Membaca Ringkas Filsafat Hati Blaise Pascal

(foto Pascal dengan rambut ikal panjang dan jubah hitam abad-17, berdiri di tengah Salle de’ Operation modern. Di tangannya ia memegang anatomi jantung manusia dengan hati-hati, wajah merenung dalam atas perbuatan AI)

“Hatilah yang menangkap Tuhan, bukan akal budi. Itulah yang disebut iman: Tuhan yang ditangkap oleh hati, bukan oleh akal budi.” — Thomas V. Morris(74), Making Sense of It All: Pascal and the Meaning of Life (1992).

Dua faali tubuh yang sering dianggap berbeda bahkan bertentangan, otak dan hati, bisa memperoleh sedikit penjelasan secara filosofis.

Di antara sedikit uraian filosofis yang dimaksud, hati khususnya, filsafatnya dapat dibahas dari filsuf asal Perancis, Blaise Pascal.

Blaise Pascal lahir pada 19 Juni 1623 di Clermont-Ferrand, Prancis. Ia tumbuh sebagai seorang pemuda genius multitalenta dalam bidang matematika, fisika, filsafat, serta teologi Kristen.

Dididik secara mandiri oleh ayahnya, Étienne Pascal, ia menunjukkan bakat intelektual yang luar biasa sejak usia sangat muda.

Pada usia 16 tahun, Pascal sudah merumuskan teorema geometri proyektif yang dikenal sebagai Teorema Pascal.

Tak lama kemudian, pada usia 19 tahun, ia menciptakan mesin hitung mekanis pertama yang diproduksi secara nyata.

Mesin ini dinamai Pascaline demi membantu tugas perpajakan ayahnya.

Dalam bidang sains dan fisika eksperimental, Pascal memberikan kontribusi fundamental terhadap pemahaman konsep tekanan udara, vakum, dan hidrostatika, yang kemudian melahirkan Hukum Pascal.

Kelak, kaidah itu mengabadikan namanya sebagai satuan standar tekanan internasional (pascal).

Di bidang matematika, kolaborasinya melalui surat-menyurat dengan Pierre de Fermat meletakkan dasar bagi teori probabilitas modern.

Akan tetapi, perjalanan hidupnya mengalami titik balik spritual yang mendalam pada November 1654 melalui sebuah pengalaman religius yang ia sebut sebagai Malam Api (Nuit de Feu).

Peristiwa ini membuatnya mengalihkan sebagian besar fokus hidupnya dari sains murni menuju perenungan teologis dan filsafat eksistensial.

Namun juga, ia dipengaruhi oleh gerakan Jansenisme di biara Port-Royal.

Di sisa hidupnya yang singkat dan terus digerogoti masalah kesehatan kronis, Pascal melahirkan dua karya tulis besar, yaitu Les Provinciales yang membela Jansenisme dari polemik moral saat itu.

Les Provinciales, selengkapnya: Lettres écrites par Louis de Montalte à un provincial de ses amis et aux RR. PP. Jésuites.

Diterbitkan secara berkala berupa rangkaian 18 surat polemik antara Januari 1656 hingga Maret 1657.

Surat-surat ini diterbitkan secara sembunyi-sembunyi dan anonim dengan nama samaran Louis de Montalte di Paris untuk menghindari sensor kerajaan dan gereja.

Setelah ke-18 surat tersebut selesai dirilis, seluruh salinannya kemudian dibukukan dan diterbitkan secara resmi sebagai satu kesatuan jilid pada tahun 1657 di bawah penerbit bertuliskan “Pierre de la Vallée” (Cologne/Paris).

Juga, kumpulan fragmen perenungan apologetis yang kelak diterbitkan pascakematiannya dengan judul Pensées.

Pensées tidak diterbitkan semasa ia masih hidup.

Naskah ini berupa kumpulan catatan dan fragmen pemikiran yang baru dihimpun, disunting, dan diterbitkan secara resmi pertama kali pada bulan Januari 1670 di Paris oleh para sahabat dan keluarganya, yang dikenal sebagai edisi cetak pertama Édition de Port-Royal.

Dalam karya tersebut, Pascal mengkritik rasionalisme murni dan menegaskan pentingnya intuisi hati (le cœur) serta iman dalam memahami Tuhan dan keterbatasan eksistensi manusia.

Blaise Pascal wafat di Paris pada 19 Agustus 1662 dalam usia muda, 39 tahun.

Ia meninggalkan warisan pemikiran yang sangat berpengaruh baik dalam sejarah sains modern maupun filsafat dan pemikiran keagamaan.

Ditilik secara etimologis, frasa le cœur dalam bahasa Prancis merupakan derivasi dari kata Latin cor atau cordis, yang berakar dari rekonstruksi bahasa Proto-Indo-Eropa ḱḗr(ḱr̥d) dan merujuk pada jantung sebagai organ fisik pemompa darah sekaligus pusat atau bagian paling inti dari suatu entitas.

Dalam perkembangan bahasa Prancis modern, le cœur tidak hanya mempertahankan makna anatomisnya.

Melainkan pula, berkembang menjadi istilah metaforis untuk menyebut ruang batin tempat bertemunya emosi, keberanian, kasih sayang, dan kehendak terdalam manusia.

Pengangkatan le cœur menjadi salah satu konsep filosofis dan epistemologis yang paling terkenal terjadi melalui pemikiran Blaise Pascal (1623–1662), seorang filsuf, matematikawan, dan fisikawan Prancis.

Pemikirannya mengenai hati dipaparkan dalam karya monumental pascakematiannya yang berjudul Pensées (Pemikiran).

Buku ini merupakan sebuah naskah apologetika Kristen yang baru diterbitkan secara resmi oleh para sahabat dan keluarganya pada tahun 1670.

Melalui karyanya, Pemikiran ini, Pascal merumuskan bahwa hati (le cœur) merupakan fakultas pengetahuan intuitif yang berdiri sejajar dan bahkan mendahului akal budi rasional (la raison).

Dalam pandangan Pascal, le cœur bukan sekadar wadah perasaan subjektif atau sentimentalitas yang dangkal.

Kata ini pun, hati (le coeur) dianggap sebagai instrumen intuisi spiritual dan intelektual yang mampu menangkap prinsip-prinsip kebenaran fundamental secara langsung tanpa membutuhkan pembuktian silogisme.

Pascal menegaskan hal ini dalam frasa terkenalnya bahwa “hati memiliki alasannya sendiri yang tidak dapat dipahami oleh akal budi” (Le cœur a ses raisons que la raison ne connaît point ; on le sait en mille choses).

Dalam bahasa lebih populer di Perancis dikenal dengan ungkapan: “… que la raison ignore” (“…yang diabaikan/tak diketahui oleh akal budi”).

Dengan demikian, kebenaran-kebenaran mendasar seperti keberadaan ruang, waktu, gerak, bilangan, hingga keimanan kepada Tuhan pertama kali ditangkap oleh intuisi hati sebelum kemudian diolah dan dijelaskan secara logis oleh akal.

Hati memegang peran kunci sebagai fondasi bagi penalaran rasional, karena tanpa pengetahuan intuitif yang disediakan oleh hati, akal tidak akan memiliki titik awal untuk melakukan deduksi.

Bagi Pascal, le cœur adalah titik temu antara dimensi epistemologis dan eksistensial manusia, sebuah ruang batin yang menjembatani keterbatasan akal manusia dalam menghadapi misteri eksistensi dan ketuhanan.

Melalui gagasan ini, pemikiran Pascal meletakkan le cœur sebagai kekuatan intuisi batiniah yang memberi arah bagi akal budi.

Ia pun menegaskan bahwa pemahaman manusia yang sejati selalu berakar pada kepekaan dan daya tangkap intuitif yang bersemayam di dalam hati.(*)

#covermusik: Lagu “Le Cœur”(sering ditukis Le Coeur) dari proyek musik French Synthwave/Synth-pop asal Prancis, Galatée, dirilis sebagai single independen pada tanggal 26 Maret 2016. Lagu ini kemudian juga dimasukkan ke dalam album kompilasi piringan hitam/mini-album bertajuk Rétrospective yang dirilis melalui label Oráculo Records pada tahun 2018.

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan