Asia Timur Kian Strategis, Indonesia Perkuat Diplomasi Pendidikan dan Riset

Pemaparan Atdikbud KBRI Seoul mengenai potensi beasiswa dan riset antara Indonesia-Korea Selatan dalam Webinar Series Atdikbud dan Wadetap RI-UNESCO. (foto: tangkapan layar)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Kawasan Asia Timur kian mengukuhkan diri sebagai simpul baru pendidikan dan riset global. Indonesia merespons dinamika ini dengan memperkuat diplomasi pendidikan melalui jejaring kerja sama yang lebih luas dan terarah.

Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di KBRI Beijing, KBRI Seoul, dan KBRI Tokyo mengambil langkah proaktif memperluas kolaborasi pendidikan, riset, dan kebudayaan. Upaya tersebut mengemuka dalam forum “Webinar Series Atdikbud & Wadetap RI-UNESCO”, yang menempatkan pendidikan sebagai instrumen penting diplomasi lunak (soft power) Indonesia di tengah persaingan global talenta dan inovasi.

Data UNESCO Institute for Statistics menunjukkan, lebih dari 6,4 juta mahasiswa menempuh pendidikan lintas negara pada 2024. Indonesia sendiri diperkirakan memiliki sekitar 59.000-62.000 mahasiswa di luar negeri. Namun, arus masuk mahasiswa asing ke Indonesia masih relatif terbatas, menandakan perlunya strategi yang lebih seimbang.

Perkembangan pendidikan di Tiongkok berlangsung pesat, ditopang investasi besar di bidang riset dan teknologi. Hingga 2026, jumlah mahasiswa Indonesia di negara itu diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang, meningkat dari sekitar 14.000 pada 2018.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Puspita Lestari, menilai tren tersebut tidak sekadar soal kuantitas. “Tiongkok menawarkan ekosistem riset dan inovasi yang semakin terbuka. Ini peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, terutama di bidang sains dan teknologi,” ujarnya dalam rilis bersama antara Atdikbud KBRI Tiongkok, Korea Selatan dan Jepang, yang diterima media ini, Senin (4/5/2026)

Sebaliknya, jumlah mahasiswa Tiongkok di Indonesia masih berkisar 1.000-2.000 orang. Ketimpangan ini, menurut Puspita, justru membuka ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan daya tarik sebagai tujuan studi melalui penguatan program internasional dan promosi bahasa serta budaya.

Di Korea Selatan, kualitas pendidikan ditopang integrasi kuat antara kampus, industri, dan pemerintah. Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, negara ini berada di kelompok teratas untuk literasi membaca, matematika, dan sains.

Sekitar 2.700 mahasiswa Indonesia saat ini menempuh studi di Korea Selatan. Program “Study Korea 300K Project” menargetkan 300.000 mahasiswa asing sebagai bagian dari strategi internasionalisasi.

Atdikbud KBRI Seoul, Amaliah Fitriah, menilai model tersebut relevan bagi Indonesia. “Universitas di Korea tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan industri dan pemerintah daerah. Ini memberi nilai tambah nyata bagi mahasiswa,” ujarnya.

Jumlah mahasiswa Korea Selatan di Indonesia masih terbatas, sekitar 700–1.000 orang. Namun, minat terhadap studi bahasa, budaya, dan ekonomi kawasan mulai meningkat.

Kerja sama pendidikan dengan Jepang telah berlangsung lama dan relatif stabil. Saat ini terdapat sekitar 6.000–7.000 mahasiswa Indonesia di Jepang.

Atdikbud KBRI Tokyo, Amzul Arifin, menyoroti kekuatan Jepang dalam kolaborasi riset berbasis model “triple helix”, sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah. “Ekosistem ini sangat kondusif dan terbuka untuk kolaborasi internasional,” katanya.

Sebaliknya, mahasiswa Jepang di Indonesia masih berkisar 300-600 orang. Menurut Amzul, Indonesia perlu memperkuat promosi akademik sebagai mitra riset yang relevan, terutama dalam isu keberlanjutan dan transformasi digital.

Pola mobilitas mahasiswa menunjukkan diplomasi pendidikan Indonesia di Asia Timur masih didominasi arus keluar. Sementara itu, arus masuk mahasiswa asing belum berkembang signifikan.

Kondisi ini menempatkan Indonesia pada persimpangan strategis. Di satu sisi, pengiriman mahasiswa ke luar negeri memperkaya kapasitas sumber daya manusia. Di sisi lain, tanpa peningkatan daya tarik domestik, Indonesia berisiko tetap menjadi konsumen pengetahuan global.

Ke depan, diplomasi pendidikan perlu diarahkan pada pendekatan dua arah dimana tidak hanya mengirim mahasiswa, tetapi juga menarik talenta internasional. Dalam konteks persaingan global, langkah ini menjadi kunci agar Indonesia dapat berperan sebagai produsen pengetahuan dalam ekosistem global yang semakin kompetitif.(*)

Editor: Abdel Rafi