Borobudur Masuk TK, Harapan Baru Pendidikan Karakter

Para pembicara Seminar “Membangun Karakter dan Jati Diri Anak Bangsa: Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Warisan Budaya Sound of Borobudur” menerima cinderamata dalam acara yang digelar, Senin (4/5/2026), di Auditorium Yayasan Baitul Bestari Malik, Bojongsari, Depok.(foto: Bachtiar Dj)

DEPOK, CAKRAWARTA.com – Di tengah kekhawatiran akan memudarnya karakter anak-anak di era digital, sebuah pendekatan baru mulai dirintis: membawa warisan budaya ke ruang kelas pendidikan anak usia dini. Dari Candi Borobudur, harapan itu kini menemukan jalannya, masuk hingga ke tingkat taman kanak-kanak.

Upaya tersebut mengemuka dalam Seminar “Membangun Karakter dan Jati Diri Anak Bangsa: Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Warisan Budaya Sound of Borobudur” yang digelar, Senin (4/5/2026), di Auditorium Yayasan Baitul Bestari Malik, Bojongsari, Depok.

Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional sekaligus rangkaian Siti Maryam School Fiesta 2026 yang diselenggarakan oleh TK Siti Maryam, lembaga pendidikan yang berdiri sejak 2024 di bawah naungan Yayasan Baitul Bestari Malik.

Direktur PAUD Kemendikdasmen RI, Kurniawan, menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya merupakan kebutuhan mendesak di tengah perubahan zaman. “Kita perlu menghadirkan kembali akar budaya dalam pendidikan. Anak-anak harus tumbuh dengan jati diri yang kuat agar tidak kehilangan arah,” ujarnya.

Menurut dia, pemanfaatan situs budaya seperti Borobudur bukan sekadar pengenalan sejarah, melainkan bagian dari strategi membangun karakter sejak dini. “Borobudur adalah sumber belajar yang hidup—ia menyimpan nilai, filosofi, dan identitas bangsa,” katanya.

Gagasan tersebut diwujudkan melalui gerakan Sound of Borobudur, yang mengangkat kembali kekayaan budaya dari relief-relief Borobudur. Lebih dari 200 relief alat musik yang terukir di dinding candi menjadi titik awal rekonstruksi instrumen musik kuno Nusantara.

Musisi senior Trie Utami menjelaskan, budaya perlu dihadirkan secara konkret dalam kehidupan anak. “Budaya bukan sekadar simbol, tetapi cara hidup. Ketika anak-anak memainkan alat musik dari Borobudur, mereka sedang belajar merasakan identitasnya sendiri,” ujarnya.

Instrumen-instrumen tersebut mulai dari dawai, tiup, hingga perkusi, kini direkonstruksi dan digunakan sebagai media pembelajaran, termasuk di tingkat PAUD. Anak-anak tidak hanya mengenal, tetapi juga mengalami langsung nilai-nilai budaya melalui praktik.

Musisi sekaligus penggerak Sound of Borobudur, Purwa Tjaraka, menilai pendekatan ini memiliki kekuatan membangun kesadaran kolektif. “Ketika alat-alat musik ini dimainkan kembali, kita tidak hanya menghidupkan bunyi, tetapi juga memori peradaban,” ujarnya.

Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini juga menjawab kegelisahan atas kecenderungan pembelajaran yang terlalu menitikberatkan aspek akademik. Gallah Akbar Mahardhika menyoroti bagaimana tekanan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung kerap menggeser pembentukan karakter.

“Padahal, di usia dini, yang paling penting adalah membangun empati, kemandirian, dan tanggung jawab. Budaya bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk itu,” ujarnya.

Pandangan akademis disampaikan oleh Melani Budianta yang menekankan pentingnya pendekatan sederhana namun bermakna dalam pendidikan budaya. Ia mengingatkan, budaya harus hadir dalam keseharian anak, bukan berhenti pada simbol atau hafalan.

Menurut dia, satu objek sederhana dapat menjadi media pembelajaran yang kaya makna. Dari sana, anak dapat memahami keterkaitan antara dirinya, lingkungan, dan bangsanya secara utuh, sebuah pendekatan yang sejalan dengan konsep “deep learning”.

Pengalaman praktik di lapangan disampaikan Kepala TK Siti Maryam, Sigit Subiyanto. Ia menyebut penerapan pembelajaran berbasis budaya, termasuk Sound of Borobudur, mulai menunjukkan hasil positif.

“Anak-anak menjadi lebih percaya diri dan mulai menunjukkan rasa bangga terhadap budayanya. Pembelajaran terasa lebih hidup karena mereka mengalami langsung,” ujarnya.

Seminar ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi, antara lain perlunya memasukkan unsur budaya secara lebih substantif dalam kurikulum PAUD, serta menjadikannya sebagai medium utama dalam pembentukan karakter, bukan sekadar pelengkap.

Di tengah tantangan zaman, langkah membawa Borobudur ke ruang kelas TK menghadirkan harapan baru. Bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecakapan, tetapi juga menumbuhkan rasa yaitu rasa memiliki, rasa bangga, dan kesadaran menjadi bagian dari bangsa yang berakar kuat pada budayanya.(*)

Kontributor: Bachtiar dj

Editor: Abdel Rafi