Sunday, March 3, 2024
HomeGagasanRais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur hingga Ketua Umum LVRI (12)

Rais Abin, dari Panglima Dunia, Calon Gubernur hingga Ketua Umum LVRI (12)

Rais Abin cakrawarta

Tentang penyelundupan senjata ini perlu dijelaskan, bahwa pada saat perang kemerdekaan, penyelundupan ini dilegalkan. Kita kekurangan senjata untuk melawan pasukan Belanda yang sudah memiliki persenjataan modern dan lebih canggih. Seandainya kita bertahan saja, tanpa menyelundup, maka mustahil kita akan menang.

Di satu sisi, kita maju selangkah dengan taktik perang gerilya. Juga didukung dengan wilayah Indonesia berbukit-bukit, yang sesuai dengan perang gerilya tersebut.

Masih di masa-masa perjuangan itu, Rais Abin pernah juga memimpin operasi darurat dari Singapura ke Bukittinggi (Sumatera Barat). Rais Abin direkrut oleh Syahril yang datang ke Singapura setelah operasi berjalan. Ia mengaku orangnya Zulkifli Lubis. Kami menerimanya bergabung, meski dedikasinya tidak begitu nyata, padahal ia seorang terpelajar, lulusan AMS.

Kapal pun akhirnya tiba di sebelah utara Rengat. Tiba-tiba mesin kapal mati dan merapat ke Sungai Guntung. Menurut Rais Abin, kapal ini harus turun mesin. Tetapi sulit juga, karena kalau harus menunggu hingga perbaikan selesai, bisa membutuhkan waktu yang lama.

Rais Abin membuat keputusan. Sebagian dari kami ambil jalan darat ke Rengat, sementara kapal diperbaiki. Rais Abin mengajukan diri sebagai orang yang ke Bukittinggi. Minimal Rais Abin berasal dari kota ini. Seandainya, perlu bantuan tidak terlalu merepotkan. Ia dibantu beberapa awak kapal. Perjalanan menghabiskan waktu empat hari, bukan karena jauhnya, melainkan medan yang sangat sulit, keluar masuk hutan belantara. Di samping itu, mereka harus menyeberangi sungai beberapa kali dengan perahu.

Apa yang terjadi setelah kembali ke tempat semula? Kami terkejut kapalnya sudah tidak ada. Kami kembali lagi ke Rengat, masuk keluar hutan lagi. Kesal, marah, lelah bercampur menjadi satu. Rais Abin marah sekali kepada Syahril, kalau bertemu akan dibunuh. Itu karena saking kesalnya.

Setibanya di Rengat, Rais Abin bisa juga ke Singapura. Suatu ketika saat kapal melaju penuh, sebuah tembakan kapal Belanda mengenai kamar mesin. Ledakannya terlihat di udara. Kapal terhenti. Rombongan Rais Abin pun pasrah dan sejumlah marinir Belanda naik ke atas kapal.

Kemudian Rais Abin bersama 11 awak kapal ditahan di penjara Tanjung Pinang. Sebulan kemudian dipindahkan ke penjara Gunung Kijang yang letaknya tidak jauh dari Tanjung Pinang. Berdasarkan bukti-bukti yang diajukan sebagai tentara, maka status tahanan berubah menjadi tawanan perang. Rais Abin dan kawan-kawannya ditahan selama setahun lebih.

Sebelum masuk tahanan di Gunung Kijang, seperti biasa diinterogasi. Ketika masih ditawan di sini, hampir seluruh rekan-rekan Rais Abin yang sama-sama menyelundupkan senjata ikut ditahan. Kami baru dibebaskan bulan November 1949, setelah berlangsungnya perundingan Roem-Royen di Jakarta.

Itulah awal karier Rais Abin sebagai militer. Tahun 1956, ia masuk ke sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD), sekarang Seskoad yang pada waktu itu di bawah pimpinan Kolonel Djatikoesoema. Satu kelas dengan Poniman, Widodo, Makmun Murod, Soetopo Joewono, Khaharuddin Nasution dan Hutapea, rekan kerja ketika menyelundupkan senjata.

Selesai SSKAD, pangkatnya naik menjadi mayor dan menjabat Wakil Kepala Staf Kodam Nusa Tenggara. Dua tahun kemudian ditarik ke Jakarta, karena pada tahun 1959 dipanggil Ahmad Yani, Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dengan menyampaikan sebuah pesan M Jusuf, saat itu sebagai Kepala Staf Kodam Hasanuddin membantunya di Makassar. Waktu itu Panglima Daerah Militernya (Pangdam) adalah Andi Matalatta.

Tahun 1962, dipanggil ikut ujuan sekolah perwira di luar negeri. Lulusan terbaik nomor satu dan karena ingin ke Eropa, beliau pilih Jerman. Akhirnya ditukar dengan jatah Letkol Klaproth ke Australia. Bersama Letkol Sarwo Edhie yang kelak menjadi mertua mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menempuh studi di Queenscliff, Victoria, Australia. Delapan puluh persen siswa Staff and Command itu berasal dari Australia dan Selandia Baru. Siswanya datang dari banyak anggota persemakmuran.

Tahun 1963 ketika liburan Natal, pulang ke tanah air bersama Sarwo Edhie. Tahun 1965, setelah menyelesaikan studi di Australia, Rais Abin langsung menjabat Asisten Pembinaan dan Pengendalian di Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung pimpinan Brigjen Agus Siswadi, bertepatan ada pergantian Wakil Komandan dari Kolonel Tengku Hamzah kepada Kolonel Sutanto Wiryoprasonto. Tahun 1967, Brigjen Agus ditarik ke Mabes AD diganti Sutanto.

Tahun 1972, Kolonel Rais Abin masuk Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas). Bertemu kembali dengan Ahmad Kosasih yang sudah Letnan Jenderal.

(bersambung)

DASMAN DJAMALUDDIN

Jurnalis, Sejarawan dan Penulis Senior, Tinggal di Depok

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular