
Thawaf bukan lari cepat. Bukan pula muter-muter tanpa makna. Thawaf adalah ibadah berputar yang mengandung arah. Sebuah latihan ruhani yang menyatukan gerak tubuh, arah hati, dan getar zikir.
Di dalam setiap putaran, ada satu poros: Ka’bah. Ka’bah simbol pusat hidup seorang Muslim. Dan dari tujuh putaran itu, ada tiga doa kunci yang menjadi penopang makna thawaf. Mari kita telusuri satu per satu.
Doa Pembuka: Menetapkan Arah Hidup
اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ، وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ya Allah, aku beriman kepada-Mu, membenarkan Kitab-Mu, menepati janji-Mu, dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW.
Inilah doa pengarah langkah. Sebelum berputar mengelilingi Ka’bah, kita menyatakan dengan sadar: hidupku akan berporos pada iman, Al-Qur’an, janji ilahi, dan jejak Nabi.
Seperti kalibrasi alat ukur. Kalau alat ukur tidak dikalibrasi dulu, semua data akan salah. Maka hidup juga harus dikalibrasi: apakah orientasinya masih ke Allah atau sudah melenceng?
Bacalah doa ini dengan hati. Karena thawaf bukan sekadar langkah, tapi kalibrasi iman.
Zikir Pengantar: Menjernihkan Sensor Ruhani
سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ
Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar
Shalawat: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad…
Zikir ini seperti pemanasan spiritual. Kalimat-kalimat tersebut membersihkan sensor ruhani kita yang mungkin buram oleh dunia. Kita sebut kebesaran Allah, syukur, keesaan-Nya, dan salawat kepada Nabi sebagai jalan untuk masuk ke mode thawaf yang penuh kesadaran.
Seperti menyapu lensa sebelum memotret. Zikir ini menyapu hati dari debu dunia, agar foto batin kita bersama Allah tidak blur.
Jangan buru-buru membaca ini. Rasakan setiap lafal. Karena setelah ini, setiap langkah adalah komunikasi.
Doa Sapu Jagat: Keseimbangan Dunia dan Akhirat
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(QS. Al-Baqarah: 201)
Doa ini disarankan dibaca di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, seolah menandai puncak perjalanan spiritual dalam satu putaran thawaf.
Ini adalah doa keseimbangan.
Tidak menolak dunia, tapi tidak terjebak padanya.
Tidak lalai akhirat, tapi juga tidak lupa kehidupan kini.
Dan selalu minta perlindungan dari kebinasaan hakiki: api neraka.
Hidup ini seperti sistem robotika cerdas. Kita butuh feedback agar tidak over atau under dalam mengejar dunia dan akhirat. Doa ini adalah “PID controller” dalam ibadah: menjaga agar langkah tetap stabil, lurus, dan aman.
Dibaca menjelang akhir satu putaran, doa ini seperti tombol “Save” dalam sebuah perjalanan ruhani. Kita simpan pelajaran, harapan, dan permintaan agar tiap putaran tak berlalu sia-sia.
Tiga Doa, Tiga Titik Arah
Doa Orientasi → Menata arah hidup
Zikir Awal → Menjernihkan jiwa
Doa Sapu Jagat → Menjaga keseimbangan
Diantara zikir awal dan doa Sapu Jagat, doa sesuai kebutuhan masing-masing. Selebihnya, thawaf adalah latihan untuk tetap melangkah, meski ramai, meski sesak, meski kadang disikut, tepatnya kesikut. Karena tujuan kita bukan hanya menyelesaikan putaran, tapi mengubah poros hidup menjadi lebih terarah, lebih jernih, dan lebih selamat.
FIRMAN ARIFIN
Dosen PENS, Jamaah Haji 2025 Kloter 92 Nurul Hayat



