Mengadili Gibran Ala Socrates

(foto Socrates berjenggot putih dengan toga klasik sedang menasehati dengan gestur khas dialektikanya, tangan terbuka penuh kebijaksanaan. Di hadapannya Gibran dengan peci hitam dan kemeja kotak biru, mendengarkan serius, seolah sedang mendapat pelajaran tentang _ethos, pathos, dan logos atas perbuatan AI)

“Semua orang berbohong. Orang-orang berbohong tentang berapa gelas alkohol yang mereka minum; mereka berbohong tentang apakah mereka pergi ke gym, berapa harga sepatu baru itu, atau apakah mereka benar-benar membaca buku tersebut. Mereka mengaku lebih bahagia dari keadaan sebenarnya… Namun, akumulasi data pencarian mengungkap realitas obyektif dari apa yang sebenarnya kita lakukan dan pikirkan.” — Seth Stephens-Davidowitz (44), Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Can Tell Us About Who We Really Are (2017).

Di tengah riuk rendah Athena abad kelima sebelum Masehi, seorang lelaki tua bertelanjang kaki menyusuri Agora (pasar) dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang meretakkan fondasi kesadaran pada para elite kota.

Socrates tidak pernah mencatat pemikirannya, tetapi gema pembelaannya di hadapan juri Athena diabadikan dalam tradisi intelektual.

Belakangan sejarah kasus ini disatukan dan diulas dalam literatur klasik dari I. F. Stone (1907-1989), jurnalis investigasi independen asal Amerika, dalam The Trial of Socrates (1988).

Dalam narasi persidangan tersebut, Socrates berdiri bukan sekadar untuk mempertahankan nyawanya dari tuduhan merusak generasi muda dan mengabaikan dewa-dewa kota.

Akan tetapi, ia pun hendak menegaskan sebuah prinsip eksistensial: bahwa kehidupan yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak layak dihuni (ho de anexetastos bios ou biōtos anthrōpō)

Ia menolak retorika manis para sofis yang menjual kebenaran demi kekuasaan, dan memilih untuk tetap berada di jalur kesadaran etis.

Meski harga taruhannya yang harus dibayar adalah cawan racun hemline.

Socrates mengingatkan publik Athena bahwa kejahatan terbesar sebuah peradaban bukanlah kekalahan perang atau kemerosotan ekonomi.

Tapi, keretakan moral yang lahir ketika kebohongan(Ψέμα-pséma), dianggap wajar dan ketidaktahuan(iqnoramus) dirayakan sebagai kebijaksanaan.

Bayang-bayang persidangan antik itu seolah memantul kembali di ruang publik Indonesia hari ini.

Sosok Gibran Rakabuming Raka (39), Wapres kini –mungkin jadi topik trending paling menyita energi politik publik– memasuki dua tahun pemerintahannya bersama Presiden Prabowo Subianto.

Jika ada satu tuduhan kejahatan yang dia lakukan, dan mungkin sulit diseret atau dibuktikan secara hukum, politik hingga teologi, itulah kejahatan paling eksistensial: Berbohong!

Dalam bingkai Socrates, kebohongan politik bukan sekadar manipulasi fakta teknis, melainkan bentuk paling nyata dari ketidakmampuan jiwa untuk mengenali dirinya sendiri.

Ketika sebuah kebohongan dikemas dengan banalitas, dibungkus dengan narasi keberlanjutan atau kepraktisan politik, kebohongan itu berubah menjadi racun sistemik yang melumpuhkan akal sehat masyarakat.

Hukum positif sering kali buta terhadap jenis kebohongan ini karena regulasi hanya menangkap kejahatan prosedural.

Sementara, panggung teologi sering kali terlalu cepat melimpahkan segala dinamika kekuasaan buruk sekalipun sebagai takdir ilahi yang tak boleh digugat.

Untuk menampik tuduhan kejahatan itu, pandang Phillips maupun Stone bisa dipakai untuk mengadili Gibran secara filosofis dan historis.

Dan tentu, biarlah teologi menjawabnya lewat fase eskatologis kelak.

Selanjutnya, Tom Phillips, editor di Full Fact atau BuzzFeed UK, dalam Humans: A Brief History of How We Fucked It All Up (2018), memaparkan dengan sangat satir bagaimana sejarah manusia diwarnai oleh jejak panjang kebodohan, kebohongan, dan rasa percaya diri berlebih dari para pemegang kekuasaan yang merasa mampu mengendalikan hal-hal di luar kapasitas mereka.

Phillips menunjukkan bahwa runtuhnya sebuah tatanan sering kali tidak dimulai dari invasi musuh luar, melainkan dari ilusi kolektif bahwa kepemimpinan dapat dibangun di atas kepalsuan dan simplifikasi persoalan yang rumit.

Jika ditarik ke dalam sidang ala Socrates, analisis Phillips menyediakan kacamata historis bahwa fenomena kemunculan pemimpin yang dipaksakan atau dibangun di atas fondasi pencitraan yang rapuh adalah pengulangan dari sejarah keledai manusia yang terus-menerus terperosok di lubang yang sama.

Kebohongan politik yang diabaikan hanya akan menjadi warisan kekonyolan peradaban yang kelak ditertawakan oleh generasi mendatang.

Mengadili Gibran dengan metode elenchos -dialektika Socrates yang mengupas selapis demi selapis kepalsuan hingga tersisa kebenaran yang telanjang- berarti mengajak publik membongkar klaim-klaim keberhasilan dan legitimasi politik yang diproduksi oleh mesin kekuasaan.

Dalam cakrawala berpikir Yunani Kuno, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari cara suatu peradaban menguji kebenaran dan keadilan.

Salah satu konsep paling mendasar dalam tradisi intelektual Yunani yang membentuk fondasi filsafat Barat adalah elenchos (ἔλεγχος).

Secara etimologis, kata benda elenchos berakar dari verba elenchō (ἐλέγχω), yang secara harfiah mengandung arti menguji, meneliti secara kritis, menyanggah, hingga menelanjangi kepalsuan.

Pada mulanya, dalam ruang-ruang peradilan dan retorika Athena kuno, istilah ini dipakai dalam konteks hukum yang sangat praktis.

Tepatnya, sebuah proses pemeriksaan silang (cross-examination) terhadap saksi atau argumen untuk membuktikan ada tidaknya kebohongan di hadapan para juri.

Namun, di tangan Socrates, kata yang semula berorientasi pada retorika hukum ini mengalami transformasi filosofis yang sangat radikal.

Elenchos tidak lagi sekadar menjadi teknik untuk memenangkan perdebatan di Agora atau ruang sidang, melainkan disempurnakan menjadi sebuah metode dialektika untuk menguji jiwa manusia.

Dalam dialog-dialog Plato periode awal, metode elenchos dijalankan melalui perpaduan tanya-jawab yang sistematis.

Socrates akan meminta lawan bicaranya mengajukan sebuah definisi atau keyakinan mora.

Misalnya, tentang keadilan, keberanian, atau kejujuran -lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan secara berurutan hingga bermuara pada satu titik balik.

Atau, pembuktian adanya kontradiksi internal (inconsistency) dalam pemikiran lawan bicaranya tersebut.

Melalui perataan argumen ini, elenchos bekerja sebagai instrumen sanggahan(refutation) sekaligus ujian kebenaran yang menyingkap ketidaktahuan manusia yang sering kali tersembunyi di balik rasa percaya diri palsu.

Banyak elite dan politisi Athena merasa diri mereka bijaksana.

Padahal, mereka hanya menghafal dogma atau kepalsuan retoris.

Dengan mengalami elenchos, seseorang dipaksa untuk berada dalam kondisi aporia -sebuah kebingungan filosofis -di mana ia menyadari bahwa ternyata ia tidak benar-benar tahu apa yang selama ini ia yakini.

Pada tingkat yang lebih dalam, elenchos berfungsi sebagai katarsis intelektual dan etis.

Bagi Socrates, menyadari ketidaktahuan diri sendiri adalah pintu pertama menuju kebijaksanaan sejati (phronesis).

Dengan demikian, elenchos bukan sekadar metode perdebatan akademis.

Namun, hal itu menjelma sebagai sebuah tindakan pembersihan jiwa dari kesombongan intelektual dan kebohongan eksistensial.

Juga, untuk memastikan bahwa setiap tatanan pemikiran dan kepemimpinan senantiasa diuji di atas landasan kesadaran etis yang jujur.

Socrates tidak akan menuntut pemakzulan melalui pembuktian pasal-pasal konstitusi yang rentan ditafsirkan sesuai selera penguasa.

Melainkan pula, menuntut pertanggungjawaban etis atas setiap perkataan, tindakan, dan rekayasa makna yang ditawarkan kepada rakyat.

Ketika pemimpin bertindak seolah-olah ketidakjujuran adalah strategi politik yang lumrah, ia pada dasarnya sedang menulari penyakit kebodohan moral kepada publik.

Persidangan ala Socrates ini tidak membutuhkan gedung pengadilan megah atau racun di cawan perunggu.

Lebih dari cukup, ia hanya membutuhkan keberanian publik untuk terus bertanya, membongkar narasi yang mengaburkan realitas, dan menolak tunduk pada kebohongan yang distandarisasi oleh kekuasaan.(*)

#coverlagu: Lagu “Bongkar” karya grup musik Swami (yang digawangi oleh Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, dan Innisri) dirilis pada tahun 1989 dalam album perdana mereka, Swami I.

Jakarta, 15 Oktober 2026

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan