
“Perang di Irak dan Afghanistan adalah perang setiap warga negara AS sama seperti perang para veteran. Jika kita tidak menganggap bahwa warga sipil memiliki kepemilikan dan tanggung jawab moral yang sama seperti yang kita miliki sebagai sebuah bangsa ketika kita memulai sesuatu seperti itu, maka kita berada dalam situasi yang sangat buruk.” — Phil Klay (43), seorang veteran Korps Marinir Amerika, dalam Missionaries (2020)
Sedikit kilas baik. Bagaimana Amerika Serikat telah membukukan hasil perangnya selama lebih 100 tahun ini?
Keterlibatan Amerika dalam perang membukukan hasilnya berikut:
Perang Kemerdekaan (1775-1783): Amerika berhasil merdeka dari Inggris, ini dianggap kemenangan besar pertama.
Perang 1812 melawan Inggris: Berakhir tanpa pemenang jelas, tetapi Amerika mempertahankan kedaulatannya.
Perang Saudara (1861–1865): Dimenangkan oleh pihak Union, menghasilkan penghapusan perbudakan.
Perang Spanyol-Amerika (1898): Amerika menang, memperoleh kendali atas Filipina, Guam, dan Puerto Riko.
Perang Dunia I (1917–1918): Amerika bergabung di pihak Sekutu, hasilnya kemenangan Sekutu.
Perang Dunia II (1941-1945): Amerika kembali di pihak Sekutu, kemenangan besar melawan Jerman dan Jepang.
Perang Korea (1950-1953): Berakhir dengan gencatan senjata, tidak ada kemenangan mutlak; Korea tetap terbagi.
Perang Vietnam (1955-1975): Amerika gagal, ditarik mundur, Vietnam jatuh ke tangan komunis.
Perang Teluk (1990-1991): Amerika dan koalisi menang cepat, Irak dipaksa keluar dari Kuwait.
Perang Afghanistan (2001-2021): Berakhir dengan penarikan pasukan AS, dianggap kegagalan karena Taliban kembali berkuasa.
Perang Irak (2003-2011): Amerika berhasil menggulingkan Saddam Hussein, tetapi stabilitas jangka panjang gagal tercapai; hasilnya dianggap kontroversial.
Simpulan sementara, Amerika memang sering menang dalam perang konvensional besar seperti Perang Dunia I dan II, tetapi dalam perang gerilya atau konflik panjang seperti Vietnam dan Afghanistan, hasilnya lebih sering dianggap kegagalan.
Pola ini menunjukkan bahwa kemenangan Amerika biasanya jelas dalam perang antar negara dengan front militer tradisional, tetapi tidak konsisten dalam perang asimetris melawan gerilya atau terorisme.
Kini, aktor perangnya Amerika seorang pebisnis tulen dan selebriti flexing, Donald Trump (76).
Mari silak sekelias biografi ringkas dan mutakhir dari Donald Trump yang ditulis oleh Fariza Calista dan terbit pada 10 Januari 2026.
Ia memberikan gambaran ringkas tentang perjalanan hidup Trump dari masa kecilnya di Queens hingga kiprahnya sebagai pengusaha, tokoh televisi, dan akhirnya Presiden Amerika Serikat.
Buku ini menekankan sisi kontroversial Trump, gaya komunikasinya yang keras, serta kebijakan-kebijakan yang memengaruhi politik domestik dan internasional.
Namun, ketika meninjau sejarah panjang perang Amerika, jelas bahwa keterlibatan negara ini dalam konflik global tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik yang lebih luas, bahkan tanpa mengaitkannya langsung dengan figur Trump.
Sejarah perang Amerika menunjukkan pola yang berulang yaitu kemenangan besar dalam perang konvensional antar negara, seperti Perang Dunia I dan II.
Akan tetapi, kegagalan dalam perang asimetris melawan gerilya atau terorisme, seperti Vietnam dan Afghanistan.
Karena itu, Perang Kemerdekaan menjadi tonggak lahirnya Amerika sebagai negara merdeka. Menyusul Perang Saudara menghapus perbudakan, dan Perang Spanyol-Amerika menandai ekspansi global.
Namun, Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata, Vietnam dengan kekalahan, dan Afghanistan dengan penarikan pasukan yang membuka jalan bagi kembalinya Taliban.
Pola ini menegaskan bahwa kekuatan militer besar tidak selalu menjamin kemenangan, terutama ketika berhadapan dengan konflik panjang yang kompleks.
Merujuk Novel 2034: A Novel of the Next World War (2021) karya Elliot Ackerman dan James Stavridis, memperkuat pandangan kritis ini dengan menggambarkan perang fiksi antara Amerika dan Tiongkok yang berakhir tanpa pemenang sejati.
Perang hibrida yang melibatkan serangan siber, konflik maritim, dan eskalasi nuklir menunjukkan bahwa teknologi mutakhir sekalipun tidak mampu menghasilkan kemenangan, melainkan kehancuran bersama.
Karakter-karakter multiperspektif dalam novel itu menegaskan bahwa perang modern tidak hanya ditentukan oleh tentara, tetapi juga oleh diplomat, teknokrat, dan pakar siber, sehingga kompleksitasnya jauh melampaui perang tradisional.
Kritik terhadap perang Amerika juga muncul dari karya Craig Whitlock dalam The Afghanistan Papers: A Secret History of the War (2021) yang mengungkap bagaimana perang Afghanistan penuh dengan kebohongan publik dan salah urus strategi.
Dokumen internal yang ditampilkan menunjukkan bahwa pejabat Amerika sering menyembunyikan fakta dari masyarakat, sehingga perang berlangsung selama dua dekade tanpa arah jelas.
Hal ini memperlihatkan bahwa kegagalan bukan hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam komunikasi politik dan pengambilan keputusan.
Dari tinjauan kritis ini, dapat disimpulkan bahwa sejarah panjang perang Amerika, baik dalam kenyataan maupun dalam fiksi, memperlihatkan keterbatasan kekuatan militer sebagai alat dominasi.
Kemenangan hanya jelas ketika berhadapan dengan negara dengan struktur militer formal, tetapi dalam perang gerilya, konflik ideologi, atau perang hibrida modern, hasilnya lebih sering berupa kompromi, kegagalan, atau kehancuran bersama.
Lebih jauh, analis-analis internasional terbaru memperlihatkan bagaimana Trump menghadapi Iran dengan strategi yang keras dan penuh tekanan.
Michael Froman dari Council on Foreign Relations (CFR) dalam artikelnya Iran Is a Test of Trump’s National Defense Strategy (30 Januari 2026), menilai bahwa Iran menjadi ujian nyata bagi strategi pertahanan nasional Trump, dengan ancaman militer dan tekanan ekonomi sebagai instrumen utama.
Pendekatan ini menekankan ketidakpastian untuk memaksa Iran tunduk, lebih berorientasi pada demonstrasi kekuatan daripada kompromi jangka panjang.
Sementara itu, Dr. Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara, dari Chatham House dalam Trump’s objective is to force Iran into strategic submission (16 Januari 2026), menyoroti bahwa Trump sengaja menjaga ketegangan dengan Iran melalui ancaman serangan militer, terutama setelah gelombang protes besar di dalam negeri Iran.
Ia menilai bahwa Trump menggunakan tekanan dan ketidakpastian sebagai alat untuk mengubah kelemahan Iran menjadi keuntungan strategis bagi Amerika, dengan ancaman kekerasan tetap berada di meja.
Jika dibandingkan dengan sejarah panjang perang Amerika, sikap Trump terhadap Iran menunjukkan konsistensi dalam penggunaan kekuatan sebagai alat utama, tetapi dengan intensitas ancaman yang lebih terbuka dan eksplisit.
Amerika di masa lalu sering mengandalkan kekuatan militer dalam perang konvensional, sementara Trump menekankan ancaman militer dan tekanan ekonomi sebagai strategi diplomasi keras.
Perbedaan ini memperlihatkan bahwa Trump tidak sekadar melanjutkan pola lama, melainkan memperkuatnya dengan retorika yang lebih konfrontatif.
Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh pengamat internasional, pendekatan semacam ini berisiko memperburuk ketegangan regional dan membuka kemungkinan eskalasi yang tidak terkendali.
Dengan demikian, analisis banding antara sejarah perang Amerika tanpa Trump dan sikap Trump terhadap Iran menunjukkan bahwa meskipun Amerika memiliki tradisi panjang dalam menggunakan kekuatan militer, Trump menambahkan dimensi baru berupa diplomasi berbasis ancaman yang eksplisit.
Sejarah membuktikan bahwa kemenangan Amerika lebih jelas dalam perang konvensional, sementara Trump menghadapi tantangan dalam perang modern yang lebih kompleks, di mana ancaman dan tekanan tidak selalu menghasilkan hasil yang stabil.
Kritik ini menegaskan bahwa strategi berbasis kekuatan semata, baik dalam sejarah maupun dalam kebijakan Trump, tetap menghadapi keterbatasan besar ketika berhadapan dengan realitas geopolitik yang dinamis.
Amerika, dengan segala ambisinya, tetap menghadapi paradoks bahwa kekuatan besar tidak selalu berarti kemenangan, dan sejarahnya menjadi cermin bagi dunia tentang risiko ambisi militer yang tidak terkendali.
#coversong: Lagu American Dream oleh Adhes dan Gabbie June dalam versi sped up/nightcore resmi dirilis pada 15 Mei 2024 di bawah label NFFA Records. Liriknya ditulis oleh Gabbie June sendiri dan berfokus pada tema American Dream sebagai simbol ambisi, harapan, dan pencarian kebebasan yang sering kali dikaitkan dengan kehidupan modern di Amerika.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



