
SURABAYA, Cakrawarta.com – Di balik riuh dan padatnya pemukiman RW 04 Mojo, Kecamatan Gubeng, Surabaya, sebuah gerakan sunyi namun bertenaga sedang tumbuh. Bukan sekadar deretan tanaman hijau atau keriuhan suara ayam, di sana ada harga diri para pemuda yang sedang diperjuangkan.
Sabtu (9/5/2026), tim Cakrawarta.com berkesempatan mengintip langsung dapur kemandirian bertajuk Remas Farm Mojo. Sebuah proyek swadaya yang membuktikan bahwa pemuda kota tak harus jauh-jauh ke desa untuk menjadi petani, dan tak harus bergantung pada donasi untuk menghidupkan organisasi.
Keberhasilan yang terlihat hari ini tidak datang dalam semalam. Ahmad Hanafi, salah satu inisiator serta penanggung jawab operasional Remas Farm Mojo, mengenang kembali awal mula langkah mereka pada tahun 2022.
“Awalnya ada warga yang ingin men-support kemandirian anak muda di sini, namanya Pak Yuswo. Kami punya visi yang sama, yaitu anak muda Mojo harus mandiri,” ujar Hanafi kepada Cakrawarta.com.
Namun, semangat saja ternyata tidak cukup. Alam punya cara sendiri untuk memberi pelajaran. Hanafi bercerita betapa mereka sempat berkali-kali gagal saat budidaya ikan nila, patin, hingga lele di masa awal.
“Kami akhirnya belajar ke banyak kelompok tani. Beruntung ada yang tidak pelit ilmu seperti Jago Karah Farm. Kami belajar teknik memberi makan hingga cara menjaga psikis ayam supaya tidak stres,” tambahnya.
Ketekunan itu berbuah manis hingga pada akhir 2025, roda ekonomi Remas Farm Mojo mulai berputar.
Bagi Syaifullah Syam Humam Prayogo, yang akrab disapa Yoga, Remas Farm Mojo bukan sekadar tempat beternak. Sebagai Ketua Karang Taruna RW 04 Mojo, ia melihat ini sebagai solusi atas masalah klasik organisasi kepemudaan, yakni pendanaan.
“Niat kami adalah semua anak punya usaha dan bisa jalan sendiri. Jadi, kalau ada agenda kepemudaan, Remas atau Karang Taruna tidak perlu lagi pakai cara lama seperti proposal keliling,” tegas Yoga dengan optimis.
Mimpi itu kini mulai mendekati nyata. Secara bertahap, hasil penjualan produk mereka terus melonjak. Telur ayam kampung yang awalnya hanya laku beberapa butir, kini bisa mencapai 150 butir per hari. Begitu juga dengan ikan patin yang permintaannya menembus 6 kilogram setiap hari.
Saat ini, Remas Farm Mojo telah menjelma menjadi ekosistem yang hampir lengkap. Selain ayam dan ikan nila, patin, dan lele, lahan mereka juga dipenuhi cabai, sawi, hingga tomat yang hanya tinggal menunggu waktu panen.
Apa yang dilakukan para pemuda Mojo adalah bukti nyata bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari gang-gang sempit di tengah kota. Mereka tidak hanya memberikan makan bagi warga sekitar, tapi juga memberi teladan tentang cara mengabdi tanpa harus membebani.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








