
“Tradisi dan budaya Islam Indonesia merupakan hasil akulturasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal Nusantara.” — Ensiklopedia Budaya Islam Indonesia(LSBPI–MUI, IIBF 2025)
Dari pusat kota London hingga sebuah kota kabupaten di Jawa, dengan mudah bisa disaksikan tumbuhnya tradisi dalam tiap bulan ramadan. Salah satunya, iftar.
Sejarah ringkas iftar dapat ditelusuri dari masa awal Islam hingga praktik modern, dengan kajian mutakhir yang menyoroti dimensi historis, linguistik, dan simbolisnya.
Dalam karya Ramadan and Its Rituals: A Historical Overview (2024), Khaled Abou El Fadl (62) menekankan bahwa tradisi berbuka puasa sudah ada sejak masa Nabi Muhammad, ditandai dengan kesederhanaan berupa kurma dan air sebelum melanjutkan dengan makanan lain.
Kajian ini menunjukkan bagaimana praktik sederhana tersebut berkembang menjadi ritual sosial yang lebih kompleks, di mana makanan tertentu memperoleh makna simbolis.
Misalnya, kurma tetap menjadi ikon berbuka, tetapi di berbagai wilayah Islam muncul variasi makanan khas yang mencerminkan identitas budaya masing-masing.
Abou El Fadl, Profesor Hukum di UCLA School of Law dan Ketua Program Studi Islam, dengan gelar Omar and Azmeralda Alfi Distinguished Professor of Law, menyoroti bahwa iftar bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga sarana mempererat hubungan keluarga dan komunitas, serta simbol keterhubungan antara tradisi dan modernitas.
Sementara itu, Amira El-Zein dalam Food and Faith in Islam: Rituals of Eating and Fasting (Routledge, 2022) lebih menelusuri asal-usul etimologi kata iftar.
Ia berasal dari akar kata Arab faṭara yang berarti “membuka” atau “memecah,” merujuk pada tindakan berbuka puasa setelah matahari terbenam.
Kajian linguistik ini memperlihatkan bahwa istilah tersebut tidak hanya menunjuk pada aktivitas fisik makan, tetapi juga mengandung makna spiritual yakni memecah keterikatan tubuh dari rasa lapar sekaligus membuka hati untuk syukur.
El-Zein menekankan bahwa etimologi ini memperkuat pemahaman bahwa iftar adalah titik pertemuan antara kebutuhan jasmani dan kesadaran rohani.
Dengan demikian, kajian mutakhir ini memperlihatkan bahwa iftar memiliki sejarah panjang yang berawal dari praktik sederhana di masa Nabi.
Kelak, iftar berkembang menjadi tradisi sosial yang kaya makna, dan tetap berakar pada etimologi yang menegaskan makna spiritualnya.
Atau, hakikat iftar menurut El‑Zein adalah titik temu antara iman dan praktik sehari‑hari, yang menjadikan berbuka puasa lebih dari sekadar pelepas lapar dan dahaga.
Karenanya, iftar bisa dipahami sebagai jembatan antara iman dan budaya, antara ritual keagamaan dan ekspresi sosial, serta antara bahasa dan pengalaman hidup umat Islam sepanjang sejarah.
#coversongs: Maher Zain saat ini berusia 44 tahun, lahir 16 Juli 1981 di Tripoli, Lebanon. Ia dikenal sebagai penyanyi religi dengan genre nasheed dan R&B, aktif sejak 2009. Lagu Ramadan dirilis pada 29 Juni 2013 oleh Awakening Records dan dibawakan dalam bahasa Inggris dengan sisipan bahasa Arab, kemudian Maher Zain juga merilis versi bahasa Indonesia beberapa tahun setelahnya. Lagu ini menggambarkan kerinduan dan kebahagiaan menyambut bulan suci Ramadan. Liriknya menekankan pencerahan spiritual, kedekatan dengan Allah, dan rasa damai yang hadir selama bulan Ramadan.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



