Sinyal AS Menyerah

Akhirnya, setelah rudal beterbangan seperti petasan tahun baru yang dibeli anak konglomerat mabuk gengsi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mulai memberi sinyal menyerah.

Perang AS-Israel melawan Iran tampaknya sudah sampai di ujung napas. Ini bukan diumumkan lewat pidato heroik ala film Hollywood. Tidak. Kali ini justru muncul dalam bentuk yang lebih sederhana dan realistis: selembar proposal damai satu halaman.

Satu halaman. Bayangkan. Setelah ribuan nyawa melayang, harga minyak menari seperti setan kesurupan di pasar global, kapal-kapal dagang terjebak di Selat Hormuz, ujungnya cuma selembar kertas.

Bayangkan lagi, ekonomi dunia sudah megap-megap seperti becak tua dipaksa nanjak Puncak sambil ngangkut tabung gas dan galon air, Trump malah datang membawa proposal satu lembar seolah perang ini cuma salah paham antar tetangga rebutan pagar.

Dunia modern memang lucu. Kadang perang dimulai oleh pidato tiga menit, lalu diakhiri memo satu halaman.

Proposal itu, menurut berbagai bocoran diplomatik, berisi penghentian perang dan pembukaan masa negosiasi selama 30 hari. Semacam “cooling down” sebelum dunia benar-benar terbakar lebih luas. Tapi seperti biasa, iblis sesungguhnya ada di detail.

Anda tahu apa yang diminta Trump. Amerika meminta Iran menghentikan pengayaan uranium dalam jangka panjang, bahkan lebih dari sepuluh tahun.

Dulu Washington maunya dua puluh tahun, sekarang mulai turun nada. Seperti “debt collector” yang tadinya datang sambil dobrak pagar, lalu mendadak bicara lembut karena sadar rumah yang didatangi ternyata bukan kontrakan mahasiswa telat bayar kos, melainkan markas pendekar bersenjata lengkap yang halaman depannya penuh ranjau.

Menurut bocoran CNN, proposal terbaru itu juga meminta Iran mengirim seluruh stok uranium berkadar tinggi keluar negeri. Presiden Rusia Vladimir Putin sudah menyatakan siap menerima stok uranium Iran.

Tapi Trump, dalam wawancara dengan PBS News, terang-terangan mengatakan Teheran diminta mengirim material itu ke Amerika Serikat sekaligus berjanji tidak lagi mengoperasikan fasilitas bawah tanahnya.

Di titik ini, perang mulai berubah wajah. Ia tidak lagi cuma soal ledakan dan rudal, tetapi tentang siapa yang boleh memiliki masa depan teknologi nuklir.

Amerika ingin Iran tetap berada di posisi “negara yang diawasi,” sementara Iran ingin diakui sebagai kekuatan regional yang setara, yang mempunya hak bernegara seperti Amerika juga.

Jadi jangan bayangkan meja perundingan itu seperti forum para bijak bestari mencari perdamaian. Tidak. Itu lebih mirip meja tawar-menawar antara dua petinju berdarah-darah yang sama-sama masih memegang kursi lipat, sambil diam-diam mencari botol untuk dilempar kalau negosiasi gagal.

Masalahnya, Iran bukan Libya era Muammar Khadafi yang gampang dipreteli lalu ditinggalkan telanjang.

Iran sudah kenyang belajar dari sejarah. Mereka melihat bagaimana negara-negara yang menyerahkan seluruh kartu pertahanannya justru berakhir seperti ayam sayur kehilangan induk di tengah pasar global.

Karena itu, tuntutan penghentian pengayaan uranium selama satu dekade lebih dipandang di Teheran bukan sekadar soal teknis nuklir, tetapi soal hak dan harga diri geopolitik.

Dalam bahasa sederhana, Amerika meminta Iran mematikan sebagian otot strategisnya sambil berharap Teheran percaya begitu saja pada janji diplomasi Barat.

Dan sejarah Timur Tengah tidak pernah terlalu ramah terhadap janji seperti itu. Di kawasan itu, tanda tangan perjanjian kadang umurnya lebih pendek daripada diskon tanggal kembar di toko online.

Lalu, sampailah dunia pada urat saraf sesungguhnya dari perang ini, yang juga jadi permintaan Trump dalam proposalnya yakni Selat Hormuz.

Anda tahu, selat itu hanya sebuah jalur laut sempit yang lebarnya bahkan kalah jauh dibanding ego para pemimpin dunia, tetapi mampu membuat ekonomi planet ini demam tinggi. Di sanalah Iran memainkan kartu paling menakutkan.

Mereka tidak perlu menenggelamkan armada Amerika untuk membuat Washington panik. Cukup membuat kapal-kapal dagang takut lewat, maka harga energi dunia langsung meloncat seperti cabai menjelang Lebaran yang diumumkan mendadak kurang stok.

Menurut CNN, umpan balik positif dari mediator Pakistan sempat membuat Trump menghentikan operasi militer AS yang sebelumnya digunakan untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di selat itu. Tapi blokade AS terhadap pelabuhan Iran masih terus berjalan.

Di sisi lain, Washington mendesak Iran membuka kembali kebebasan pelayaran dan menghentikan pungutan “jaminan keamanan” terhadap kapal-kapal yang melintas.

Betapa ironis. Negara-negara yang selama puluhan tahun bicara soal pasar bebas dan jalur perdagangan global kini mendadak sadar bahwa satu selat kecil di Timur Tengah ternyata bisa membuat Wall Street berkeringat dingin.

Ternyata kapitalisme global itu gagah hanya ketika kapal tanker lewat dengan tenang.

Dan di sinilah Trump mulai benar-benar terjepit. Sebab setiap hari Selat Hormuz terganggu, setiap hari pula harga minyak menggigit ekonomi Amerika dari dalam. Rakyat mungkin tidak hafal letak Hormuz di peta, tetapi mereka hafal angka di pom bensin.

Itulah sebabnya pemerintahan Trump kini terlihat sangat ingin mencari “offramp diplomatik,” istilah elegan untuk menggambarkan kebutuhan mendesak keluar dari perang sebelum semuanya berubah jadi bencana politik domestik. Sebab dalam demokrasi modern, suara pemilih jauh lebih menakutkan daripada suara sirene rudal.

Belum lagi soal sanksi ekonomi, yang juga dimasukkan Trump ke selembar proposal tadi. Ini bagian yang paling sensitif, paling licin, dan paling membuat Israel gelisah.

Sebelum gencatan senjata diumumkan, pejabat pemerintahan Trump sebenarnya berharap bisa merancang kerangka kesepakatan yang mencakup pelonggaran sanksi terhadap Iran dan pencairan miliaran dolar dana Iran yang selama ini dibekukan.

Tetapi sampai sekarang detailnya masih kabur. Yang jelas, menurut CNN, Benjamin Netanyahu langsung bergerak cepat melakukan pembicaraan dengan pejabat AS karena Israel sangat khawatir jika tekanan ekonomi terhadap Iran mulai dilonggarkan.

Di mata Israel, sanksi adalah tali cekik paling efektif terhadap Teheran. Sedangkan bagi Iran, pencabutan sanksi adalah soal bertahan hidup.

Jadi meja negosiasi itu sesungguhnya bukan meja damai. Itu meja operasi raksasa tempat seluruh pihak mencoba menyelamatkan kepentingannya masing-masing sambil tetap tampak bermoral di depan kamera dunia.

Kamera memang ajaib. Ia bisa membuat penjagal tampak seperti dermawan dan embargo tampak seperti misi kemanusiaan.

Dari semua itu jelas, Trump rupanya mulai memahami satu hal penting bahwa rakyat Amerika ternyata tidak makan pidato patriotik. Mereka makan roti, bayar bensin, bayar listrik, bayar cicilan rumah.

Dan perang membuat semuanya naik. Ketika harga hidup melonjak, nasionalisme mendadak kehilangan aroma parfum kemenangan.

Hasil survei Washington Post bersama ABC News dan Ipsos menjadi tamparan yang bunyinya terdengar sampai Gedung Putih. Sebanyak 61% warga Amerika menyebut perang terhadap Iran adalah kesalahan. Ini angka yang sangat brutal.

Bahkan perang Irak pada masa-masa terburuknya pun mengalami pola penolakan yang mirip. Artinya, publik Amerika mulai melihat perang Iran bukan sebagai misi penyelamatan dunia, melainkan proyek mahal yang membuat isi dompet mereka kurus.

Lebih tragis lagi, perang ini menghantam jantung janji kampanye Trump sendiri. Ia dulu tampil bak pendekar anti-perang. Ia menjual citra sebagai pemimpin yang akan menjauhkan Amerika dari petualangan militer sia-sia.

Tapi sekarang? Ia malah terseret ke konflik panjang yang membuat warga Amerika bertanya, “Bukankah ini yang dulu kau janjikan tidak akan terjadi?”

Politik memang kadang seperti sinetron azab. Tokoh yang berjanji memadamkan api justru muncul sambil membawa jeriken bensin.

Yang lebih menarik, proposal damai ini bukan lahir karena tiba-tiba semua pihak sadar pentingnya kemanusiaan. Dunia internasional terlalu realistis untuk dongeng seperti itu.

Proposal ini lahir karena biaya perang sudah mulai tidak masuk akal. Ekonomi global terguncang. Harga energi naik. Jalur perdagangan terganggu. Investor panik.

Dan di atas semua itu, Iran ternyata tidak runtuh seperti prediksi awal banyak analis Barat.

Inilah penyakit klasik imperium besar yaitu terlalu sering percaya propaganda sendiri. Mereka membayangkan Iran akan ambruk dalam hitungan minggu, seperti rumah kardus diterjang hujan.

Nyatanya tidak. Iran justru bertahan, membalas, menekan Selat Hormuz, dan membuat Washington dipaksa berpikir ulang. Dalam geopolitik modern, kadang kemenangan bukan soal siapa paling kuat, tetapi siapa paling tahan dipukul.

Dan sekarang dunia menunggu jawaban Teheran. Jawaban itu akan menentukan apakah perang ini benar-benar berhenti atau hanya masuk jeda iklan sebelum musim berikutnya dimulai.

Sebab sejarah Timur Tengah mengajarkan satu hal pahit bahwa di kawasan itu, gencatan senjata sering cuma seperti orang bertengkar di warung kopi lalu berhenti sebentar untuk mengisi ulang rokok.

Tetapi paling tidak, proposal satu halaman itu telah menjadi pengakuan diam-diam bahwa Trump menyerah, bahwa rudal tidak selalu menghasilkan kemenangan.

Perang justru menghasilkan antrean panjang di SPBU, pasar saham merah darah, dan rakyat yang mulai bertanya, “Perang ini sebenarnya untuk siapa?”

Ketika pertanyaan itu mulai keluar dari mulut rakyat, para pemimpin besar biasanya mendadak rajin bicara damai, seolah bom-bom kemarin cuma salah pencet remote televisi.(*)

AHMADIE THAHA (Cak AT)

Wartawan Senior