
TASIKMALAYA, CAKRAWARTA.com – Di tengah arus cepat industri mode global, upaya menjaga relevansi warisan budaya kerap menghadapi tantangan. Namun, bagi Ny. Dyah Fandy Dharmawan, wastra tidak sekadar kain tradisional yang tersimpan, melainkan identitas yang terus hidup dan berkembang.
Melalui inovasi bertajuk strap tas wastra, ia menghadirkan pendekatan baru dalam pelestarian budaya. Kain tenun dan songket yang sarat makna dipadukan dengan material modern, seperti kulit vegan, untuk menghasilkan aksesori yang tidak hanya estetis, tetapi juga fungsional bagi gaya hidup masa kini.
Produk ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berhenti pada bentuk lama. Sebaliknya, ia dapat bertransformasi menjadi bagian dari tren tanpa kehilangan nilai filosofisnya.
Ny. Dyah Fandy Dharmawan, yang juga menjabat sebagai Ketua Persit KCK Ranting 3 Yonif 321 Cabang XI Brigif 13 Kostrad, dikenal aktif mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis budaya. Karya Strap Wastra Nusantara yang ia kembangkan terinspirasi dari semangat pelestarian yang digagas oleh Ibu Herawati Boediono.
Menurut Dyah, setiap helai wastra menyimpan cerita dan filosofi yang layak dihadirkan dalam kehidupan modern. Karena itu, produknya dirancang fleksibel sehingga dapat digunakan dalam acara formal maupun kegiatan kasual.
Karya tersebut juga mendapat perhatian dalam berbagai kesempatan. Ketua Persit KCK Koorcab Divif 1 PG Kostrad, Ny. Ira Fikri Musmar, bahkan berkesempatan mencoba langsung produk tersebut.
Inovasi ini rencananya akan diperkenalkan lebih luas dalam Pameran Nasional “Persit Bisa 2” yang digelar pada 7-9 Mei 2026 di Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta. Pameran tersebut menghadirkan berbagai produk UMKM binaan Persit Kartika Chandra Kirana dari seluruh Indonesia, disertai rangkaian kegiatan seperti talkshow, peragaan busana, hingga pertunjukan seni.
Melalui karya ini, wastra tidak lagi sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari masa depan yang hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi hari ini.(*)
Kontributor: Johannes ‘Barat” Doblang
Editor: Abdel Rafi








