
Tempo hari, Prof Komaruddin Hidayat bertanya pada saya begini, “Apakah usia itu sebuah takdir? Jika itu takdir, mengapa manusia berdoa minta panjang umur? Apakah ada ayat atau hadits doa minta panjang umur?” Seorang guru besar, apalagi pernah menulis “Psikologi Kematian”, jika bertanya demikian, apa perlu saya jawab?
Tapi saya coba memahami, pada tubuh manusia, usia dan penuaan itu bukan peristiwa. Ia proses. Ia bukan letupan kembang api, melainkan lilin yang menipis sambil tetap tersenyum seolah masih panjang. Kita sering menyangka usia ditentukan kalender. Padahal tubuh tidak pernah membaca tanggal merah. Ia hanya menghitung kerusakan.
Di balik kulit yang masih bisa disepuh skincare, di balik wajah yang masih bisa ditipu filter, bedak dan gincu, ada tiga sistem yang bekerja seperti panitia kecil umur panjang: telomer sebagai penjaga ujung DNA, autofagi sebagai petugas kebersihan sel, dan ribosom sebagai buruh pabrik protein.
Jika ketiganya akur, tubuh awet. Jika salah satunya mogok, penuaan datang bukan sambil mengetuk pintu, tapi langsung duduk di ruang tamu. Itulah kesimpulan tiga orang ahli pemenang Hadiah Nobel. Tulisan pertama ini kita mulai dari telomer yaitu makhluk mikroskopik yang lebih jujur sebagai identitas daripada KTP.
Telomer itu ibarat plastik kecil di ujung tali sepatu. Namanya aglet. Tanpa aglet, tali sepatu akan terurai, kusut, dan tak bisa lagi dimasukkan ke lubang sepatu. DNA manusia pun begitu. Ujung-ujungnya dilapisi telomer agar informasi genetik tidak rusak setiap kali sel membelah.
Masalahnya, setiap terjadi pembelahan sel, maka terjadi pula pemotongan kecil. Sedikit saja. Tapi rutin setiap hari, bahkan mungkin setiap detik. Dan hidup ini, sayangnya, terlalu rajin membelah sel mulai saat makan, terluka, stres, kurang tidur, marah meledak-ledak, semua meminta sel bekerja lembur.
Dr. Elizabeth Blackburn, yang kemudian mendapat Nobel 2009, menemukan bahwa telomer kita memendek seiring waktu. Bukan hanya karena usia, tapi karena cara atau gaya hidup. Ini penting. Karena artinya tua bukan soal umur, tapi soal gaya hidup yang terlalu sering memaksa tubuh yang sejatinya tiap saat berkata, “sudah, cukup.”
Dalam riset terkenal bersama psikolog Elissa Epel, Blackburn menemukan sesuatu yang membuat dunia medis terdiam sejenak. Para ibu yang merawat anak sakit kronis memiliki telomer yang secara biologis tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Bukan karena mereka tidak makan vitamin, tapi karena stres terus.
Stres ternyata gunting telomer paling tajam. Musuh terbesar telomer justru stres ini, sementara obatnya paling murahbahkan gratis. Tidak perlu resep dokter, kartu asuransi atau diskon marketplace. Tubuh hanya butuh satu hal yang sering kita anggap remeh yakni berhenti sebentar.
Ilmu saraf modern mencatat bahwa bernapas dalam-dalam selama 10-15 menit, doa yang khusyuk, dzikir perlahan, meditasi ringan, atau sekadar berjalan tanpa ponsel, itu semua mampu menurunkan hormon kortisol secara nyata. Kortisol inilah algojo telomer. Ia tidak membunuh sekaligus, tapi menggerogoti pelan-pelan.
Penelitian dari UCSF menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan regulasi emosi yang baik memiliki aktivitas telomerase lebih tinggi yang artinya, tubuh mereka masih sempat menambal kerusakan yang terjadi setiap hari. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin telah lama menulis panjang soal stres, emosi, marah (ghadhab).
Lucunya, kita rela membayar mahal untuk makanan organik, suplemen impor, dan alat olahraga canggih untuk anti-aging, tapi pelit memberi tubuh waktu tenang. Padahal ketenangan tidak dijual karena ia tidak bisa dipatenkan. Ia hanya hadir jika kita mau menepi sejenak dari kebisingan yang kita ciptakan sendiri.
Telomer ternyata tidak menuntut hidup mewah. Ia hanya minta hidup tidak tergesa-gesa. Tidak semua hal harus dibalas cepat. Tidak semua pesan harus dijawab hari itu juga. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan panik. Dalam bahasa sel, tenang adalah bentuk paling dasar dari perawatan diri.
Maka jika sebagian gaya hidup sehat memang mahal seperti ikan laut, sayur organik, gym ber-AC, ketenangan justru sebaliknya. Ia gratis. Ia hadir dalam bentuk dzikir, shalat malam, semedi, dan syukur. Tapi justru itulah yang paling jarang dimiliki manusia modern: waktu untuk diam tanpa merasa bersalah.
Dan mungkin, di situlah rahasia telomer bersembunyi. Bukan pada apa yang kita makan, melainkan pada apa yang tidak lagi kita paksakan untuk dipikirkan.
Ilmu kedokteran modern semakin sadar bahwa penuaan bukan cuma masalah waktu, tapi masalah tekanan.
Di titik inilah telomer mulai berbicara politik tubuh. Ia menolak dikorbankan terus-menerus demi produktivitas. Ia tidak peduli jabatan. Ia hanya bertanya: “kapan terakhir kau istirahat?”
Menariknya, telomer tidak sepenuhnya pasrah. Tubuh menyediakan enzim bernama telomerase, semacam tukang tambal. Ia bisa memperpanjang telomer kembali. Namun telomerase ini pemalu. Ia tidak muncul pada tubuh yang hidupnya penuh gula, rokok, begadang, dan stres yang dirawat seperti hewan peliharaan.
Penelitian Dean Ornish yang kemudian dipublikasikan di Lancet Oncology, menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup sederhana mampu meningkatkan aktivitas telomerase hingga lebih dari 80% hanya dalam tiga bulan. Bukan obat mahal. Bukan teknologi luar angkasa. Tapi makan, gerak, dan tenang.
Pilihan makanan tentu sangat menentukan. Omega-3, misalnya, berulang kali terbukti memperlambat pemendekan telomer. Studi dari Ohio State University, UCSF, hingga JAMA menunjukkan korelasi konsisten: darah yang kaya omega-3 memiliki telomer yang lebih panjang. Bukan karena ikan ajaib, tapi karena inflamasi turun.
Dan telomer, seperti manusia waras, tidak menyukai peradangan. Vitamin D, folat, antioksidan dari buah beri, sayur berwarna, dan karotenoid juga terbukti menjaga stabilitas DNA.
Bahkan homosistein yaitu zat yang sering naik akibat pola makan buruk, berkaitan langsung dengan pemendekan telomer. Lagi-lagi, bukan karena usia, tapi karena pilihan gaya dan pola hidup.
Namun telomer tidak bekerja sendirian. Ia bukan pahlawan solo. Di sinilah hubungan rahasianya dengan dua sahabatnya dimulai. Telomer hanya menjaga batas. Tapi siapa yang membersihkan kerusakan di dalam? Autofagi. Siapa yang membangun ulang protein? Ribosom.
Tanpa autofagi, sel penuh sampah. Tanpa ribosom sehat, sel kehabisan bahan bangunan. Maka telomer boleh panjang, tapi tubuh tetap rapuh. Umur boleh panjang, tapi sehat tak ikut serta.
Maka penuaan atau umur sejatinya bukan soal satu sistem rusak, melainkan koordinasi yang runtuh.
Barangkali itulah sebabnya manusia modern tampak muda, tapi cepat lelah. Tampak panjang umur, tapi pendek sehatnya. Telomernya menipis, autofaginya jarang bekerja, ribosomnya kelelahan oleh makan berlebihan.
Ironisnya, kita hidup di zaman di mana manusia takut lapar, padahal sedikit lapar justru membersihkan sel. Takut lelah, padahal sedikit bergerak justru memperbaiki tubuh. Takut tua, tapi hidupnya justru mempercepat penuaan.
Telomer mengajarkan satu hal filosofis bahwa hidup bukan tentang menambah hari, tapi mengurangi kerusakan.
Dan mungkin, menjadi panjang umur bukan berarti menolak tua, melainkan berdamai dengan tubuh, agar ia tak perlu menua lebih cepat dari jadwalnya. Semoga.
AHMADIE THAHA (Cak AT)
Wartawan Senior



