Sunday, February 25, 2024
HomeGagasanLiputan KhususRais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur Hingga Ketua Umum LVRI (4)

Rais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur Hingga Ketua Umum LVRI (4)

Rais Abin cakrawarta

Nasib bangsa Arab-Palestina lebih menderita dari bangsa manapun di dunia ini. Dahulu, bangsa ini memiliki wilayah yang luas, bukan dikarenakan pembagian wilayah, akibat Perang Dunia I dan II, akan tetapi karena hasil perjuangan bangsa Arab meluaskan pengaruhnya ke berbagai wilayah di muka bumi ini.

Hari ini, kejayaan bangsa Arab itu masih tersisa, dan bahkan ada pula yang sudah beralih ke tangan bangsa Barat, yang diwakili Amerika Serikat, Inggris dan Prancis, sebagai pemenang dalam Perang Dunia II. Termasuk di sini Rusia yang sebelumnya dinamakan negara Uni Soviet. Juga di Timur, pengaruh daratan Tiongkok yang sangat luas, sekarang terbagi dua, Tiongkok Komunis diwakili Republik Rakyat China dan Tiongkok Nasionalis yang sekarang bernama Taiwan dan dulunya mengklaim pertama kali mendiami daratan luas Tiongkok.

Tentang Tiongkok ini, ada ucapan pemimpin mereka tentang AS dan Rusia dalam hal politik dominasi mereka yang berasal dari Mao Zedong (Mao Tse Tung), “Let the two tigers fight while the wise monkey watches them from the hill top.”

Artinya ‘Biarkan dua harimau bertarung, sementara kera yang arif bijaksana menontonnya dari puncak bukit.” Kalimat ini sangat menarik, terutama sikap RRC baru-baru ini terhadap Myanmar. Tiba-tiba, ia menyatakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB, agar Myanmar tidak dijatuhi sanksi atas tindakannya terhadap penduduk Muslim Rohingya.

Begitu pula pengaruh Amerika Serikat dan sekutunya dan Rusia di Suriah. Peranan Rusia yang mendukung Pemerintahan Bashar al Assad, menyebabkan Amerika Serikat gagal menggulingkannya sebagaimana menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein di Irak. Terlihat bagaimana AS dan Rusia mengeluarkan senjata-senjata mutakhirnya. Unjuk kekuatan senjata modern terlihat di medan pertempuran di Suriah.

Kembali ke masalah Israel. Negara ini memperoleh dukungan kuat dari Amerika Serikat. Tidak heran ketika penduduk Yahudi yang awalnya terpencar ke mana-mana kembali ke negara Israel tanggal 14 Mei 1948, setelah diproklamirkan kemerdekaannya oleh para tokoh-tokoh Yahudi di pengasingan. Sudah tentu yang mendukung kemerdekaan Israel pertama kali adalah Amerika Serikat.

Setelah penduduk Yahudi memproklamirkan kemerdekaannya, beberapa bulan kemudian, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan Resolusi Dewan Keamanan No.181, tertanggal 29 November 1947. Intinya membagi wilayah Palestina yang luas itu, dipecah menjadi tiga bagian. Kaum Yahudi mendapat 56 persen dari seluruh wilayah Palestina, meskipun pada waktu itu, hanya merupakan 30 persen dari seluruh penduduk di wilayah itu. Yang mengherankan, si pemilik wilayah, yaitu penduduk Arab Palestina, hanya memperoleh 42 persen. Dua persennya, termasuk kota tua Jerusalem masuk dalam pengawasan internasional. Anehnya secara kasat mata, aturan dibawah pengawasan internasional tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan kita lihat wilayah Muslim di Masjid Al-Aqsa, sudah dimasuki tentara Israel. Bahkan sering terjadi bentrokan antara penduduk Muslim Palestina di masjid tersebut dengan tentara Israel.

Lebih menyedihkan, yang sudah dibagi hanya 42 persen untuk penduduk Arab Palestina, sekarang semakin lama tanahnya pindah ke wilayah Israel. Kenapa demikian? Israel yang sudah memperoleh bagian lebih besar dari warga Arab Palestina, malah melakukan kebijakan membangun pemukiman baru di wilayah yang sering masuk ke wilayah Palestina, sehingga seringkali kita lihat di media elektronik, pertikaian penduduk Palestina di Jalur Gaza dengan tentara Israel. Biasanya yang menjadi korban adalah penduduk Arab Palestina, karena mereka memprotes hanya dengan menggunakan batu, sementara tentara Israel menggunakan senjata. Kata militer Israel, mereka menggunakan senjata dengan peluru hampa. Tetapi lihatlah pertikaian itu dengan kasat mata. Banyak penduduk Arab Palestina dilarikan ke rumah sakit dan banyak juga meninggal dunia. Apakah ini yang dinamakan senjata tentara Israel itu dalam menghadapi penduduk Palestina bersenjatakan batu, hampa peluru?

Baru-baru ini, di wilayah Palestina yakni Tepi Barat, yang tidak langsung berbatasan dengan Israel, pun akan didirikan pemukiman baru untuk warga Yahudi. Saya tidak mengikuti perkembangan terakhir, apakah sudah dilaksanakan pemukiman baru itu, atau belum. Yang jelas di wilayah Tepi Barat ini, di sinilah pengikut pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) bermarkas. Di sini pulalah mantan Presiden Palestina Yasser Arafat bermarkas setelah sebelumnya berada di berbagai wilayah secara berpindah-pindah, seperti di Irak dan Lebanon.

Pertanyaan berikutnya, meski Yasser Arafat sudah diberi julukan Presiden Palestina, pun pimpinan Palestina yang menggantikannya, juga dibukanya berbagai Kedutaan Besar Palestina di beberapa negara, termasuk di Indonesia, apakah benar bahwa warga Palestina sudah merdeka? Jawabannya, belum.

Memang semangat untuk merdeka bagi bangsa Palestina sudah nada sejak penduduk Yahudi mendeklarasikan kemerdekaan sebagai negara Israel. Tetapi itu baru secara de facto belum diakui secara de jure. Faktanya boleh saja disebut Palestina sudah merdeka, karena sudah ada wilayah, penduduk dan sudah memiliki presiden serta duta besar. Hanya yang belum pengakuan internasional. Jika hal itu sudah terpenuhi, berdirilah Negara Palestina Merdeka.

Kita cemas dengan berdirinya pemukiman baru warga Israel. Boleh jadi dalam jangka beberapa tahun ke depan, wilayah Arab Palestina yang luas, semakin kecil, kemudian hilang dari peta dunia. Gejala ke arah itu sudah kelihatan, ketika mau mencari peta wilayah Palestina di mesin pencarian¬†google, ya, klik dulu Israel. Berarti sudah diprediksi, penduduk Arab Palestina ini tanah airnya semakin kecil dan hilang dari peta dunia. Jika demikian, bisa menjadi alasan Israel dan Amerika Serikat, dan berkata diplomatis, “siapa yang tidak menginginkan Palestina merdeka. Tetapi wilayahnya kecil, tidak memenuhi syarat hukum internasional.”

Itu bisa saja menjadi alasan untuk menggagalkan berdirinya negara Palestina, sedangkan syarat dari tidak ada wilayah menjadi wilayah yang kecil bisa saja diubah di forum PBB. Bukankah Amerika Serikat masih satu-satunya negara yang membayar iuran PBB terbesar? Mudah-mudahan tidak demikian. Sekretaris Jenderal PBB yang baru dilantik Antonio Gutteres memprioritaskan agar masalah Palestina dan Israel bisa selesai di era kepemimpinannya. Minggu lalu, ia sudah berkunjung ke Israel dan Palestina.

(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan dan Penulis Senior

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular