Friday, May 24, 2024
HomePendidikanTingkatkan Kualitas Capaian STEM, Guru Indonesia Ikuti Pelatihan di Singapura

Tingkatkan Kualitas Capaian STEM, Guru Indonesia Ikuti Pelatihan di Singapura

Aktifitas puluhan guru dari berbagai sekolah di Indonesia saat mengikuti F-STEM Leadership Programme di kampus National Institute Education Singapore, Minggu (29/10/2023). (foto: KBRI Singapura)

SINGAPURA – Enam puluh delapan guru dari berbagai sekolah di Indonesia mengakhiri secara resmi TF-STEM Leadership Programme pada hari Minggu (29/10/2023). Pelatihan kepemimpinan dalam konteks Science, Technology, Engineering and Math (STEM) yang dilaksanakan selama satu minggu itu bertempat di kampus National Institute Education Singapore (NIE). NIE ini merupakan pusat pelatihan para guru-guru sekolah di Singapura yang terafiliasi dengan Nanyang Technological University. Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia khususnya Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, dengan Temasek Foundation dan NTU.

“Program ini bagian dari kerja sama tiga tahun yang melibatkan tiga pihak dan bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas kepemimpinan bagi pengajar STEM serta membentuk komunitas pembelajaran STEM dalam lingkungan sekolah di Indonesia,” jelas Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura, IGAK Satrya Wibawa dalam keterangannya pada media ini, Selasa (31/10/2023).

Untuk tahun 2023, lanjut Satrya, program ini memasuki fase keempat yang memfokuskan pelatihan pada pembelajaran dari pakar STEM di Singapura. “Fase sebelumnya dilaksanakan secara online karena pandemi Covid-19, kemudian fase ketiga tahun lalu dilaksanakan secara hybrid. Baru pada fase keempat inilah peserta mendapat kesempatan dilatih secara langsung di Singapura,” ujar pria berkacamata yang juga staf pengajar Universitas Airlangga Surabaya ini.

Yaya Sutarya, Widyaprada Ahli Madya pada Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan yang mendampingi delegasi peserta menegaskan pelatihan ini menjadi penting karena dalam pemetaan dan evaluasi kementrian, masih banyak wilayah di Indonesia menghadapi kesulitan dalam memberikan akses pendidikan STEM berkualitas kepada semua siswa. Terutama di daerah pedesaan, fasilitas dan sumber daya untuk pendidikan STEM seringkali terbatas.

”Hal ini ditambah juga dengan kurangnya tenaga guru berkualitas dalam pengajaran STEM” tandas Yaya. Tentu selain perlunya perluasan kurikulum STEM yang relevan dan menarik dan pengintegrasian teknologi dalam proses pembelajaran.

Dr. Teo Tang Wee, Wakil Direktur MeriSTEM@NIE yang menjadi koordinator pelatihan menegaskan komitmen Singapura dengan dibantu Temasek Foundation dalam membantu pengembangan kapabilitas guru-guru pengajar STEM di Indonesia.

”Kami sangat gembira dapat bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk memberikan pelatihan ini, karena kami dapat berbagi apa yang menjadi pengalaman berharga pendidikan di Singapura,” jelas Dr Teo.

Dia menambahkan juga selain Indonesia, NIE juga bekerja sama membantu India dalam pelatihan guru STEM. Secara umum, Singapura menjadi tolok ukur kualitas pembelajaran STEM, tidak hanya di Asia Tenggara tapi juga dunia. Nilai Singapura dalam pengukuran PISA (Program for International Student Assesment) pun tertinggi di dunia.

“Karena itu sangat wajar jika Indonesia belajar dan berlatih dari Singapura yang nantinya dapat dikembangkan oleh para guru di sekolah di daerah masing-masing,” ujar Satrya lagi.

Pelatihan ini diikuti guru-guru dari beragam daerah di Indonesia mulai dari Sumatera Utara hingga Poso Sulawesi. Selama satu minggu menjalani pelatihan, para guru tersebut mempelajari dan menambah pengetahuan mengenai pengintegrasian teknologi dalam pengajaran STEM, workshop coding dan data komputasi serta tentunya membangun jejaring dengan guru serta pengajar STEM di sekolah-sekolah di Singapura.

Untuk diketahui, program pelatihan ini dalam upaya mendukung program peningkatan kualitas STEM pada murid sekolah di Indonesia. Karena itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meluncurkan program PembaTIK (Pembelajaran Berbasis TIK) dan Kihajar (Kita Harus Belajar) pada bulan Juni lalu yang diikuti oleh lebih dari 29 ribu guru dari berbagai jenjang di seluruh wilayah Indonesia. Sementara pendaftar Kita Harus Belajar Science, Technology, Engineering, Math (Kihajar STEM) pada 2022 sebanyak 9.585 tim dan berasal dari 2.386 sekolah. Dari 2.386 sekolah yang mendaftar Kihajar STEM 2022, 60% sekolah di antaranya telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

(rils/rafel)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular