
BANYUWANGI, CAKRAWARTA.com – Puluhan sastrawan dan pecinta sastra di Banyuwangi berkumpul di Sanggar Seni Langgar Art, Selasa (14/4/2026). Melalui gelaran bertajuk Rubaiyat Hormuz, mereka melantunkan puisi sebagai bentuk sikap dan suara kemanusiaan atas memanasnya situasi geopolitik di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.
Kegiatan yang diinisiasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Banyuwangi ini menjadi ruang bersama untuk menyuarakan keprihatinan sekaligus merawat empati di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Kita berdiri di atas nilai-nilai kemanusiaan. Ketika sebuah negara berdaulat diserang dengan alasan yang tidak menentu, nurani kemanusiaan kita terpanggil,” ujar Ketua MWCNU Banyuwangi, Barur Rohim dalam keterangannya pada media ini, Rabu (15/4/2026).
Menurut Barur, gejolak di kawasan Hormuz tidak hanya menjadi isu regional, melainkan persoalan global yang dampaknya dapat dirasakan hingga ke berbagai belahan dunia, termasuk masyarakat di daerah. Karena itu, respons kemanusiaan perlu terus disuarakan, salah satunya melalui medium kebudayaan.
“Puisi menjadi salah satu cara untuk menyampaikan sikap. Ini adalah bahasa kemanusiaan yang melampaui batas geografis, agama, maupun kepentingan politik,” katanya.
Pembacaan puisi diikuti beragam komunitas, antara lain Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan, Lentera Sastra, HISKI Banyuwangi, Forum 28, serta sejumlah badan otonom NU Banyuwangi Kota.
Para peserta secara bergantian membacakan karya, mulai dari puisi klasik Persia hingga karya kontemporer yang merespons situasi global. Salah satunya, puisi berjudul Nadi Kecil karya Muttafaqur Rohmah dari Forum 28 Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.
“Hormuz memang bukan sekadar selat/ ia seperti nadi kecil di tubuh dunia yang besar/ tidak selalu terlihat/ tetapi terasa,” lantunnya.
Getaran konflik global itu, menurut para peserta, bahkan dapat menjangkau kehidupan lokal. Hal tersebut tergambar dalam puisi “Doa Petani Banyuwangi” karya Gus Fathan yang memotret dampak tidak langsung konflik terhadap kehidupan petani.
“Ketika selat yang jauh itu bergejolak/ tanahku ikut bergetar/ harga pupuk pun melambung,” ucapnya, diiringi musik akustik.
Melalui puisi, para sastrawan Banyuwangi tidak hanya mengekspresikan kegelisahan, tetapi juga mengingatkan bahwa di tengah pusaran konflik global, nilai kemanusiaan harus tetap menjadi pijakan utama.(*)
Editor: Abdel Rafi








