
Di dalam satu kelas, guru bisa menemukan 30 anak dengan 30 cara menghadapi dunia. Ada yang baru lima menit masuk sudah mengobrol dengan siapa saja. Ada yang duduk tenang, tetapi matanya sibuk mengamati.
Tingkah-polah mereka bermacam-macam. Ada yang mengangkat tangan sebelum guru selesai bertanya. Ada yang sebenarnya tahu jawaban, tetapi memilih menunduk karena tidak nyaman bicara di depan teman-temannya.
Di dalam satu keluarga pun begitu. Dua saudara lahir dari ayah dan ibu yang sama, tinggal di rumah yang sama, tetapi wataknya bisa seperti berasal dari dua planet berbeda.
Anak pertama mudah bergaul dan berani mengambil risiko. Adiknya lebih hati-hati, sensitif, dan perlu waktu untuk akrab. Yang satu cepat melupakan teguran. Yang lain membawanya sampai berhari-hari.
Mengapa mereka berbeda? Pertanyaan itu mendapat tambahan jawaban dari penelitian genetika kepribadian terbaru. Jurnal Nature baru saja menerbitkan penelitian “Robust inference and correlates from genetic associations with personality”.
Penelitian digarap oleh Ted Schwaba, Margaret L. Clapp Sullivan, Wonuola A. Akingbuwa, bersama lebih dari 140 peneliti dalam Revived Genomics of Personality Consortium (ReGPC). Tim ini menggabungkan data dari 46 kohort penelitian di berbagai negara.
Para peneliti menemukan 1.260 varian genetik yang berkaitan dengan lima besar sifat kepribadian atau Big Five. Sebanyak 824 varian di antaranya merupakan temuan baru.
Kepribadian Big Five bukan lima kotak untuk mengurung manusia, melainkan lima dimensi untuk memahami kecenderungan kepribadian. Extraversion berkaitan dengan keaktifan dan kegemaran berinteraksi; agreeableness dengan sikap kooperatif dan perhatian kepada orang lain.
Sementara conscientiousness berhubungan dengan keteraturan, ketekunan, dan tanggung jawab; neuroticism terkait dengan kecenderungan mengalami kecemasan atau emosi negatif; sedangkan openness to experience menyangkut imajinasi, rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru.
Setiap orang memiliki kelima dimensi tersebut dalam kadar berbeda. Namun, jangan buru-buru mencari “gen anak rajin”, “gen pemalu”, atau “gen calon pemimpin”.
Ted Schwaba, penulis utama penelitian dari Michigan State University, menegaskan bahwa tidak ada satu gen yang menentukan kepribadian. Pengaruh setiap varian sangat kecil. Pengaruh yang lebih berarti muncul dari kombinasi banyak varian.
Temuan ini memperkuat rumus bahwa manusia memang membawa kecenderungan bawaan. Tetapi penelitian tersebut juga menegaskan kuatnya peran lingkungan. Gen dan lingkungan tidak bekerja seperti dua pasukan yang saling berebut kemenangan. Keduanya berinteraksi sepanjang kehidupan.
Contohnya, varian yang berkaitan dengan openness juga berhubungan dengan kecenderungan tinggal di lingkungan yang lebih kosmopolitan. Pengalaman hidup di lingkungan itu kemudian dapat memperkuat atau membentuk kecenderungan yang sama.
Jadi, anak bukan kertas kosong, tetapi juga bukan buku yang seluruh isinya sudah dicetak sejak lahir. Ia seperti benih yang membawa kemungkinan, lalu tumbuh dalam tanah tertentu.
Di sinilah guru mempunyai pekerjaan penting. Anak pendiam tidak otomatis kurang mampu. Jika guru langsung menyebutnya “tidak percaya diri”, lalu memaksanya tampil tanpa persiapan, ia mungkin hanya memperkuat kecemasannya.
Guru dapat memulai dari jawaban tertulis, diskusi berpasangan, kelompok kecil, lalu presentasi. Guru tidak menghapus sifat pendiamnya, tetapi menyediakan jalan agar keberanian tumbuh.
Anak yang sangat aktif pun tidak selalu membutuhkan lebih banyak perintah untuk diam. Energinya dapat diarahkan menjadi kekuatan: menjadi moderator diskusi, pemimpin eksperimen, penjaga waktu, atau penyaji hasil kelompok.
Anak yang teliti mungkin unggul dalam tugas yang membutuhkan ketekunan, tetapi perlu bantuan ketika menghadapi perubahan mendadak. Anak spontan mungkin kurang rapi, tetapi mampu menemukan solusi dalam situasi yang berubah.
Karena itu, guru perlu mengganti kebiasaan memberi label. Gantilah dengan kebiasaan mencari pola.
Jangan berhenti pada “Budi malas”. Tanyakan: kapan ia kehilangan minat? Apakah ia kesulitan memahami instruksi? Apakah ia lebih aktif ketika belajar melalui praktik? Apakah ia lambat memulai karena takut salah? Pertanyaan yang lebih baik menghasilkan perlakuan yang lebih tepat.
Penelitian ini juga menemukan hubungan antara pola genetik kepribadian dan berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan, pendidikan, karier, pendapatan, umur panjang, serta kebiasaan sehari-hari.
Tetapi hubungan statistik bukan ramalan nasib. Gen yang berkaitan dengan suatu kecenderungan tidak otomatis menyebabkan seseorang pasti sakit, kaya, atau berhasil dalam karier tertentu.
Justru karena gen berpengaruh, kita perlu rendah hati. Kita tidak menciptakan anak dari nol. Namun, karena lingkungan juga berpengaruh, kita tidak boleh menyerah dengan kalimat, “Memang sudah dari sananya.” Kalimat itu sering menjadi alasan paling nyaman untuk tidak mengubah cara mendidik.
Tugas orang tua dan guru bukan membuat semua anak memiliki watak yang sama. Tugas mereka adalah mengenali kecenderungan masing-masing anak, mengembangkan kekuatannya, dan membantu mengelola hal-hal yang menghambat pertumbuhannya.
Pendidikan bukan pabrik yang menghasilkan barang seragam. Ia lebih mirip kebun: tanaman berbeda membutuhkan perlakuan berbeda. Maka, ketika anak tidak seperti kakaknya atau murid tidak cocok dengan metode mengajar kita, jangan buru-buru bertanya, “Mengapa dia tidak bisa seperti yang lain?”
Tanyakan, “Siapa sebenarnya anak ini, dan lingkungan seperti apa yang membuatnya bertumbuh?”
Mungkin masalahnya bukan anak itu terlalu berbeda. Mungkin kita terlalu lama mengira bahwa mendidik berarti membuat semua anak menjadi sama.(*)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 13 September 2026
AHMADIE THAHA (Cak AT)
Wartawan Senior








