Tuesday, February 27, 2024
HomeGagasanMenolong Anjing, Membunuh Manusia

Menolong Anjing, Membunuh Manusia

 

Tommy Prabowo gusar. Niat untuk memecah kaca sebuah mobil dicegah sekuriti. Ribuan dukungan yang mengalir di sosial media agar Tommy bertindak paksa dihadang hukum dan ancaman pidana.

Jumat 1 Desember 2017 sekitar pukul 16.30 WIB Tommy tiba di parkiran lantai 8 Mall Grand Indonesia, Jakarta. Usai memarkir kendaraan, Tommy dikagetkan gonggongan seekor anjing berjenis maltese. Anjing itu dikunci rapat di dalam sebuah Mobil Honda Brio. Pengap. Tanpa makanan atau minuman.

’’Saya kaget dia gonggongin saya kenceng banget, ngerasa ada yang salah tapi saya pikir ah, semoga ditinggal di mobil sebentar,’’ kata Tommy.

Enam jam kemudian sekitar pukul 22.00 WIB, Tommy berencana kembali pulang. Betapa kagetnya ketika dia melihat anjing tadi sore masih juga dikunci di dalam mobil. Dia kemudian memfoto anjing itu dan berharap siapapun pemiliknya bisa memantau sosial media dan segera datang.

Secara berantai pesan yang disebar di sosial media kemudian disebarkan. Dua jam kemudian, perihal kepedulian terhadap anjing itu menjadi viral di dunia maya dan menjadi trending topic. Ratusan komentar dan saran diberikan oleh sesiapa saja darimana saja di seluruh penjuru dunia maya. Tommy meminta petugas memanggil pemilik mobil melalui pengeras suara mall. Ia khawatir anjing itu haus, kepanasan dan kelaparan.

Lalu muncul ide memberi minum dari sela kaca jendela yang dibiarkan terbuka sedikit. Tommy dan beberapa orang menemani anjing itu. Sekuriti berkeliling mall untuk menemukan pemilik mobil. Melalui gawai, ribuan orang membagikan informasi. Semua bahu membahu demi menyelamatkan seekor anjing.

Aksi kemanusiaan itu berlangsung hingga pukul 00.12 ketika sang pemilik akhirnya datang. Anjing yang belakangan diketahui bernama Valent itu menyalakan lentera kemanusiaan. Karena segala yang bernyawa memang harus menerima belas kasih. Karena manusia itu hakikatnya adalah makhluk yang welas asih.

****

Di Bandung, 23 September 2018, aku melihat ratusan orang bermain dengan bola. Mungkin jenis olahraga lain selain sepakbola. Karena bukan hanya kaki yang menendang. Tangan terkepal juga dipakai menghantam. Ada juga yang memakai batang kayu. Linggis. Piring. Batu. Benda apapun yang bisa dijangkau sah dipakai. Mereka berkerumun beringas. Seperti burung bangkai berebut daging.

Dan bola yang kumaksud itu berwujud wajah manusia. Dia bernama Haringga Sirla. Ada nyawa melekat pada remaja 23 tahun itu. Ada harapan dan cinta kedua orang tuanya. Ada tawa bahagia sahabat dan handai taulan. Tapi sore itu dia berwujud bola. Yang sah disepak sini-sana. Diseret dan kemudian ditusuk. Dipukuli dengan benda apapun.

Darah segar muncrat. Tulang tulang patah bergemeretak di iringi nyanyian dan yel yel yang saling sahut. Kulit rambut di bagian belakang kepala Haringga terkelupas. Dia diseret kesana kemari. Cairan putih pekat campur darah merembes disela rambut. Lipatan celana jeans yang setengah melorot membuatnya setengah telanjang. Linggis berkarat ditancapkan pada lubang anusnya.

Dosa apa hingga remaja itu pantas dirajam seperti pezina tertangkap. Sementara kamera telepon genggam terus merekam, balok kayu dan tangan-tangan terkepal terus menghantam bertubi-tubi. Sungguh jalan menuju kematian yang perlahan dan menyakitkan. Apa yang telah diperbuatnya hingga dibalas sedemikian keji?

Itu bola? bukan, itu kepala anak manusia. Dan keberingasan pecinta bola melucuti kemanusiaan. Mematikan nalar. Tanpa belas kasihan mereka mengoper-operkan tubuhnya. Seperti dalam sebuah permainan bola. Sayup-sayup dalam riuh rendah ada yang memimpin melantunkan kalimat tauhid.

’’Laa ilaa ha illallah…Laa ilaa ha illallah,’’ Ah mereka mempermainkan kalimat tauhid dalam adegan pencabutan nyawa.

Menyaksikan pemuda yang mencabut nyawa pemuda lain atas nama sepak bola membuatku muak. Ketika nyawa anak manusia tak sebanding dengan nyawa anjing jenis maltese yang ditinggalkan pemiliknya di sebuah mobil pada sebuah mall yang padat.

Ada luka pada bangsa ini yang harus diobati dengan segera. Luka yang harus disembuhkan dengan kasih sayang, bukan kebencian. Dan itu harus diajarkan oleh para bapak dan ibu bangsa yang tak malu korupsi, yang tak malu mencaci dan bermusuhan atas nama pilihan politik.

Ah, sungguh sore yang pekat di tanah airku. Pekat dan pahit. Sore ini aku menangis di sebuah jalan sunyi. Atas nama anak bangsa dengan luka yang menganga.

 

ZULHAM MUBARAK

Pegiat Media Sosial

RELATED ARTICLES

Most Popular