
MALANG, CAKRAWARTA.com – Terik matahari siang menyengat di Kelurahan Ardirejo, Kepanjen, Kabupaten Malang. Di sebuah lahan yang sedang dibangun menjadi Koperasi Merah Putih (KMP), belasan pekerja bangunan sibuk mengaduk semen, menyusun bata, dan mengangkat material. Debu beterbangan, keringat mengalir di wajah mereka.
Sebagian dari para pekerja itu sedang berpuasa.
Sejak pagi hingga sore, mereka bekerja menuntaskan pembangunan koperasi yang telah dimulai sekitar sebulan lalu. Proyek itu ditargetkan selesai dalam dua bulan ke depan.
Sebanyak 14 pekerja terlibat dalam pembangunan tersebut, dipimpin seorang mandor. Mereka sebagian besar berasal dari wilayah Malang Selatan, seperti Kromengan, Dampit, Kepanjen, hingga Sumberpucung.
Salah satu di antaranya adalah Sugianto (37), pekerja asal Kromengan. Lelaki itu sebenarnya bukan tukang bangunan tetap. Sehari-hari ia merantau sebagai pedagang kuliner di Kalimantan.
“Di Kalimantan saya berjualan nasi goreng, capcay, dan bakmi. Kami keliling dari pasar malam ke pasar malam lain, dari Kalimantan Timur sampai Kalimantan Utara,” kata Sugianto.
Menurut dia, penghasilan berdagang di perantauan sebenarnya lebih besar. Namun jarak yang jauh dari keluarga membuatnya memutuskan pulang kampung sementara waktu. Ketika pulang itulah ia mendapat tawaran untuk ikut bekerja membangun koperasi di Ardirejo.
“Pendapatan memang lebih banyak di sana, tapi kami jauh dari keluarga. Sekarang bekerja di sini dulu sampai pembangunan selesai, baru nanti kembali lagi ke Kalimantan,” ujarnya.
Dalam pekerjaan bangunan, para pekerja biasanya terbagi dalam dua kelompok, yakni tukang dan asisten tukang yang lebih akrab disebut kuli. Sugianto termasuk dalam kelompok terakhir, dengan penghasilan yang tidak sebesar tukang utama.
“Kalau tidak puasa biasanya saya membawa bekal dari rumah supaya bisa lebih hemat,” katanya.
Tak jauh dari lokasi pembangunan, hanya sekitar 30 meter, berdiri Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Kepanjen. Pada Jumat (13/3/2026), sekolah tersebut kembali menggelar kegiatan berbagi takjil bertajuk “Disabilitas Peduli Jilid 3.”
Ratusan paket takjil dan nasi kotak dibagikan kepada masyarakat menjelang waktu berbuka. Namun pada siang hari itu, perhatian panitia juga tertuju kepada para pekerja bangunan di seberang jalan.
Para pekerja yang sejak pagi bergelut dengan semen dan bata itu menjadi salah satu tujuan berbagi.
“Kami memang sengaja memilih berbagi kepada para pekerja KMP yang sangat dekat dengan sekolah kami,” kata panitia kegiatan, Hamzah Arribath.
Menurut Hamzah, berbagi kepada lingkungan terdekat merupakan wujud nyata kepedulian sosial. Dari tindakan kecil itulah hubungan kemanusiaan dapat terus dirawat.
“Berbagi di lingkungan sekitar adalah cara sederhana menumbuhkan kepedulian dan solidaritas. Dari situ muncul kebahagiaan, baik bagi yang memberi maupun yang menerima,” ujarnya.
Kepala SLB BC Kepanjen, Yulia Esti, menjelaskan kegiatan Disabilitas Peduli Ramadhan tahun ini telah dilaksanakan sebanyak tiga kali, yakni pada 27 Februari, 6 Maret, dan 13 Maret 2026.
Dalam tiga kegiatan tersebut, ratusan paket takjil dan nasi kotak dibagikan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. Ini menjadi wujud nyata kepedulian dan semangat berbagi di bulan suci Ramadhan,” katanya.
Pada kegiatan Jumat itu saja, sekitar 250 paket takjil dibagikan kepada masyarakat, termasuk kepada para pekerja pembangunan KMP serta warga yang melintas di Jalan A. Yani Kepanjen.
Yulia juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, antara lain Kementerian Agama Kabupaten Malang, para penyuluh KUA, Yayasan Kartika Mutiara, Pabrik Rokok Anak Sakti, CV PDM, Yatim Mandiri, para guru, wali murid, serta para donatur.
Dewan Pembina Yayasan Disabilitas Kartika Mutiara Pakisaji, Malang, Mayjen TNI Dr Farid Makruf, M.A., menilai kegiatan berbagi pada bulan Ramadhan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar memberi bantuan.
“Berbagi di bulan Ramadhan bukan hanya memberi bantuan materi, tetapi juga menyucikan jiwa, memupuk empati, dan memperkuat solidaritas sosial,” ujarnya.
Menurut Farid, tradisi berbagi pada bulan suci juga merupakan teladan langsung dari Rasulullah SAW, yang dikenal semakin dermawan ketika Ramadhan tiba.
Ketua Yayasan Wahana Bhakti Mulia, Didik Permadi, S.Pd., juga menyampaikan apresiasi atas kepedulian berbagai pihak terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.
“Terima kasih kepada semua pihak yang sudah peduli. Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut, terutama untuk memikirkan masa depan anak-anak setelah mereka lulus sekolah,” katanya.
Bagi para pekerja bangunan yang menjalani puasa di tengah terik matahari, takjil dari sekolah di seberang jalan itu mungkin hanya paket sederhana.
Namun dari tempat kecil itulah lahir sebuah pelajaran besar bahwa solidaritas tidak selalu datang dari tempat yang kuat, melainkan sering justru tumbuh dari mereka yang memahami arti keterbatasan.(*)
Editor: Tommy dan Abdel Rafi



