Berita Terpercaya Tajam Terkini

Sejarah Yonex: Rudi Hartono dan Ekspor Sepatu

0

 

Tulisan saya kali ini terinspirasi oleh berita tentang ekspor sepatu dari sebuah pabrik sepatu di kampung halaman saya, Caruban, Jawa Timur. PT Dwi Prima Sentosa melepas pengiriman 14.150 pasang sepatu dengan tujuan China. Seremonial pelepasan itu dihadiri oleh Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur. Pada berita yang diposting oleh akun instagram @roekonomijatim itu menyebut bahwa yang dieskpor adalah sepatu bermerek Yonex. Dari sini saya kemudian mencoba menelusuri sejarah perusahaan yang bagi para penggemar olah raga bulu tangkis tidak asing lagi itu. Rudi Hartono dan Taufik Hidayat adalah legenda bulu tangkis yang tidak lepas dari Yonex.

Sejarah Yonex dimulai pada tahun 1946, tepat setelah berakhirnya Perang Dunia II dengan nama Yoneyama Company, Ltd. Pendirinya adalah Minoru Yoneyama. Bisnisnya adalah memproduksi pelampung kayu untuk jaring ikan. Bisnis kerajinan kayu Yoneyama berkembang pesat hingga kemajuan modern – yaitu pelampung plastik – memaksa perusahaan untuk berhenti. Frustrasi karena disingkirkan oleh kemajuan teknologi, Yoneyama bersumpah untuk tidak pernah ketinggalan teknologi dan berkomitmen untuk terus berinovasi dalam upaya di masa depan.

Mengandalkan kekuatan dalam kerajinan kayu, Yoneyama berkembang menjadi manufaktur raket bulutangkis pada tahun 1957 sebagai OEM untuk merek raket Sanbata.

Dengan kebangkrutan Sanbata pada tahun 1961 dan Markas Manufaktur Yoneyama terbakar pada tahun 1963, tahun 1960-an benar-benar menguji semangat menciptakan peluang dalam situasi sulit. Terlepas dari kemunduran ini, Yoneyama mendirikan Yoneyama Sports Co., Ltd. untuk memproduksi raket bermerek Yoneyama, membangun kembali pabrik dalam tiga hari, dan memperluas bisnisnya ke Amerika Serikat dan Eropa selama dekade yang sangat penting ini.

Pada tahun 1965, Pabrik Tokyo membuka pintunya untuk memproduksi shuttlecock — sekarang, Yonex adalah shuttle turnamen resmi dari semua Acara Besar Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), serta Olimpiade sejak 1992 di Barcelona.

Pada tahun 1968, Yonex mengembangkan “T-Joint” pertama di dunia, yang menghasilkan raket bulutangkis aluminium pertama di Jepang. “T-Joint” terinspirasi oleh desain keran gas yang menghubungkan rangka dan poros.

Pada tahun 1969, Yonex berkembang ke industri tenis dengan raket aluminium T-7000. Untuk meningkatkan T-7000 yang sangat populer, Yonex mengembangkan Oval Pressed Shaft (OPS), yang menciptakan raket yang lebih kuat dan lebih stabil dan diimplementasikan di T-7500. Pada tahun 1973, logo “YY Yoneyama” diperkenalkan dan Juara Bulutangkis All England Open delapan kali (tujuh berturut-turut) dan ikon bulu tangkis Rudy Hartono mulai bersaing dengan Yonex.

Tahun berikutnya, Yonex mulai memproduksi raket tenis kayu dan mengontrak Tony Roche, juara utama empat belas kali dari Australia. Pada tahun 1978, raket bulutangkis pertama dengan berat di bawah 100g diluncurkan sebagai B-8500 dan CARBONEX 8.

Raket ISOMETRIC™ berbentuk persegi ikonik dari Yonex pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980 dengan peluncuran R-1, R-2, dan R-3. Pada tahun yang sama, Billie Jean King dan Martina Navratilova mulai bersaing dengan Yonex. Perusahaan ini berganti nama menjadi Yonex Co., Ltd. Memanfaatkan teknologi grafit Yonex, perusahaan memasuki bisnis golf.

Pada tahun 1983, Navratilova memenangkan Australia Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka di tunggal dan ganda dengan raket R-22 terlaris. Pada tahun 1984, Yonex menjadi sponsor utama turnamen olahraga tertua dan paling bergengsi, All England Open Badminton Championships.

Pada tahun 1989, Yonex memperkenalkan ADX 200 di Amerika Serikat, driver grafit berbadan lebar yang mengubah permainan golf. ADX 200 tercatat dalam Guinness World Records dengan drive terpanjang di 412 yard. Pada tahun 1990, Navratilova mengklaim gelar Wimbledon ke-9 dengan widebody RQ-180 dan pada tahun 1991, Monica Seles menjadi pemain wanita termuda yang mencapai Peringkat No.1 Dunia.

Meminjam dari bingkai raket tenis berbentuk persegi khas Yonex, raket bulutangkis ISOMETRIC™ pertama dalam sejarah diluncurkan pada tahun 1992. Pada tahun 1995, untuk lebih mendorong batas inovasi grafit, Yonex mulai memproduksi papan seluncur salju.

Pada tahun 1996, Martina Hingis menjadi terkenal sebagai juara mayor termuda dalam sejarah pada usia 15 tahun dan melanjutkan karir legendarisnya dengan perlengkapan Yonex. Pada tahun 1998, Yonex mengubah logonya menjadi logo YY Yonex saat ini. Pada tahun 1999, Yonex mulai menjadi tuan rumah YONEX Ladies Open, acara LPGA Japan Tour (Asosiasi Pegolf Profesional Wanita Jepang) di Yonex Country Club.

Pada awal 2000-an, Lleyton Hewitt menjadi pria termuda No.1 Dunia dalam sejarah dan mengklaim dua gelar tunggal utama atas namanya: Wimbledon dan AS Terbuka. Pada tahun 2007, Ryo Aono menjadi snowboarder Jepang pertama yang memenangkan medali emas di Piala Dunia Snowboard di Halfpipe. Sepanjang karirnya, ia memenangkan 12 gelar Piala Dunia dan berkompetisi di dua Olimpiade. Pada tahun 2009, Yonex menjadi sponsor gelar terpanjang dari Kejuaraan Bulu Tangkis Terbuka All England.

Berasal dari Jepang dan berkembang secara global, kamp tenis Yonex Vamos•J mulai mengembangkan junior berkinerja tinggi pada tahun 2011. Melalui program dan pengalaman hidup yang unik, Vamos.J bertujuan untuk mempromosikan tenis dan mengembangkan pemain muda di seluruh dunia.

Dipelopori oleh para pemain bulu tangkis terhebat, inisiatif Visi The Legends diluncurkan pada tahun 2015 untuk meningkatkan profil olahraga ini dan untuk menginspirasi generasi pemain bulu tangkis berikutnya. Dipimpin oleh Taufik Hidayat, Peter Gade, Lin Dan, Lee Chong Wei, dan Lee Yong Dae, para Legenda ini berkeliling dunia untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi bulutangkis.

Yonex memasuki dua bisnis baru, sepeda motor sport dan bilah turbin angin di Jepang, yang selanjutnya memperluas teknologi grafit karbonnya. Pada Australian Open 2016, Yonex menjadi brand Jepang pertama yang menyediakan layanan stringing untuk turnamen tenis besar melalui Yonex Stringing Team.

Hari ini, dengan kepercayaan dari para atlet top dunia – mantan dan yang saat ini memegang posisi No.1 Dunia – Yonex terus menggabungkan keahlian Jepang yang tak lekang oleh waktu dan teknologi mutakhir untuk memberi para pemain alat untuk sukses.

Saat ini, Yonex memproduksi raket tenis, tongkat golf, papan seluncur salju, sepeda jalan raya, tali tenis dan bulu tangkis, dan banyak lagi. Selama bertahun-tahun, Yonex telah belajar bahwa “situasi terberat menciptakan peluang terbesar” – dan semangat ini dijalankan dalam misinya untuk memperkaya dunia dengan olahraga melalui produk-produk berkualitas tinggi.

Rangkaian sejarah Yonex di atas saya ambil langsung dari laman resmi perushaaan itu. Saya terjemahkan dengan sedikit penyuntingan tanpa mengubah makna. Sebuah rangkaian sejarah yang luar biasa tentang ketekunan, keuletan menghadapi masa sulit, dan loyalitas luar biasa pada core competence penyedia alat alat olah raga bagi para juara dunia berbagai cabang olah raga.

Selanjutnya, mari kita lihat kinerja Yonex sebagai perusahaan. Pendapatan Yonex pada tahun terakhir yang berakhir 31 Maret 2022 adalah JPY 74,48  miliar alias IDR 8 triliun. Omzet tersebut naik 44% dibanding tahun sebelumnya. Labanya adalah JPY 6,74 miliar alias IDR 724 miliar. Posisi akhir tahun tersebut, nilai asetnya adalah JPY 66,3 miliar alias IDR 7,12 triliun. Ekuitasnya adalah JYP 45,73 miliar alias IDR 4,91 triliun. Rasio utangnya sangat bagus di bawah angka 1. Nilai pasar perusahaan adalah JPY 148,48 alias IDR 16 triliun.

Angka tersebut menunjukkan sesuatu yang menarik. Yonex bukan perusahaan raksasa secara finansial. Tidak masuk 2000 perusahaan terbesar dunia berdasarkan laba, omzet, aset dan nilai pasar. Bahkan dibanding perusahaan-perusahaan di Indonesia saja terbilang kecil. Market value Yonex hanya 1/17 nya Astra International.

Tapi kecilnya kecil cabe rawit. Mampu mengibarkan bendera merah putih (tapi merahnya berbentuk bundar di tengah hehehehe) tinggi-tinggi di seluruh dunia. Mereknya ternama level dunia di berbagai cabang olah raga. Rudi Hartono dan Taufik Hidayat yang kita banggakan pun tidak bisa dilepaskan dari Yonex. Itulah buah ketekunan dan loyalitas pada core competence. Ketekunan yang menghasilkan inovasi teknologi.

Mereknya begitu kuat. Salah satu ciri perusahaan yang mereknya kuat adalah kemudian melakukan outsourcing untuk produksi barang yang dijualnya. Fokus pada merek. Yang dilakukan YOnex adalah seperti McD yang bahkan bumbu pun di outsourcingkan ke perusahan lain. Walaupun bumbu bagi sebuah resto sering dianggap rahasia. Ekspor sepatu dari kampung halaman saya yang diluncurkan oleh Bu Gubernur menunjukkan kekuatan merek Yonex. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Juga bagi PT DPS. Sudah saatnya DPS membangun merek sendiri. Seperti Yonex yang dulu juga melayani outsourcing dari merek Sanbata. Saatnya mengibarkan bendera merah putih tinggi-tinggi ke berbagai penjuru. Merahnya di atas putihnya di bawah. Sejajar dengan yang merahnya berbentuk bola di tengah. Gandeng para juara dunia RI seperti Rudi Hartono dan Taufik Hidayat.  Dirgahayu RI. Merdeka!

Banyuwangi, 30 Agustus 2022

 

IMAN SUPRIYONO

Penulis dan CEO SNF Consulting

Leave A Reply

Your email address will not be published.