
“Negara dihadapkan pada kemungkinan penarikan besar-besaran loyalitas atau dukungan – sebuah krisis legitimasi.” — Jürgen Habermas (19029-2026), Legitimation Crisis (1973).
Berpikir sebagai fondasi filsafat mudah tergelincir di lantai praksis kekuasaan.
Pasalnya, ketika berpikir filosofis hampir dua dekade lebih ini sedang naik tampuk dari dunia media sosial (medsos) ke istana. Vice versa.
Salah satu aktor — mirip Socrates sekitar abad ketiga sebelum masehi menjejalkan pikiran-pikirannya di kompleks agora(pasar) — Rocky Gerung (RG) tampil bak Sysiphus menggelindingkan batu berpikir dari kaki gunung ke puncak.
Demikian dia seperti dewa orakel yang didengar segala retorika dan orasinya ke ruang-ruang publik, daring dan luring.
Dan sampai-sampai jejak algoritma pikirannya memenuhi jagat nyaris ke seluruh platform digital.
Kini, viralitas dan popularitasnya, dari diksi kitab suci fiksi hingga bajingan tolol, ibarat kotak pandora terbuka dan menyebarkan “aib” filsafat praktis.
Di antara dua orang mirip Plato alaf-21 — Feri Amsari, intelektual kampus dan Pandji Pragiwaksono, komika publik — mulai menyundul “filsafat praktis” ala RG sebagai “sosialisme” di dalam istana yang sedang digalang-galang.
“MBG dan Kopdes itu perintah konstitusi,” tandasnya.
Keberatan mereka, meski terkesan tendensius, filsafat kritis praktis RG sedang dikumandangkan dari dekat istana.
Mungkin saja, tendensi itu benar.
Tapi, menuduh pikiran kritis punya resiko berpihak, rasanya tak ada sinyalemen itu dalam tradisi filsafat praktis, termasuk pikiran-pikiran RG.
Sekali lagi pikiran. Bukan gerunderal.
Agar tak terlampau menyederhanakan cara kerja filsafat kritis praktis sebagai produk pikiran, buku Thomas McCarthy, Critical Theory bisa dirujuk nanti.
Tanpa ingin membela tren pikiran RG yang sedang diserang dengan “mendukung istana” — akar tuduhan itu akibat kehadirannya di istana ketika Presiden Prabowo Subianto melantik aktivis lingkungan M. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup — sebagai sikap personal.
Untuk meninjau lebih sedikit buku berikut diacu dalam memahami filsafat kritis yang praktis.
Dirujuk dari Thomas McCarthy dalam The Critical Theory of Jürgen Habermas (1978/1981) menandaskan bahwa teori kritis bukan sekadar perangkat analisis ideologi, melainkan proyek emansipasi yang berakar pada komunikasi.
McCarthy membaca Habermas sebagai filsuf yang berusaha menyelamatkan rasionalitas dari reduksi teknokratis, dengan menempatkan bahasa sebagai medium utama pembebasan.
Atau, frasa paling relevan menyatakan “systematically distorted communication,” yang menunjukkan bagaimana komunikasi dapat menjadi instrumen dominasi sekaligus ruang resistensi.
McCarthy menekankan bahwa kritik harus diarahkan pada distorsi sistematis itu, bukan hanya pada individu atau institusi tunggal.
Artinya, berfilsafat kritis praktis di publik bukan soal rasionalitas keberpihakan. Bukan pula sekadar argumen berubah orientasi.
Melalui pembacaan McCarthy, Habermas diacu untuk mengembangkan gagasan tentang rasionalitas komunikatif.
Rasionalitas ini tidak diukur dari efektivitas teknis, melainkan dari kemampuan mencapai konsensus melalui argumen yang bebas dari paksaan.
Ibaratnya, diskursus sosialisme ala Presiden Prabowo seperti juga Islam ala Prabowo dituduh sebagai filsafat yang memihak.
Fenomenologi menyebutnya, “eiditik’ sebagai fakta bukan ini bukan itu.
Dan praksisnya, “Zu den Sachen selbst!“ Kembali ke perkara itu sendiri.
Lagi, dengan mengutip Habermas, McCarthy mengungkap bahwa “tujuan tindakan komunikatif adalah pemahaman” (the goal of communicative action is understanding).
Demikian pula, maksud Habermas yang menunjukkan bahwa komunikasi sejati adalah upaya saling memahami, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
Di sinilah letak inti teori kritis.
Ia membongkar struktur sosial yang menghalangi pemahaman timbal balik, lalu membuka ruang bagi partisipasi yang setara.
Lebih jauh, McCarthy menyoroti tiga kepentingan pengetahuan yang dirumuskan Habermas yang teknis, praktis, dan emansipatoris.
Kepentingan emansipatoris menjadi pusat teori kritis, karena memungkinkan manusia merefleksikan kondisi sosial yang menindas dan mencari jalan keluar.
Habermas menulis bahwa “kepentingan konstitutif pengetahuan berakar pada struktur kemungkinan pengetahuan itu sendiri” (knowledge-constitutive interests are rooted in the structure of possible knowledge itself).
Kutipan ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak pernah netral, melainkan selalu terkait dengan kepentingan tertentu.
Tentu saja, bukan kepentingan pada obyek yang dikritik. Tapi, kembali pada subyek kritik itu sendiri.
McCarthy menafsirkan ini sebagai dorongan untuk menjadikan filsafat kritis praktis sebagai proyek pembebasan, bukan sekadar kontemplasi.
Dalam konteks fenomena publik seperti Rocky Gerung, filsafat kritis praktis bisa dipahami sebagai upaya membawa refleksi ke ruang publik, meski berisiko dituduh berpihak pada kekuasaan.
Walhasil, McCarthy melalui filsafat komunikasi praktis Habermas mengingatkan bahwa kritik sejati tidak berhenti pada oposisi.
Tapi, landasannya harus berakar pada rasionalitas komunikatif yang membuka ruang deliberasi.
Dengan demikian, filsafat kritis praktis bukanlah “sosialisme di dan dari istana,” melainkan proyek reflektif yang menuntut komunikasi bebas dari distorsi sistematis, agar publik dapat berpartisipasi penuh dalam menentukan arah sosial-politik.(*)
Manado, 13 September 2026
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








