
“Dengan menggabungkan teori evolusi dengan kekayaan catatan budaya, ia mengeksplorasi pembentukan, kepunahan, dan diversifikasi berbagai agama dunia, termasuk banyak cabang siklisme Asia, politeisme, dan monoteisme.” — Lance Grande (75), The Evolution of Religions: A History of Related Traditions (2024)
Bicara evolusi ternyata bukan hanya soal teori besar transformasi biologi belaka seperti yang diteliti dan dibabarkan Charles Darwin (1809-1882) dalam Origin of Species (1859).
Dewasa ini, teori evolusi tersebut malahan tumbuh sebagai evolusi budaya dalam praktik agama dan keseharian aktivitas manusia dengan lingkungannya.
Salah satu rujukan untuk ulasan ini berasal dari The Evolution of Religions: A History of Related Traditions karya Lance Grande, yang menekankan bahwa keragaman agama di dunia dapat dipahami melalui pendekatan sistematika evolusioner yang memadukan teori biologi dengan catatan budaya.
Dengan latar belakang ilmuwan alam, Grande membawa perspektif unik ke dalam studi agama, menekankan bahwa agama tidak hanya fenomena spiritual, tetapi juga bagian dari evolusi budaya manusia.
Sebagai seorang evolutionary biologist dan kurator emeritus di Field Museum, Chicago, ia melihat agama sebagai fenomena yang tumbuh, bercabang, dan beradaptasi layaknya organisme dalam ekosistem budaya.
Ia menyoroti bagaimana nilai-nilai budaya memengaruhi arah perkembangan agama, baik dalam bentuk akulturasi maupun dalam proses diversifikasi tradisi keagamaan.
Grande menggunakan pendekatan sistematika evolusioner untuk menelusuri pertumbuhan, diversifikasi, dan hubungan historis antar tradisi agama, serta menggabungkan teori evolusi dengan catatan budaya untuk menjelaskan bagaimana agama-agama terbentuk, berkembang, dan kadang punah.
Namun, jika kita bergeser ke wilayah agama dalam praktik sehari-hari, menarik untuk melihat gejala evolusi dari tradisi budaya takjil.
Kata takjil berasal dari bahasa Arab ʿajjala (عَجَّلَ) yang berarti menyegerakan. Dilihat dari konteks praktik agama seperti puasa, istilah ini merujuk pada anjuran Nabi Muhammad SAW untuk menyegerakan (‘ajjala) berbuka ketika waktu Maghrib tiba.
Makna yang sederhana ini kemudian mengalami pergeseran ketika masuk ke dalam tradisi dan budaya bulan ramadan di Indonesia.
Dengan kata lain, takjil tidak lagi dipahami semata sebagai tindakan menyegerakan berbuka, melainkan identik dengan industri kreatif ihwal makanan dan minuman ringan yang disajikan untuk berbuka puasa.
Pergeseran makna ini, sebagaimana dimaksud Grande, menunjukkan bagaimana bahasa dan tradisi beradaptasi dengan konteks sosial dan budaya setempat.
Di Indonesia, takjil bukan sekadar makanan. Ia menjadi simbol kepatuhan terhadap ajaran agama, kesederhanaan dalam berbuka, serta kebersamaan yang terjalin di bulan Ramadan.
Evolusi takjil hadir dalam berbagai bentuk kuliner lokal, dari kolak di Jawa, es pisang ijo di Makassar, hingga bubur kampiun di Minangkabau maupun kue cara dan popaco/lampu-lampu di Manado.
Resep evolusi takjil, dari tradisi berbuka puasa kini berubah bentuk jadi berbagai jenis hidangan, biasanya ditampilkan mencakup hidangan populer di berbagai daerah Indonesia.
Kolak pisang menjadi salah satu yang paling identik dengan berbuka puasa di Jawa, dengan cita rasa manis dari pisang, ubi, dan santan.
Es buah segar hadir sebagai pilihan praktis dan menyegarkan, berupa campuran buah tropis dengan sirup atau susu.
Dari Minangkabau, bubur kampiun menawarkan perpaduan bubur sumsum, ketan, dan kolak yang kaya rasa.
Juga, takjil khas kota Manado kue cara, popaco, lampu-lampu, lalampa, panada, ongol-ongol, balapis, kueku, apang coe dan colo serta masih banyak jenisnya.
Makassar memiliki es pisang ijo, yakni pisang yang dibalut adonan tepung hijau lalu disajikan dengan kuah santan dan sirup.
Minuman manis lain yang populer adalah cendol atau dawet, terbuat dari tepung beras hijau, santan, dan gula merah cair.
Selain itu, berbagai kue basah tradisional seperti klepon, nagasari, atau lapis legit juga sering dihidangkan sebagai takjil ringan yang melengkapi suasana berbuka puasa.
Keberagaman ini memperlihatkan bagaimana tradisi Islam berakulturasi dengan kekayaan budaya Nusantara dan menjadikan takjil sebagai bagian dari identitas Ramadan di Indonesia.
Mengacu referensi mutakhir yang lebih banyak menekankan pada kuliner lokal dan tradisi sosial seputar berbuka, tentu saja bukan hanya terkait aspek etimologi katanya yang bergeser.
Ambil misal, 30 Resep Takjil & Menu Makan Ramadan (2026) yang diterbitkan Darun Nahdhah Al-Islamiyah, serta Takjil dan Kuliner Khas Daerah (2026) karya Tim Penulis Komik Referensi.
Keduanya menyoroti takjil sebagai fenomena kuliner sekaligus budaya. Bahkan kedua buku ini memperlihatkan bagaimana praktik berbuka puasa di Indonesia terus berkembang dan diperkaya oleh tradisi lokal.
Dengan demikian, evolusi takjil mencerminkan perjalanan sebuah istilah dari makna religius yang universal menuju simbol budaya yang khas Indonesia.
#coverlagu: Lagu “Berburu Takjil” dari ZydSounds dirilis pada 4 April 2024 sebagai bagian dari album Ramadan Series. Album ini berisi sepuluh track bertema Ramadan, semuanya digubah oleh Zidan Hadi Ramdhana, komposer dan gitaris independen asal Sukabumi, Jawa Barat.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



