
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Kompleksitas tantangan pembangunan yang kian meningkat menuntut kerja sama lintas sektor. Menjawab kebutuhan itu, menggelar PEACE Vaganza (Postgraduate School Education Expo and Leader Talk) sebagai ruang temu kolaboratif antara akademisi, pemerintah, dan mitra strategis.
Kegiatan yang berlangsung di Hall Majapahit, lantai 5 ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B, Surabaya, Rabu (4/2/2026) itu, mempertemukan SPS UNAIR dengan mitra dari berbagai sektor dan tingkatan, mulai pemerintah daerah, institusi pendidikan, hingga jejaring internasional.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNAIR Mochammad Amin Alamsjah menegaskan bahwa isu kebijakan publik, pembangunan berkelanjutan, transformasi digital, ketahanan sosial, hingga penguatan sumber daya manusia tidak lagi dapat diselesaikan secara sektoral.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pusat pengajaran. Ia harus berperan sebagai knowledge hub, policy partner, sekaligus ruang dialog strategis antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik pembangunan,” ujarnya.
Menurut Amin, PEACE Vaganza hadir dengan tiga makna strategis. Pertama, sebagai ruang temu kepemimpinan lintas sektor. Kedua, penguatan jejaring kolaborasi. Ketiga, sebagai etalase kapasitas akademik SPS UNAIR. Melalui education expo, SPS UNAIR menunjukkan bahwa pendidikan pascasarjana tidak hanya berorientasi pada penguatan keilmuan, tetapi juga pada dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Dalam konteks tersebut, UNAIR menempatkan Sekolah Pascasarjana sebagai salah satu pilar pengembangan collaborative leadership, yakni kepemimpinan yang inklusif, adaptif, dan berbasis bukti ilmiah. “Lulusan pascasarjana hari ini tidak cukup hanya menjadi ahli di bidangnya, tetapi juga harus mampu membaca persoalan di lapangan, membangun dialog lintas sektor, dan merumuskan solusi yang berkelanjutan,” kata Amin.
Pandangan serupa disampaikan Direktur SPS UNAIR, Achmad Chusnu Romdhoni. Ia menekankan bahwa universitas tidak boleh berhenti sebagai menara gading, melainkan harus hadir sebagai policy hub yang memberi kontribusi nyata bagi perumusan kebijakan publik.
“SPS ingin menunjukkan bahwa riset dan pemerintahan bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan. Dengan kolaborasi, solusi konkret bagi masyarakat dapat diwujudkan,” ujarnya.
PEACE Vaganza tidak hanya menjadi ajang pameran pendidikan lanjut, tetapi juga forum penguatan kemitraan. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Agreement antara SPS UNAIR dan sejumlah mitra strategis, antara lain Pemerintah Kabupaten Lamongan, Pasuruan, Situbondo, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, BPJS, serta mitra lainnya.
Melalui kegiatan ini, SPS UNAIR berharap lahir gagasan dan kolaborasi yang berdampak nyata bagi pembangunan nasional, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menjawab tantangan zaman.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



