
BANDUNG, CAKRAWARTA.com – Nahdlatul Ulama (NU) dinilai telah melampaui peran tradisionalnya sebagai organisasi keagamaan nasional dan kini mulai menempati posisi strategis dalam percaturan global, khususnya dalam upaya mendorong perdamaian dunia Islam.
Pandangan itu disampaikan oleh Ayik Heriansyah, Pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat, yang menyebut transformasi peran NU sebagai respons atas dinamika geopolitik dan konflik berkepanjangan di berbagai kawasan dunia Islam.
“NU tidak lagi hanya berbicara soal khidmah nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, NU mulai memainkan peran sebagai juru damai global,” ujar Ayik dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/3/2026).
Menurut Ayik, perubahan orientasi tersebut berangkat dari pembacaan atas perkembangan global, termasuk proyeksi yang pernah dirilis oleh National Intelligence Council (NIC) melalui laporan Mapping the Global Future pada 2004.
Dalam laporan tersebut, dunia diproyeksikan bergerak dalam beberapa skenario besar, mulai dari kebangkitan kekuatan baru seperti China dan India, dominasi Amerika Serikat, hingga munculnya ancaman khilafah global dan lingkaran konflik berbasis terorisme.
“Sebagian prediksi itu terbukti, terutama meningkatnya konflik dan fragmentasi di dunia Islam. Namun yang menarik adalah bagaimana NU merespons situasi ini dengan pendekatan damai,” kata Ayik.
Ia mencontohkan dinamika ketika ISIS mendeklarasikan khilafah pada 2014 yang memicu perpecahan di kalangan kelompok Islam global. Sejumlah organisasi seperti Al-Qaeda dan Hizbut Tahrir menolak legitimasi tersebut dengan alasan berbeda, sementara Taliban memilih fokus pada konteks nasional Afghanistan.
Menurut Ayik, perbedaan pendekatan tersebut justru memperlihatkan kebutuhan akan model Islam yang moderat dan inklusif, sebagaimana yang selama ini diusung NU.
Peran itu, lanjut dia, mulai tampak ketika pada 2014 sejumlah tokoh agama Afghanistan mendatangi Pengurus Besar NU (PBNU) untuk mencari solusi damai atas konflik di negara mereka.
“NU kemudian hadir di Afghanistan sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian berbasis dialog dan pendekatan kultural,” ujarnya.
Tidak hanya itu, beberapa tahun kemudian delegasi Taliban juga melakukan kunjungan ke PBNU dan diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU saat itu, Said Aqil Siroj.
Ayik menilai, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan adanya pengakuan terhadap posisi NU sebagai kekuatan moral yang mampu menjembatani berbagai kepentingan di dunia Islam.
“Ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ada pengakuan bahwa NU memiliki otoritas dalam mendorong penyelesaian konflik,” kata dia.
Ke depan, Ayik menilai NU berpotensi memainkan peran lebih luas dalam penyelesaian konflik global, termasuk di kawasan Timur Tengah dan wilayah lain yang masih dilanda ketegangan.
“Dunia membutuhkan wajah Islam yang damai, moderat, dan berakar kuat pada tradisi. NU memiliki modal itu untuk menjadi bagian dari solusi,” ujar Ayik mengakhiri keterangannya.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi



