Tuesday, March 24, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomWarga Iran Membakar Baal dan Bintang Daud

Warga Iran Membakar Baal dan Bintang Daud

(foto:diunggah dari kanal Youtube Tribun dan cover buku Baal Cycle)

Cyrus Agung: “Akulah Cyrus, raja alam semesta, raja yang agung, raja yang perkasa, raja Babilonia, raja Sumeria dan Akkad, raja empat penjuru dunia.” — Jaime Alvar Ezquerra (70), dalam History’s first superpower sprang from ancient Iran yang terbit di National Geographic pada 6 Januari 2020

Iran itu, kini wujud tangguh dari peradaban kuno besar: Persia.

Ia memiliki pasang surut sejarah tanpa meninggalkan karakter sejatinya sebagai bangsa tangguh yang telah muncul ribuan tahun sebelum masehi.

Karena itu, penjelmaan mutakhir Persia Kuno sebagai Iran hari ini mencakup warisan bertaut kuat dengan Islam sejak abad ketujuh.

Jika Iran hari ini muncul sebagai kekuatan simbiosis peradaban, itu justru menunjukkan wujud mutakhirnya sebagai representasi peradaban Islam kontemporer yang paling mutualistik.

Sementara, Israel dan Amerika bukanlah bangsa dari otentitas dari warisan peradaban tertentu. Mereka hanyalah produk kebudayaan kolonial yang mengadopsi karakter kasar dari warisan Yunani-Yudeo-Helenis.

Terbukti, simbol-simbol sejarah yang ditampakkan dalam sejarah oleh bangsa Israel dan Amerika adalah campuran kasar (savage) dari adopsi kurang otentik antara warisan Yunani-Yudeo-Helenis yang bercampur dan tercangkok dengan bid’ah sekularisme yang buram.

Mari ditengok sejenak cara warga Iran hari ini dalam protes menentang agresi Amerika Israel.

Pada 11 Februari 2026, tepat peringatan ke-47 Revolusi Islam, massa di Tehran dan kota besar lain berkumpul di sekitar Menara Azadi untuk menegaskan kembali sikap anti Israel dan anti Amerika.

Effigy bertanduk bertuliskan “Baal” dibakar di depan publik dengan Bintang Daud ditempelkan sebagai lambang Israel.

Pembakaran effigy “Baal” dengan tanda Bintang Daud pada bendera Israel dalam peringatan Revolusi Islam di Iran bukanlah ritual keagamaan, melainkan sebuah aksi politik yang sarat simbolisme.

Api dalam konteks ini dipakai sebagai simbol pemurnian dan penghancuran lawan, sebuah ekspresi visual yang menegaskan penolakan total terhadap kekuatan yang dianggap musuh ideologis.

Penggunaan nama Baal dalam aksi tersebut menarik karena Baal berasal dari tradisi mitologis Ugarit, sebagaimana tercatat dalam Baal Cycle yang ditulis oleh Ilimilku sekitar 1300-1100 SM.

Dalam mitos itu, Baal adalah dewa badai dan kesuburan yang berjuang melawan Yam, dewa laut, dan Mot, dewa kematian.

Ia mengalami kematian sementara. Bumi menjadi tandus, lalu bangkit kembali sebagai simbol siklus hidup dan keteraturan kosmik.

Bagi masyarakat Kanaan kuno, Baal adalah pusat kehidupan agraris, bukan figur jahat.

Namun dalam konteks politik Iran, nama Baal dipakai sebagai metafora berhala atau kekuatan jahat yang harus ditolak, sehingga terjadi pergeseran makna dari mitologis ke politis.

Sementara itu, Bintang Daud yang ditempelkan pada effigy memiliki sejarah yang berbeda sama sekali.

Seperti ditelusuri oleh Dr. Robert A. Norman dalam Star of David: A Popular History of the Mysterious Hexagram (2016), hexagram bukanlah simbol eksklusif Yahudi sejak awal.

Ia muncul dalam berbagai tradisi lintas agama dan budaya, dari Kristen hingga Islam, dari Buddhisme hingga filsafat Timur, sebagai lambang harmoni dan keseimbangan.

Baru pada abad ke‑20, terutama setelah Holocaust, hexagram menjadi identitas kuat Yahudi dan akhirnya diadopsi sebagai simbol resmi negara Israel.

Dengan demikian, ketika warga Iran dalam aksi protes menempelkan Bintang Daud pada effigy Baal, mereka menggabungkan dua simbol yang berasal dari jalur tradisi berbeda untuk menciptakan narasi politik yang menegaskan Israel sebagai musuh ideologis.

Kritik atas penggunaan simbol ini dapat dirujuk pada tradisi metafisika Persia sebagaimana dibahas oleh Muhammad Iqbal (1877-1938) dalam The Development of Metaphysics in Persia (1908).

Iqbal menekankan bahwa api dalam Zoroastrianisme bukanlah dewa penghukum, melainkan manifestasi ilahi dari Asha, kebenaran dan keteraturan kosmik.

Api adalah medium penyucian dan lambang kehadiran Ahura Mazda, bukan alat untuk membakar lawan.

Dalam tradisi Persia kuno, api adalah simbol kesucian dan keteraturan serta berbeda dengan cara api dipakai dalam demonstrasi politik modern sebagai alat penghancuran simbolik.

Perbandingan dengan tradisi lain memperkuat perbedaan ini yaitu dalam Veda India, api dipersonifikasikan sebagai Agni, dewa perantara ritual.

Sementara, dalam filsafat Yunani kuno, api adalah unsur kosmos yang melambangkan energi dan perubahan.

Zoroastrianisme menempatkan api sebagai kekuatan kosmik yang menjaga keseimbangan moral, bukan sebagai senjata ideologis.

Dengan demikian, aksi pembakaran effigy Baal dengan Bintang Daud di Iran adalah konstruksi politik yang memanfaatkan simbol kuno untuk tujuan kontemporer.

Baal, yang dalam mitos Kanaan adalah dewa kesuburan, diubah menjadi lambang berhala jahat dan Bintang Daud, yang dalam sejarah panjangnya adalah simbol lintas budaya, dipersempit menjadi identitas Israel.

Api, yang dalam tradisi Persia adalah lambang kesucian, dipakai sebagai alat penghancuran simbolik.

Ketiganya menunjukkan bagaimana simbol kuno dapat direkontekstualisasi dalam politik modern, tetapi juga membuka ruang kritik bahwa makna asli mereka telah bergeser jauh dari akar tradisi.

#coversong: “Attack Of The Persians“(The Battle of Thermopylae)” adalah musik epik historis yang dirilis pada 10 Desember 2025 oleh label Records DK melalui DistroKid. Karya ini menggambarkan secara musikal peristiwa legendaris pertempuran Thermopylae (480 SM), ketika pasukan Persia berhadapan dengan pasukan kecil Sparta dan sekutu Yunani.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular