Wednesday, April 17, 2024
HomeSosial BudayaTradisi Nusantara Saat Ramadhan Banyak Libatkan Makanan, Antropolog: Ada Keterkaitan Dengan Rasa...

Tradisi Nusantara Saat Ramadhan Banyak Libatkan Makanan, Antropolog: Ada Keterkaitan Dengan Rasa Syukur!

Ilustrasi megengan di Jawa Timur. (foto: nuonline)

Surabaya,- Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dinanti-nanti oleh masyarakat muslim seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Banyak tradisi Nusantara yang dilaksanakan menjelang Ramadhan ataupun saat Ramadhan. Berbagai tradisi seperti Meugang di Aceh, Malamang di Sumatera Barat, Munggahan di Jawa Tengah, serta Megengan di Jawa Timur yang melibatkan makanan. Kenapa bisa begitu ya?

Pakar antropologi FISIP Universitas Airlangga, Djoko Adi Prasetyo menyatakan bahwa fenomena sosial itu memiliki keterkaitan dengan agama. Menurutnya, ada nilai-nilai mulia dalam tradisi yang melibatkan makanan. Ia mencontohkan kue apem pada tradisi Megengang yang memiliki nilai permohonan maaf.

“Adanya saling mengeratkan tali persaudaraan, permohonan maaf baik itu kepada tetangga atau kepada sanak saudara yg selama ini sangat jarang berinteraksi sosial secara “luring” karena kesibukannya. Juga terkandung nilai berbagi rezeki berupa makanan kue apem, yg memiliki makna permintaan maaf,” ujarnya pada media ini, Jumat (15/3/2024).

Banyak tradisi yang terjadi di bulan Ramadhan berangkat dari rasa syukur akan datangnya bulan mulia itu. Sebagai bentuk syukurnya, diwujudkan ke dalam pesta makan. Seperti Meugang di Aceh yang menggunakan daging hingga Malamang di Sumatera Barat yang menggunakan makanan lemang.

Megengan, tradisi khas Jawa Timur, menurut Djoko memiliki tujuan untuk mendoakan anggota keluarga atau nenek moyang yang sudah meninggal. Selain juga sebagai bentuk rasa syukur dengan selamatan, Megengan juga sebagai bentuk permohonan agar dikuatkan lahir batin ketika berpuasa.

Megengan diambil dari kata megeng yang artinya menahan. Makna tradisi ini sendiri ialah menahan segala hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan dan minum. Megengan artinya juga keselamatan agar tetap terjaga selama menghadapi bulan Ramadhan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Djoko Adi melihat secara antropologis, kebudayaan dapat berkembang dengan dipengaruhi oleh agama. Agama, jelas Djoko adalah sesuatu yang universal, final, abadi, dan tidak dapat berubah. Oleh karena itu, agama yang dianut oleh masyarakat akan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru di dalam masyarakat hingga kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi.

“Agama dan budaya berjalan saling mempengaruhi karena memiliki simbol dan nilai, namun agama dan budaya harus tetap dibedakan,” tegasnya.

“Agama merupakan simbol nilai ketaatan manusia kepada Tuhan. Sedangkan budaya merupakan simbol nilai dan norma dalam kehidupan manusia dan masyarakat,” pungkasnya.

(pkp/mar/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular