Friday, February 23, 2024
HomeGagasanLiputan KhususRais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur Hingga Ketua Umum LVRI (3)

Rais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur Hingga Ketua Umum LVRI (3)

Rais Abin cakrawarta

Tentang penempatan pasukan keamanan internasional, semula merupakan usul Dag Hammarskjold (kemudian menjadi Sekretaris Jenderal/Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB) dan Lester B Perason (kemudian menjadi Menteri Luar Negeri Kanada) yang kemudian direalisasikan oleh Majelis Umum PBB.

Perlu dicatat, Dag Hammarskjold menjadi Sekjen PBB ke-3, berasal dari Swedia, setelah Trygve Halvdan Lie, Sekjen kedua dari Swedia dan Sekjen sementara dari Inggris, dulu namanya Britania Raya. Dag Hammarskjold ini meninggalnya dalam kecelakaan pesawat di Rhodesia Utara (sekarang Zambia).

Pada waktu itu, “United Nations Emergency Force (UNEF)”, terbentuk. Sebuah model generasi pertama dari pasukan perdamaian internasional, untuk membantu menjaga perdamaian di kawasan Terusan Suez, termasuk memaksa pasukan Inggeris, Perancis dan Israel mundur dari Terusan Suez, membentuk daerah penyangga di antara pasukan Mesir dan Israel, hingga ke penyelesaian gencatan senjata.

Dalam hal ini, Indonesia oleh Sekjen PBB didaftarkan sebagai salah satu negara di antara negara-negara penyedia pasukan ke UNEF yang disebut “the troop-contributing countries (TCCs),” yang terdiri dari personel militer dan polisi. Sejak itu pula dikenal istilah Kontingen Garuda, dari Indonesia, di mana untuk pertama kalinya Kontingen Garuda, dikirim ke Gaza, Sinai, Mesir (Timur Tengah) sebagai pasukan UNEF I dari Januari hingga September 1957 di bawah pimpinan Letnan Kolonel Hartoyo.

Di samping Indonesia, ada beberapa negara lain yang juga mengirim pasukan dalam Pasukan Perdamaian PBB UNEF I ini, yaitu Kanada, Yugoslavia, India, Brazil, Kolumbia, Denmark, Swedia, Norwegia dan Finlandia. Perkiraan biaya yang dikeluarkan untuk mendukung kesuksesan operasional UNEF I ini sekitar 220 juta dollar AS. Negara-negara yang ikut mendukung dana tersebut, di antaranya Amerika Serikat, sekitar 48 persen, Inggeris 12 persen, Perancis sembilan persen, Kanada empat persen, India tiga persen, Italia tiga persen, Jepang dua persen dan Australia dua persen.

Sebelum UNEF I terbentuk, sudah ada pasukan perdamaian yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB yang disebut UNTSO (UN Truce Supervisory Mission). Tugasnya sama-sama di Timur Tengah. Dibentuk tahun 1948, setelah Israel memoroklamirkan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948, yang tugas UNTSO ini mencegah pertikaian antara Palestina dan Israel. Namun pasukan-pasukan yang terlibat di dalamnya hanya sebagai pengamat, sedangkan Indonesia tidak terlibat di dalamnya, karena baru resmi menjadi anggota PBB, 28 Desember 1950.

UNEF I terbentuk berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB No 1001 (ES-I) pada 7 November 1956. Tetapi semua pasukan perdamaian ini, baru efektif beroperasi tanggal 1 Maret 1957. Beroperasi selama 10 tahun enam bulan, hingga 1967.

Setelah UNEF I terbentuk, terjadi perkembangan baru terhadap bangsa Palestina di pengasingan. Tahun 1964 berdirilah apa yang dinamakan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO/Palestine Liberation Organization), sebuah organisasi yang memperjuangkan Pembebasan wilayah Palestina.Organisasi ini juga berusaha mempersatukan seluruh warga Palestina yang terpencar di berbagai dunia Arab dan mengklaim sebagai satu-satunya organisasi yang berhak mewakili seluruh rakyat Palestina. Situasi memanas, PLO di bawah dukungan Yasser Arafat waktu itu dengan al-Fatahnya, menyerang Israel secara terus menerus. Sudah tentu serangan ini dibalas Israel dan langsung menyerang basis-basis PLO di Lebanon. Korban pun berjatuhan dari pihak sipil, wanita dan anak-anak.

Tetapi pasukan UNEF I ini pada 16 Mei 1967, ditarik oleh Sekjen PBB yang pada waktu itu dijabat oleh U Thant atas desakan Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser. Alasannya karena Mesir telah memobilisasi pasukan dan telah masuk ke wilayah timur melalui Sinai hingga ke perbatasan Israel. Pasukan UNEF I yang ditarik, 978 tentara India, 795 tentara Kanada, 579 tentara Yugoslavia, 530 tentara Swedia, 430 tentara Brazil dan 61 tentara Norwegia.

Ini merupakan pengalaman yang terburuk dari Sekjen U Thant, Sekjen PBB ke-4 yang berasal dari Burma, atau sekarang disebut Myanmar yang negaranya sedang bergolak itu. Sebagai Sekjen PBB yang tugas utamanya menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah tidak tercapai.Boleh jadi ini pula sebabnya, ia mengundurkan diri setelah menyelesaikan tugasnya di periode ke-2.

Setelah pasukan perdamaian PBB ditarik, meletuslah Perang Enam Hari antara negara-negara Arab melawan Israel. Pada 25 Mei 1967, 100 ribu tentara Mesir, 1000 tank dan 500 senjata berat sudah mendekat ke perbatasan Israel. Pasukan Mesir memperoleh dukungan dari Suriah yang sekarang tengah bergolak, Irak, Jordania dan Arab Saudi. Jika dijumlah secara keseluruhan, kekuatan negara-negara Arab waktu itu, 547 ribu pasukan, 2.504 tank dan 957 pesawat tempur, melawan Israel, yang berkekuatan hanya 264.000 pasukan, 800 tank dan 300 pesawat tempur.

Perang ini dimulai pada 5 Juni 1967, perang ini sungguh dahsyat. Pukul 07.45 pagi waktu Israel, pada tanggal itu, sirine meraung-raung dari Markas Angkatan Udara Israel, tanda apa yang disebut Israel sebagai lanjutan Operasi Fokus, dimulai lagi dengan didukung 300 jet tempur. Langkah pertama Israel pada 5 Juni pagi hari, adalah menyerang Angkatan Udara Mesir yang dianggap memiliki persenjataan lebih canggih di antara negara Arab lainnya. (bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan dan Penulis Senior

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular