Sunday, April 21, 2024
HomeEkonomikaTata Dan Atur PKL, Jangan Sampai Mereka Mogok Nasional

Tata Dan Atur PKL, Jangan Sampai Mereka Mogok Nasional

Ketua Umum DPP APKLI, dr. Ali Mahsun,M.Biomed.
Ketua Umum DPP APKLI, dr. Ali Mahsun,M.Biomed.

JAKARTA – Ketidakadilan terhadap Pedagang Kaki Lima (PKL) tidak hanya perlakuan represif dari Pemerintah saja, tetapi juga dari perusahaan-perusahaan raksasa yang produknya dijualkan oleh PKL. Menurut Ketua Umum APKLI (Asosiasi PKL Indonesia), dr. Ali Mahsun,M.Biomed berdasarkan kajian timnya, data menunjukkan PKL menjualkan lebih dari 90% teh botol di seluruh tanah air. Demikian juga perusahaan rokok, mie instan dan lainnya.

“Tanpa PKL, perusahaan raksasa itu bisa bangkrut. Oleh karena itu, sudah saatnya PKL diperhatikan, ditata dan diberdayakan oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang produknya dijualkan PKL. APKLI tak rela PKL hanya dieksploitasi sepihak, tak ikhlas PKL hanya dijadikan alat pemasaran dan penjual produk-produk mereka secara sepihak. Karena PKL telah sekian lama memberikan konstribusi besar terhadap perusahaan itu,” ujar Ali Mahsun di Jakarta, Sabtu (19/3/2016) malam.

Bukan hanya itu, Ali menambahkan bajwa PKL juga mensubsidi bagi perusahaan-perusahaan besar lainnya. Tanpa adanya PKL tentunya para buruh dan karyawan mereka khususnya yang gajinya UMR, tidak dapat minum kopi dan menyantap makan siang. Tak mungkin buruh atau karyawan yang gajinya UMR makan siang di restoran mahal, minum kopi di Starbuck. Sekali lagi, saatnya PKL diperhatikan, ditata dan diberdayakan oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang produknya dijual PKL, yang buruh dan karyawannya dilayani PKL dengan harga terjangkau,” tegas pria berkumis asal Mojokerto Jawa Timur itu.

Bagi APKLI sangat tidak adil jika hanya dengan selembar Tenda Payung yang diberikan ke PKL, lalu perusahaan raksasa sudah mengklaim sudah penuhi kewajiban CSR-nya. “Tentunya tak perlu menunggu PKL mogok nasional untuk menuntut haknya dari perusahaan-perusahaan raksasa yang produknya dijualkan PKL. Oleh karena itu, ketidakadilan ini harus segera disadari dan disudahi. APKLI konsisten pasang badan untuk mewujudkan hal tersebut”, tambah aktivis senior yang merupakan alumnus FK Universitas Brawijaya dan Universitas Indonesia itu.

Menurut Ali, PKL merupakan tulang punggung perekonomian nasional khususnya bagi sektor menengah ke bawah yang dominan di tanah air. Sejarah membuktikan menurut kader senior HMI itu bahwa PKL adalah pahlawan sekaligus bantalan ekonomi nasional tatkala Indonesia mengalami krisis ekonomi seperti tahun 1997/1998.

“Saatnya PKL ditata dan diberdayakan, sudahi segera segala bentuk penggusuran PKL. Demikian pula, Negara RI, dalam hal ini pemerintahan RI dari pusat hingga pedesaan dan kelurahan untuk segera menyudahi sudahi bulan madu dengan kongsi kapitalis multinasional, dan mulai menata memberdayakan PKL”, pungkas tokoh yang kerap disebut “Dokternya PKL Indonesia” ini.
(bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular