
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Sebanyak sembilan ulama meraih suara tertinggi dalam tabulasi calon anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Berdasarkan rekapitulasi nasional hasil tabulasi yang dihimpun dari enam bilik atau panel penghitungan suara, KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) menempati posisi teratas dengan perolehan 485 suara atau 10,3%.
Di posisi kedua terdapat TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) dengan 477 suara (10,1%). Sementara AG Dr KH Baharuddin HS, MA berada di urutan ketiga dengan 392 suara (8,3%).
Posisi berikutnya ditempati KH Miftachul Akhyar dengan 350 suara (7,4%), KH Afifuddin Muhajir dengan 339 suara (7,2%), dan KH Anwar Iskandar dengan 326 suara (6,9%).
Adapun tiga nama lainnya ialah KH Anwar Manshur (Lirboyo) dengan 303 suara (6,4%), Prof Dr KH Said Aqil Siroj dengan 273 suara (5,8%), serta Dr KH Abun Bunyamin, MA dengan 268 suara (5,7%).
Kesembilan nama tersebut, berdasarkan keterangan dalam rekapitulasi, ditetapkan sebagai anggota AHWA karena termasuk ulama dengan perolehan suara terbanyak.
Menjaga Tradisi Musyawarah Ulama
Pemilihan AHWA menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Jombang. Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang organisasi untuk menentukan kepemimpinan NU, tetapi juga mempertemukan para ulama dalam proses pengambilan keputusan melalui mekanisme musyawarah.
Dalam tradisi NU, AHWA merupakan forum yang beranggotakan 9 ulama yang memiliki otoritas keilmuan dan dipercaya untuk menjalankan fungsi penting dalam proses organisasi, termasuk dalam penentuan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Hasil tabulasi menunjukkan persaingan suara yang relatif ketat pada posisi teratas. Selisih antara peraih suara terbanyak, KH Nurul Huda Djazuli, dan peringkat kedua, TGK KH Nuruzzahri Yahya, hanya delapan suara.
Jarak perolehan suara kemudian melebar pada posisi berikutnya. KH Nurul Huda Djazuli unggul 93 suara dari AG KH Baharuddin HS yang berada di posisi ketiga.
Data tersebut sekaligus memperlihatkan beragamnya latar belakang ulama yang masuk dalam jajaran sembilan besar, mulai dari ulama pesantren di Jawa hingga tokoh keulamaan dari luar Jawa.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








