapa buku ber-ISBN,” katanya.
Workshop tersebut menghadirkan narasumber Muhammad Nur Alam Fajar Syam. Dalam pemaparannya, Alam menilai hambatan terbesar dalam menulis justru sering muncul dari rasa takut memulai.
“Banyak guru sebenarnya punya pengalaman dan gagasan yang bagus, tetapi berhenti karena merasa tidak bisa menulis. Padahal menulis itu soal teknik dan keberanian memulai,” ujarnya.
Ia mengajak para peserta memanfaatkan workshop bukan sekadar memenuhi kegiatan formal, melainkan menjadi langkah awal membangun budaya literasi di lingkungan sekolah.
“Hari ini kita ingin membuktikan bahwa guru mampu menghasilkan karya buku selama memahami teknik penulisannya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Didin Alinurdin, menilai kehadiran guru penulis penting untuk memperkaya literatur pendidikan yang lahir dari pengalaman nyata di lapangan.
Menurut dia, pengalaman para guru di ruang kelas selama ini menyimpan banyak praktik baik yang jarang terdokumentasikan.
“Padahal pengalaman guru itu sangat kaya. Jika ditulis, bisa menjadi sumber pembelajaran yang penting bagi dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, karya para guru nantinya juga dapat menjadi tambahan referensi di perpustakaan daerah sehingga manfaatnya lebih luas bagi masyarakat.
Selain sesi teori, workshop diisi praktik menulis langsung. Peserta dibimbing mulai dari menentukan ide, menyusun kerangka tulisan, hingga menjaga konsistensi menyelesaikan naskah.
Di tengah derasnya arus informasi digital dan menurunnya minat baca, workshop tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga budaya literasi tidak cukup hanya dibebankan kepada siswa. Guru pun dituntut memberi teladan, bukan hanya lewat pengajaran, tetapi juga melalui karya tulis yang diwariskan.(*)
Kontributor: Mukani
Editor: Abdel Rafi








