Wednesday, March 4, 2026
spot_img
HomePendidikanISNU: “Spiritualitas Modern” Kunci Kebahagiaan Indonesia di Tengah Krisis Global

ISNU: “Spiritualitas Modern” Kunci Kebahagiaan Indonesia di Tengah Krisis Global

Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Prof. HM Mas’ud Said, MM., PhD (pegang microphone) saat berbicara dalam kegiatan “Ramadhan Cendekia” di Kantor PW ISNU Jawa Timur, Surabaya, Selasa (3/3/2026) malam. (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Prof. HM Mas’ud Said, MM., PhD., menekankan pentingnya “spiritualitas modern” sebagai fondasi kesejahteraan menyeluruh masyarakat. Ia merujuk hasil riset global yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia.

Berbicara dalam kegiatan “Ramadhan Cendekia” di Kantor PW ISNU Jawa Timur, Surabaya, Selasa (3/3/2026) malam, Mas’ud mengutip riset “Global Flourishing Study” yang melibatkan lebih dari 203.000 responden di 22 negara selama periode 2022–2024. Studi kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset Gallup itu dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health pada Mei 2025.

“Hasilnya menunjukkan Indonesia berada di peringkat teratas dengan skor perkembangan (flourishing) 8,3. Disusul Israel, Filipina, Meksiko, dan Polandia. Ini menarik, karena banyak negara maju justru tidak selalu unggul dalam aspek makna hidup dan relasi sosial,” ujar Mas’ud.

Menurut dia, riset tersebut mengukur kesejahteraan secara menyeluruh, meliputi kesehatan, makna hidup, karakter dan relasi sosial, serta ketahanan finansial. Temuan pentingnya, kata Mas’ud, menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi tidak otomatis berbanding lurus dengan kebahagiaan.

“Banyak negara maju tinggi secara finansial, tetapi rendah dalam makna hidup dan relasi sosial. Dunia terlalu sibuk mengejar materi, tanpa fondasi moral,” ujarnya.

Mas’ud menilai capaian Indonesia tidak lepas dari kuatnya nilai-nilai sosial dan keagamaan yang hidup di masyarakat. Ia menyebutnya sebagai “spiritualitas modern” yakni praktik keberagamaan yang tidak berhenti pada ritual, melainkan terwujud dalam pelayanan dan pengabdian sosial.

Konsep itu, menurut dia, sejalan dengan nilai Islam rahmatan lil alamin yang selama ini dikembangkan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ia juga mengutip temuan World Giving Index dari Charity Aid Foundation yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling dermawan di dunia. Indikatornya bukan hanya sumbangan uang, tetapi juga kesediaan menolong, memberi barang, serta meluangkan waktu untuk orang lain.

“Gotong royong itu bukan sekadar budaya, tetapi kekuatan sosial. Itulah yang menjadi fondasi kebahagiaan,” kata Mas’ud.

Ia mencontohkan sejumlah tokoh filantrop dunia seperti Bill Gates, Warren Buffett, Azim Premji, Charles Francis Feeney, dan Mark Zuckerberg yang aktif dalam kegiatan filantropi global.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa memberi bukan membuat berkurang, justru memperkuat makna hidup,” ujarnya.

Puasa dan Kesehatan Mental

Mas’ud juga menyinggung aspek kesehatan sebagai bagian dari kesejahteraan menyeluruh. Ia mengaitkannya dengan manfaat puasa yang secara ilmiah diteliti oleh Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2016 dari University of Tokyo.

Penelitian Ohsumi tentang mekanisme autophagy atau autofagi menjelaskan proses alami tubuh membersihkan sel-sel rusak dan meregenerasi sel baru. Mekanisme tersebut, menurut Mas’ud, relevan dengan praktik puasa yang telah lama dikenal dalam tradisi Islam.

Senada dengan itu, Sekretaris Lembaga Kesehatan PWNU Jawa Timur dr Achmad Firdaus Sani menyatakan puasa juga berdampak positif terhadap metabolisme tubuh dan fungsi otak.

“Puasa menurunkan kadar glukosa, tetapi tubuh memecah lemak menjadi keton yang menjadi sumber energi baru bagi otak. Secara medis, ini memberi manfaat kesehatan,” ujarnya dalam kegiatan “Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H” di Aula PWNU Jatim.

Bagi Mas’ud, temuan ilmiah tersebut memperkuat keyakinan bahwa spiritualitas yang terintegrasi dengan praktik sosial dan kesehatan dapat menjadi fondasi kebahagiaan bangsa.

“Spiritualitas modern bukan menjauh dari dunia, tetapi menghadirkan nilai ilahiah dalam kehidupan sosial. Di situlah kebahagiaan menemukan maknanya,” kata dia.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular