Riang Gembiranya Muktamar NU

Kalau ada yang bertanya, “Kapan Muktamar NU dimulai?”

Jawabannya jangan terburu-buru melihat jadwal panitia.

Sebab, bagi sebagian orang, muktamar NU sudah dimulai sejak warung kopi menjadi ruang sidang, hotel berubah menjadi pesantren dadakan, grup WhatsApp menjadi arena bahtsul masail politik, dan setiap telepon selalu diawali dengan kalimat, “Njenengan di mana sekarang?”

Kalimat itu terdengar biasa.

Padahal sesungguhnya bukan sedang menanyakan lokasi.

Melainkan sedang mengukur orbit.

Begitulah riang gembiranya Muktamar NU.

Semua orang mendadak menjadi ahli silaturahmi.

Yang lima tahun tidak pernah berkunjung, tiba-tiba hafal jalan menuju ndalem kiai.

Yang biasanya hanya mengirim ucapan Idul Fitri, kini setiap pagi mengirim doa, video pendek, foto lama, dan sesekali menyelipkan pertanyaan yang terdengar ringan, tetapi sebenarnya berbobot politik.

“Bagaimana kabarnya, Yai?”

Artinya bisa bermacam-macam.

Bisa benar-benar menanyakan kesehatan.

Bisa juga sedang melakukan sensus dukungan.

Di musim muktamar, bahkan kalimat “monggo ngopi” pun memiliki lebih dari satu makna.

Kopi tetap kopi.

Tetapi yang diseduh kadang bukan hanya gula dan bubuk kopi.

Melainkan juga harapan, strategi, dan hitung-hitungan.

Lucunya, semakin dekat muktamar NU ke-35, semakin banyak orang yang mengaku paling ikhlas.

Padahal ukuran keikhlasan sekarang tampaknya bukan lagi seberapa ringan melepas jabatan, melainkan seberapa pandai menyembunyikan ambisi.

Kalau ada yang berkata, “Saya tidak punya kepentingan apa-apa.”

Justru kalimat itulah yang kadang paling menarik untuk didiskusikan.

Namun begitulah NU.

Organisasi yang selalu berhasil membuat kita tertawa pada tingkah kita sendiri.

Karena di balik segala hiruk-pikuknya, warga NU sesungguhnya masih percaya bahwa jabatan hanyalah alat untuk mengabdi, bukan tujuan untuk diperebutkan.

Dan mudah-mudahan, ketika palu Muktamar NU ke-35 diketuk nanti, yang menang bukan hanya satu orang.

Melainkan akal sehat, adab, dan persaudaraan.

Kalau itu yang terjadi, barulah kita benar-benar bisa berkata,  “Selamat datang di Riang Gembiranya Muktamar NU.” Semoga. (*)

Surabaya, 2 Agustus 2026

SUDARSONO RAHMAN 

Wakil Ketua DPP Barikade Gus Dur, Koordinator Forum Aktivis NU Jawa Timur, Deklarator Maklumat Cheng Hoo dan Manifesto Tambak Beras