
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Universitas Airlangga (UNAIR) membidik peluang kolaborasi riset dan transfer teknologi vaksin lintas negara untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman epidemi dan pandemi di masa mendatang. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperluas pertukaran pengetahuan, memperkuat kapasitas riset, dan mengurangi ketergantungan pada penguasaan teknologi oleh pihak tertentu.
Sekretaris LPT UNAIR sekaligus epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair, Laura Navika Yamani, Ph.D., menyampaikan hal itu saat menghadiri Vaccine World Asia Congress-Southeast Asia and Biologics World Southeast Asia 2026 di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2026).
Laura mengatakan, keikutsertaan LPT Unair yang dipimpinnya bersama dr. Priyo Budi Purwono, Ph.D., dalam forum internasional tersebut bertujuan memperoleh informasi terkini mengenai perkembangan riset vaksin dan bahan biologis terapeutik, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di kawasan Asia.
“Di sini kami mendapatkan perspektif, pengalaman, dan kemampuan dari masing-masing pihak sehingga bisa ditemukan peluang kerja sama serta transfer pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, tidak terjadi monopoli dan ke depan bisa terbangun sinergi serta kolaborasi untuk menghadapi kemungkinan epidemi atau pandemi,” ujar Laura, Kamis pagi.
Menurut Laura, penguatan kolaborasi tidak cukup hanya dengan mempertemukan peneliti dan institusi dari berbagai negara. Setiap pihak juga perlu memahami persoalan, kapasitas, dan kebutuhan mitra agar kerja sama yang dibangun dapat menjawab tantangan nyata dalam pengembangan vaksin.
Karena itu, forum tersebut menjadi kesempatan untuk memetakan persoalan yang dihadapi masing-masing negara, sekaligus mempelajari praktik baik (best practices) dari para peserta, termasuk perwakilan Indonesia, India, Malaysia, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).
CEPI merupakan koalisi global yang mendukung pendanaan dan koordinasi pengembangan vaksin untuk membantu mengantisipasi ancaman epidemi dan pandemi di masa depan.
Laura menjelaskan, terdapat tiga sasaran utama yang ingin dicapai LPT UNAIR melalui partisipasi dalam forum tersebut.
Pertama, memperbarui pemahaman mengenai perkembangan riset vaksin dan bahan biologis terapeutik, khususnya dalam aspek teknologi, manufaktur, uji klinis, dan regulasi. Informasi tersebut penting untuk memahami arah perkembangan industri dan riset biomedis di kawasan Asia Tenggara.
Kedua, menjajaki peluang kolaborasi riset dengan peserta yang berasal dari beragam latar belakang institusi dan negara. Pertemuan antara akademisi, peneliti, regulator, dan industri dinilai membuka ruang bagi pengembangan kerja sama yang saling melengkapi.
Ketiga, memetakan tantangan dan kebutuhan setiap pihak untuk menemukan titik temu yang dapat dikembangkan menjadi program kolaborasi konkret. Melalui pemahaman tersebut, kerja sama diharapkan tidak berhenti pada pertukaran informasi, tetapi berlanjut menjadi sinergi riset dan pengembangan kapasitas.
“Harapannya, kita lebih waspada dan siap menghadapi kemungkinan epidemi atau pandemi di masa mendatang karena bekerja sama,” kata program doktoral Kobe University, Jepang itu.
Forum yang berlangsung pada 14-15 Oktober 2026 itu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem vaksin dan biologis, mulai dari perwakilan pemerintah sebagai regulator, industri farmasi dan teknologi kesehatan, akademisi, peneliti, hingga praktisi sektor kesehatan.
Berdasarkan agenda penyelenggara, pembahasan konferensi mencakup pengembangan platform vaksin generasi baru, uji klinis dan harmonisasi regulasi, peningkatan kapasitas manufaktur, transfer teknologi, serta penguatan rantai pasok vaksin di Asia Tenggara.
Pada hari pertama, peserta mengikuti sesi pembukaan dan diskusi mengenai penguatan ekosistem vaksin serta biologis di Asia Tenggara. Agenda juga mencakup pemaparan perkembangan teknologi, sesi pameran, dan kesempatan membangun jejaring antar peserta.
Sementara itu, agenda hari kedua antara lain membahas teknologi mRNA dan vektor virus untuk pengembangan vaksin respons cepat, inovasi manufaktur biologis, serta peluang kemitraan dalam transfer teknologi dan produksi.
Bagi LPT UNAIR, lanjut Laura, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring dan mempertemukan kebutuhan riset dengan perkembangan teknologi serta pengalaman berbagai pihak. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pertukaran pengetahuan dan peluang kemitraan itu menjadi kolaborasi yang relevan, berkelanjutan, dan mendukung kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit menular di masa mendatang.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








