Sunday, March 3, 2024
HomeSains TeknologiResensiResensi Buku: Hutang Barat Terhadap Islam

Resensi Buku: Hutang Barat Terhadap Islam

images

Judul      : What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization

Pengarang     : Tim Wallace-Murphy

Tahun Terbit : 2006

Penerbit       : Watkins Publishing London

Halaman      : 272

ISBN-10         : 1842931903

ISBN-13         : 978-1842931905

Sejak peristiwa 9/11 yang direspon Amerika Serikat (AS) dengan perang melawan terorisme melalui Presiden Bush Jr, “permusuhan” antara negara-negara Barat dengan Islam menjadi tidak terelakkan. Pandangan Samuel Huntington mengenai benturan peradaban antara Islam dan Barat berpengaruh besar dalam benak para pembuat kebijakan di negara-negara Barat. Islamophobia menjadi semakin meningkat di kawasan Eropa dan AS. Kebijakan anti-imigran dan bahkan populisme Trump (Presiden AS terbaru) yang anti Islam pun semakin mendapatkan ruang.

Dalam situasi yang “kompleks” antara Islam dan Barat seperti ini, sejarawan Tim Wallace-Murphy dalam bukunya yang berjudul What Islam Did For Us mengajak pembaca untuk menelusuri hutang Barat terhadap Islam. Buku dengan tebal 272 halaman tersebut berusaha untuk mengungkap kontribusi Islam terhadap peradaban Barat. Buku ini menjadi menarik untuk dibaca karena Islam selama ini dipersepsikan berlawanan dengan Barat. Sementara buku ini mengulas kontribusi Islam di Abad Pertengahan terhadap bangkitnya intelektualitas dan peradaban Barat di era Renaissance.

Adapun hutang Barat terhadap Islam adalah toleransi semasa pemerintahan Islam di Andalusia (Spanyol) dan di Baghdad (Iraq) yang memungkinkan terjadinya persemaian intelektual dan perdagangan antar komunitas baik oleh ilmuwan Muslim maupun komunitas Yahudi. Kaum Yahudi, penganut Zoroaster, juga pemeluk agama lainnya diperlakukan secara terhormat di bawah pemerintahan Muslim. Hal ini tidak mereka rasakan selama pemerintahan sebelumnya: Bizantium di Suriah, Palestina, dan Mesir, Sassaniah di Persia dan Visigoth di Spanyol.

Selama pemerintahan dinasti Abbasiyah di Baghdad, ilmuwan Muslim mempelajari manuskrip klasik dari Yunani. Para ilmuwan ini telah mengetahui bahwa bumi itu bulat dan dapat mengukur derajat longitudinal berabad-abad sebelum orang Kristen Eropa berbicara mengenai itu. Mereka mengungkap astronomi dari orang Chaldeans, dan mendorong ahli kimiah Yahudi untuk menerjemahkan karya Galen, fisikawan Yunani abad kedua ke dalam bahasa Arab. Sejarawan Arab At-Atabari menulis Annals of the Prophets and Kings, yang melakukan penelitian selama 15 tahun di perpustakaan Yunani dan Persia di bawah pemerintahan Islam.

Pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid, pengajaran dan penelitian dalam bidang filsafat, hukum, sejarah, geografi, sastra dan arsitektur berkembang begitu pesat. Anaknya, Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah sebagai pusat diseminasi dan pengkajian terhadap akumulasi pembelajaran filsafat Yunani. Baghdad menjadi episentrum kebudayaan yang paling canggih di dunia saat itu.

Berbagai karya dan hasil penelitian para ilmuwan Muslim ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh komunitas Yahudi. Hisdai Ibnu Saprut, yang menjadi pejabat tinggi di peradilan Cordoba dan fisikawan menerjemahkan Materia Medica, sebagai risalah pengobatan dalam bahasa Arab yang terinspirasi dari botanis Yunani, Dioscrides. Di Spanyol, komunitas Yahudi berpartisipasi dalam translasi dari bahasa Arab ke Latin beberapa karya filsafat, yang menjadi jembatan antara budaya kuno dunia dan Eropa Abad Pertengahan.

Aderald sebagai ‘ilmuan Inggris Pertama’ menjelajah Suriah dan Sisilia selama tujuh tahun kemudian menerjemahkan beberapa karya ilmuwan Arab. Karya Euclid yang berjudul Element juga diterjemahkan dan diperkenalkan ke dunia Eropa hingga menjadi buku yang paling berpengaruh dalam bidang Geometri. Al-Khawarizmi juga menerjemahkan Zijj sebagai tabel astronomi dan memperkenalkan ke dunia Eropa. Proses persemaian inilah yang kemudian menjadi cikal bakal pendirian universitas-universitas di Barat seperti Oxford dan Cambridge dan beberapa universitas di Paris.

Permusuhan antara Islam dan Kristen baru terjadi ketika terjadi Perang Salib. Dalam perang inilah terjadi persekusi terhadap pemeluk Muslim dan Yahudi di Andalusia. Peristiwa ini terdokumentasi dengan baik dalam buku Matthew Carr yang berjudul Blood and Faith: The Purging of Muslim Spain.

Para ilmuwan Muslim dan Yahudi tidak lagi secara bebas mengembangkan intelektual dan kebudayaannya. Ditambah dengan imperialisme yang dilakukan negara-negara Barat terhadap negara-negara dengan mayoritas Muslim di Asia dan Afrika. Hal ini membentuk sikap oposisi kaum Muslim terhadap Barat.

Mengakhiri bukunya, Murphy menulis dalam bab terakhirnya, “Ilmuan Muslim telah mendorong dan mengkaji ilmu Yunani Kuno dan meletakkan dasar ilmu pengetahuan, kesehatan, astronomi dan navigasi modern yang kemudian menginspirasi beberapa pencapaian intelektual terbesar di Barat. Adapun apabila ada tidak ada toleransi terhadap orang pemeluk agama lain, tidak mungkin komunitas Yahudi bisa bertahan dan memberikan sumbangsihnya dalam renaissance. Kita (Barat) memiliki hutang terhadap dunia Muslim yang tidak pernah akan terbayar”.

Paparan Murphy ini menjadi menarik untuk dilihat. Bahwa dalam sejarahnya, Islam mampu mencapai peradaban tertinggi dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan tanpa harus meninggalkan agamanya. Islam menjadi terlalu modern di masanya. Ajaran Islam sendiri mewajibkan setiap kaumnya untuk menuntut ilmu. Selain itu, penegasan bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amalan yang dibawa mati merupakan pertanda bahwa Islam sangat mengapresiasi ilmu. Orang berilmu juga mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah.

Oleh karenanya, peradaban Islam yang agung tidak akan terwujud tanpa tegaknya ilmu pengetahuan. Sebagaimana kata Murphy di paragraf terakhir bukunya, “Islam telah menginspirasi di masa lalu. Di masa depan, Islam akan berjaya kembali dalam bidang dimana ajaran ini memiliki pengalaman yang lebih di banding ajaran lainnya – toleransi, kreativitas, dan penghormatan”.

GRIENDA QOMARA

Penulis Muda dan Alumnus Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular