Friday, March 20, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomEsai Ramadan (30): Merayakan Kembalinya Arketipe Kefitraan

Esai Ramadan (30): Merayakan Kembalinya Arketipe Kefitraan

(foto: diunggah dari kanal Youtube Surah Al Fll Heart Touching Recitation | Zikrullah Tv Sponsored • Zikrullah TV; @WisdomActivation Subscribe Carl Jung’s Hidden Teachings: Archetypes dan The Seven Archetypes in Islamic History | Dr. Nazeer Ahmed (Part 7) MCC East Bay (Muslim Community Center)

Fa-aqim wajhaka li-ddīni ḥanīfan, fiṭrata llāhi allatī faṭara n-nāsa ʿalayhā, lā tabdīla li-khalqi llāh, dhālika d-dīnu l-qayyimu walākinna akthara n-nāsi lā yaʿlamūn.”

Translasi:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” — QS Ar-Rum: 30.

Ketika puasa mendekati akhir, suasana hati tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun, kecuali oleh aroma kue dari tetangga atau pemandangan jutaan manusia yang bermudik.

Semua tahu bahwa ujung dari berpuasa sebulan penuh adalah pencapaian spiritual, la allakun tattaqun, dan kembali kepada kefitraan sebagai denyut jantung iman.

Merayakan kembalinya arketipe kefitraan adalah sebuah perenungan yang menyatukan pengalaman spiritual Ramadan dengan gagasan universal tentang kesucian dan simbol primordial manusia.

Fitra, yang berasal dari akar kata Arab fa-ṭa-ra dengan makna etimologis “membelah, menciptakan, atau memulai sesuatu dari asal“, yang menunjuk pada disposisi alami manusia sejak awal penciptaannya.

Ia adalah kodrat, naluri, dan konstitusi bawaan yang mengarahkan manusia kepada kebenaran dan pengakuan akan Tuhan.

Al-Qur’an menegaskan hal ini dalam Surah Ar-Rum ayat 30, bahwa fitrah Allah adalah keadaan asli manusia yang selaras dengan tauhid.

Dalam tradisi Islam, fitra dipahami sebagai keadaan suci, bebas dari dosa, dengan kecenderungan mengenal Allah, serta kesadaran moral tentang benar dan salah.

Perjanjian primordial (primordial covenant) dalam Surah Al-A’raf ayat 172-173 memperkuat gagasan bahwa setiap anak Adam telah bersaksi atas ketuhanan Allah sebelum lahir ke dunia, sehingga fitra menjadi kerangka yang menjelaskan disposisi bawaan menuju kebaikan dan tanggung jawab moral.

Refleksi ini semakin relevan ketika dikaitkan dengan kajian akademik mutakhir.

Mengacu pada Returning to Fitra: Reclaiming Human Nature in the Age of Social Decline (International Journal of Education, Psychology and Counselling edisi Juni 2025) yang ditulis oleh Azreen Zuhairi Abu Bakar, Nor Athirah Mohamed Indera Alim Shah, dan Zakiah Abul Khassim, fitra disoroti sebagai disposisi alami manusia dalam menghadapi krisis moral modern.

Dengan metode scoping review, mereka menunjukkan bahwa arus materialisme dan individualisme telah menjauhkan manusia dari fitrahnya, sehingga pendidikan dan psikologi Islam berperan penting dalam proses kembali kepada disposisi asli.

Artikel ini menegaskan bahwa solusi atas masalah sosial tidak cukup hanya struktural, melainkan harus menyentuh dimensi spiritual manusia.

Sejalan dengan itu, Muhammad Turiansyah dan Herman Darmawan dalam The Concept of Fitrah in Islam from a Multidimensional Perspective (2023) menekankan peran manusia sebagai hamba Allah dan wakil-Nya di bumi, sehingga fitra menjadi fondasi tanggung jawab sosial dan kepemimpinan.

G. Hussein Rassool dalam The Fitrah: Spiritual Nature of Human Behaviour (2024) menambahkan dimensi psikologi spiritual, bahwa fitra dapat menjadi dasar dalam psikoterapi untuk membantu penyembuhan dan keseimbangan mental.

Ketiga publikasi ini menunjukkan bahwa fitra bukan hanya konsep teologis, melainkan kerangka multidisipliner yang relevan bagi pendidikan, psikologi, dan spiritualitas.

Jika ditelisik lebih jauh, gagasan fitra dapat dikomparasikan dengan konsep arketipe dari Carl Gustav Jung (1875-1961).

Jung, seorang psikiater Swiss, memperkenalkan arketipe sebagai pola universal dari collective unconscious.

Dalam Four Archetypes: Mother, Rebirth, Spirit, Trickster (Terjemahan 2020), ia menguraikan figur simbolis mendasar yang membentuk pengalaman manusia.

Arketipe Ibu melambangkan sumber kehidupan dan perlindungan, arketipe Kelahiran Kembali (rebirth) menekankan siklus transformasi, arketipe Roh menghubungkan manusia dengan makna spiritual, dan arketipe Penipu menghadirkan paradoks yang membuka kesadaran baru.

Jung menulis bahwa arketipe adalah bentuk kolektif yang muncul di seluruh bumi sebagai unsur mitos sekaligus produk asli dari alam bawah sadar.

Dengan demikian, arketipe menjadi simbol universal yang menyingkap dimensi terdalam manusia, mirip dengan gagasan fitra sebagai disposisi bawaan menuju kebenaran.

Gagasan ini semakin kaya bila dibandingkan dengan Rudolf Otto (1869-1937), teolog Jerman yang melalui The Idea of the Holy (1958) merumuskan konsep “the numinous” sebagai inti pengalaman religius.

Secara etimologis, kata numinous muncul pada abad ke-17 dari akar Latin numen, yang awalnya berarti “nod” atau gerakan kepala sebagai tanda persetujuan, lalu dalam pengertian figuratif menunjuk pada “kehendak ilahi, perintah ilahi, atau keagungan.”

Otto memberi istilah ini makna baru dalam konteks teologi dan fenomenologi agama, menjadikannya istilah teknis untuk menggambarkan pengalaman religius yang unik.

Otto menekankan bahwa kesucian bukan sekadar kategori etis atau rasional, melainkan pengalaman eksistensial yang melampaui akal.

Ia menggambarkannya dengan istilah “mysterium tremendum et fascinans“, misteri yang menimbulkan rasa takut sekaligus memikat.

Menurut Otto, pengalaman terhadap yang suci bersifat irasional namun tetap nyata dan mendasar dalam kehidupan religius manusia.

Dengan gagasan ini, Otto membuka jalan bagi fenomenologi agama dan menegaskan bahwa agama harus dipahami sebagai pengalaman eksistensial yang menyentuh dimensi terdalam manusia.

Merayakan kembalinya arketipe kefitraan berarti merayakan kedalaman denyut spiritual yang universal.

Ia hadir dalam tradisi Islam melalui penemuan ulang inti kefitraan sebagai ekspresi otentik wujud sejati manusia,  fiṭrata llāhi allatī faṭara n-nāsa.

Dalam psikologi simbolik Jungian melalui arketipe sebagai kelahiran kembali (rebirth) dikatakan: “…bentuk atau citra yang bersifat kolektif yang muncul hampir di seluruh bumi sebagai unsur-unsur mitos dan sekaligus sebagai produk asli, individual, dan berasal dari alam bawah sadar.”

Sementara, menurut fenomenologi Otto melalui pengalaman numinous, bahwa yang suci “sebuah kategori interpretasi dan penilaian yang khas dalam bidang agama.”

Semua gagasan ini bertemu dalam satu titik reflektif: bahwa manusia memiliki disposisi bawaan menuju kebenaran, kesucian, dan transformasi.

Juga, bahwa pengalaman spiritual adalah inti yang menyatukan keberadaan manusia lintas budaya dan zaman.

#coversong: Karya “Archaic Procession: Arkaisk procession” dari Eva Feldbaek dirilis tahun 2002 sebagai bagian dari album Gudmundsen-Holmgreen: Organ Music dan merupakan interpretasi musik organ yang menekankan nuansa arkais atau kuno. Eva Feldbæk adalah seorang organis asal Denmark yang lahir di Denmark dan aktif sejak 1970-an sebagai pemain organ serta pengajar musik. Ia masih dikenal aktif dalam dunia musik, terutama melalui penampilan dan rekaman karya-karya komponis Denmark.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular