
Ada ironi yang menyayat nurani ketika kita menatap reruntuhan Pondok Pesantren Kyai Sholeh di Banyuwangi. Di atas puing-puing atap yang roboh dan dinding yang tak lagi mampu melindungi dari terik matahari dan guyuran hujan itu, dulunya bergema suara lantang para pendiri bangsa. Di sanalah, pada tahun 1934, lahir Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) sebagai sayap pemuda NU. Di sanalah pula, semangat keislaman dan keindonesiaan dirumuskan untuk membela kemerdekaan dan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Kondisi mengenaskan yang terjadi saat ini bukan sekadar masalah kerusakan bangunan fisik; ini merupakan simbol pengabaian terhadap akar sejarah kita sendiri.
Pondok Pesantren Kyai Sholeh bukan sekadar gedung tua. Ia adalah “Tanah Suci” bagi gerakan Ansor dan NU.
Pertama, Titik Nol Gerakan Pemuda. Deklarasi berdirinya Ansor di lokasi ini menjadikannya saksi bisu transformasi pemuda NU dari kalangan santri tradisional menjadi kekuatan sosial-politik yang moderat dan militan.
Kedua, Laboratorium Pergerakan. Di pondok ini, para kiai dan pemuda merancang strategi menghadapi kolonialisme dan mempertahankan identitas Islam Nusantara.
Ketiga, Simbol Keberlanjutan. Menjaga pondok ini berarti menjaga mata rantai sanad perjuangan dari generasi 1934 hingga hari ini.
Tragedi “Rumah Sendiri yang Dibiarkan Roboh”
Sangat memilukan ketika organisasi sebesar NU dan GP Ansor, yang kini memiliki jutaan anggota dan pengaruh politik signifikan, membiarkan “rumah kelahiran” mereka berada dalam kondisi memprihatinkan.
Atap yang roboh adalah metafora nyata dari bagaimana kita kerap kali gagal melindungi “payung” sejarah kita sendiri. Jika atap saja tidak bisa kita perbaiki, bagaimana kita berharap bisa melindungi umat dari badai zaman?
Dinding yang kehujanan dan kepanasan, mencerminkan ketidaknyamanan sejarah kita. Para pendahulu kita berjuang dalam keterbatasan namun penuh visi, sementara kita yang hidup dalam kelimpahan justru membiarkan warisan mereka hancur dimakan waktu.

Apakah kita menunggu sampai tidak ada satu pun bata yang tersisa baru menyadari kehilangannya? Apakah kita akan membangun monumen megah di tempat lain sambil membiarkan situs asli, tempat di mana roh perjuangan itu benar-benar bersemayam, menjadi tumpukan puing?
Kondisi ini harus menjadi alarm darurat bagi seluruh warga NU, khususnya GP Ansor di seluruh cabang dan komisariat, dengan melakukan gerakan nasional penyelamatan. Jangan tunggu instruksi pusat. Setiap cabang Ansor dan LPNU harus bergerak menggalang dana, tenaga, dan keahlian untuk revitalisasi segera. Ini bukan soal siapa yang paling berjasa, tetapi soal tanggung jawab kolektif.
Kedua, melakukan revitalisasi bermartabat. Pemugaran tidak boleh sembarangan. Harus melibatkan ahli cagar budaya untuk memastikan keaslian bentuk tetap terjaga, namun fungsinya dihidupkan kembali sebagai museum hidup, pusat kajian sejarah, dan tempat ziarah intelektual.
Semua yang kita lakukan ini adalah bukti cinta, bukan hanya seremonial. Seringkali kita ramai-ramai mengadakan haul atau seminar sejarah, tetapi situs fisiknya dibiarkan lapuk. Mari buktikan cinta kita pada sejarah dengan tindakan nyata: memasang kembali atap yang roboh itu.
Membiarkan Pondok Pesantren Kyai Sholeh hancur adalah dosa sejarah yang akan dicatat oleh generasi mendatang. Mereka akan bertanya, “Mengapa kalian membiarkan tempat lahirnya Ansor runtuh, padahal kalian mengaku sebagai penerus perjuangannya?”
Mari segera bangkit. Perbaiki atapnya, kokohkan dindingnya, dan hidupkan kembali ruhnya. Jangan biarkan sejarah kelahiran Ansor hanya tinggal cerita lisan yang semakin lama semakin pudar, sementara bukti fisiknya hilang ditelan kelalaian. Selamatkan Pondok Kyai Sholeh sekarang, sebelum penyesalan datang terlalu lambat.(*)
KHAIRIL ANWAR
Ahli Pelestari Cagar Budaya dan Wakil Sekretaris PCNU Bawean periode 2005-2010








