Monday, April 15, 2024
HomeGagasanSurat Terbuka Untuk Peneliti LIPI dari Kader KAMMI Radikal

Surat Terbuka Untuk Peneliti LIPI dari Kader KAMMI Radikal

images (2)

Selamat malam, saudara-saudara ana sebangsa, setanah air, dan satu penderitaan karena BBM naik sebab pemerintah neolib ini menyerahkannya pada mekanisme pasar.

Malam ini, ana tersentak dengan pemberitaan BBC dan CNN yang ramai karena mencap KAMMI radikal. Yang mengatakan, dua peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pak Anas dan Pak Endang. Katanya, KAMMI radikal karena mewarisi pemikiran Ikhwanul Muslimin soal bagaimana memandang dunia ini; bagaimana memandang demokrasi, dan bagaimana cara KAMMI menerapkannya di Indonesia.

Saudara ana sebangsa dan setanah air, dan sependeritaan karena sekelompok orang dengan radikal menggusur-gusur orang miskin pribumi di Jakarta, ana bertahun-tahun lalu memilih gabung KAMMI melihat spanduk di Masjid Nurul Irfan UNJ yang berbunyi, “Muslim Negarawan, Intelektual Profetik“. Yang terbayang di kepala ana yang sok seniman ini, adalah seorang Gubernur hafidz dengan pemahaman politik mumpuni.

Tentu, tak berkata-kata kotor dan kemana-mana bawa wartawan. Dari sana, ana menyimpulkan, negarawan macam apa, politisi macam apa yang hendak dibangun KAMMI melalui Dauroh Marhalah dan halaqahhalaqah mesra di masjid-masjid kampus.

Ana mencoba mengenal antum, wartawan CNN, BBC, pak Anas, dan pak Endang. Tak satupun statement antum menyatakan radikal-radikalan pada komunisme atau PKI. Padahal, mereka itu nyusup ke pers-pers kampus, ke lembaga-lembaga kajian se-Indonesia, lho pak. Mereka tidak malu-malu menyatakan diri, “Gue Komunis, lho!”

Kok tidak dikaji, pak? Apa anggaran dari Kemenristek-Dikti sudah dipesan lembaga donor, ya? Atau, KAMMI keseringan demo, sehingga ada lah, japrijapri yang pingin bapak sedikit-sedikit gelitik KAMMI.

Ghibahghibah lucu soal radikal, pak, Ikhwanul Muslimin itu heroik, lho. Di Mesir, mereka dikudeta oleh jenderal militer As-Sisi dan kini ratusan petingginya dibunuh. Buku-buku mereka dibakar; ini mengulang kiamat G 30 S di Indonesia. Tidak seperti PDIP yang kader-kadernya jadi macan media sosial (medsos) dan sedikit-sedikit kutip novel di twitter.

Apa karena amirul mukminin kita masih akrab-akrab ceria dengan As-Sisi, jadi bapak ikut saja?

Lagian, orang Ikhwan di Mesir tidak bawa-bawa wartawan. Seingat ana; bahkan Morsi belum sempat lagi gusur-gusur kampung dengan ngatangatain sebagai pusat prostitusi.

Lain, ya, dengan pegiat partai lokal, yang kalau rapat di Abunawas, atau cari bintang enam di Bali dan Lombok, pulang bawa perpecahan.

Beberapa bulan lalu di kampus ana, ada sosialisasi penanggulangan radikalisme dari pemerintah. Ana hadir, kok, pak. Dan KAMMI, HT, GP, termasuk yang radikal.

Di sana, hadir Ken Setiawan. Kenal, kan, pak? Itu lho, desertir NII yang mirip sales MLM ketika menawarkan Pancasila. Ana bertanya pada perwakilan Polda, dan macam-macam pihak “tidak radikal” yang hadir.

“OPM,” kata ana, “membunuh TNI”. Kenapa tidak disebut teroris dan radikal? Para pembicara terdiam. Apa karena sudah didukung negara-negara Oseania, dan bapak-bapak takut tunjangan dicabut kalau mengatakan sebenarnya negara kita kalah di sana?

Masjid-Masjid kampus itu seram, ya, buat bapak? Hati-hati lho, pak. Di dalam Al-Qur’an, jelas dikatakan,

“Orang-orang yang bersama dia keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesamanya. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaannya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud….

….Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir….”
Q.S Al-Fath, 29.

Terjemahan Departemen Agama (Depag), lho.

Ana tidak terlalu pandai kutip ayat seperti Sayyidina Said Agil, pak. Ana juga bukan ulama mufassir mujtahid mutlaq sekaliber Syeikhul Islam Ulil Absar. Ana kan cuma kader KAMMI.

(Hati bapak mulai kenyut-kenyut sedap, ya, pak?)

Anak bapak, di kampus, nongkrongnya di mana, pak? Perpustakaan kusam? Kantin? Atau sembunyi-sembunyi isap cimeng di pojok gedung, lantas ketiwi-ketiwi di kosan teman?

Teman-teman saya kader KAMMI nongkrongnya di masjid, pak. Sebagian jadi Imam Shalat, sebagian lagi jadi DKM. Bukankah, menurut penelitian LIPI juga, masjid di kampung-kampung mati karena anak mudanya pergi?

(Kader KAMMI yang berjenggot sedikit lho, pak. Mereka tidak go*blog. Ana juga mengamalkan pesan Jusuf Kalla radhiallahu ‘anh, jangan banyak-banyak shalawat, kerja!)

Tahun 2015, KAMMI UNJ dan beberapa KAMMI komisariat lain mengadakan sosialisasi 4 pilar, kerjasama dengan DPR. Masih ingat kan, pak?

Itu, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Khilafah Islamiyah. Eh, salah. Dan Nawacitra. Eh, salah lagi. Pokoknya itu, pak. Jadi, alasan KAMMI radikal, apa, ya?

Ana pakai kata ganti ana-antum ini, ilmiah lho, pak. Bukan arabisasi. Ada di kamus besar bahasa indonesia edisi 5. Jangan bilang bapak pegangnya edisi 4? Ini sudah dibahasa-Indonesiakan. Itu lho, pak, yang sampulnya keperakan.

Sepertinya, rezim ini maunya KAMMI jadi mawapres seperti saudara tua kami, atau duduk tenang di belakang meja laboratorium. Eh, lathalah. Bapak-bapak lupa, ya?

Yang membebaskan sebagian orang-orang kuminis dari tapol-tapolan kan, aksi mahasiswa 98?

Yang membuat peneliti-peneliti LIPI bebas ngomong opo wae, kan gerakan mahasiswa juga, pak, dengan ikut menurunkan Yang Mulia Suharto?

Ana gabung KAMMI 4 tahun, pak. Dan tidak pernah bawa baterai, kabel, dan paku sepulang dauroh. Yang berjilbab, makin ayem dengan hijabnya. Yang ikhwan, makin kuat matanya menjaga pandangan, sepulang dauroh.

Radikalnya, di mana ya pak? Apa karena kami sering mendesel-desel Metro TV, sehingga bapak tidak dapat panggung sebagai pengamat sospol?

Tahun 2014, dalam perang Eaten Straw (jangan bilang bapak tahunya Protective Edge aja?) Berlangsung gerakan Shame On CNN di dunia maya, karena HAMAS diberitakan sebagai teroris dan ada berita palsu soal sipil yang dijadikan tameng.

Bapak masih mau diwawancara CNN? Sebenarnya, impian kecil ana sebagai kader KAMMI, mbok ya LIPI masuk National Geographic Senegal atau NatGeo Puerto Rico gitu, kalau NatGeoInt susah. Misalnya, telitilah apa betul Kampung Pulo itu penyebab banjir, bukan korban banjir yang dikriminalisasi Tokoh Anti Korupsi yang lagi diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi?

Yah, LIPI sekarang kan jadi lembaga rebutan profesor yang ingin tunjangan, atau doktor yang lomba karir. Eselon-eselonan. Ana yang kader KAMMI ini tahu apa, ya, pak?

Omong-omong, yang buka Mukernas KAMMI 2016 ini pak Zulkifli ketua MPR, lho, pak. Antum tidak takut menghina, atau nanti CNN bikin judul “Ketua MPR membuka Mukernas Organisasi Radikal”?

Nanti tunjangan dicabut. Eh, maaf.

“Yaa, saya kan pegawai, dik… Tidak boleh menyerempet”, oh iya, ya, pak. Maaf. Ana dibesarkan sebagai orang yang berpikir dan bertindak merdeka.

Apa? Bapak juga disuruh berpikir dan bertindak merdeka? Yakin, pak? Itu, kan, paragraf pertama kredo KAMMI?

Maksud ana, belum ada ilmuwan gila yang cinta bangsanya melebihi kecintaannya pada wartawan.

Lagian, kan buku tentang KAMMI baru ada empat, pak. Dan semuanya tidak ilmiah, tidak bisa dijadikan daftar pustaka di tesis-tesis LIPI. Kok bapak bisa bilang radikal? Pernah ikut DM 1 , pak?

Dibisiki siapa, pak? Ana yakin, kok. 60 persen kader KAMMI bahkan tak menuntaskan buku wajib. Ah, bahasa terornya apa, ya? Manhaj Tugas Baca. Kok bisa-bisanya KAMMI jadi radikal, wong 2016 demo saja belum pernah.

Begitulah, pak. Ana bobo dulu ya, pak. Biar nanti bangun pagi, sudah ada berita di National Geographic penemuan LIPI, bukan di CNN.

AMAR AR-RISALAH

Kader KAMMIRadikal

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular