Sunday, April 21, 2024
HomeGagasanMembaca (Kembali) Karakter Komplotan Saudagar-Taipan Di Indonesia

Membaca (Kembali) Karakter Komplotan Saudagar-Taipan Di Indonesia

images

Membajak dan Menguasai Pemerintahan

Kita perlu mengenali dan mendefenisikan keadaan saat ini melalui gejala yang dapat kita lihat melalui media massa maupun pengalaman yang kita jumpai sehari hari. Keadaan seperti apa yang sedang kita hadapi saat ini ketika harga komoditas yang jatuh di level terendah, sehingga para saudagar dan taipan tak bisa lagi merampok di sektor tersebut.

Salah satu ciri dari keadaan saat ini adalah ketika sebuah pemerintahan dibajak, dikuasai dan dikendalikan oleh komplotan saudagar yang bermental “kontraktor” dantaipan yang bermental “pedagang”.

Mental kontraktor selalu merampok melalui berbagai skema projek pemerintah yang dibiayai APBN/D atau proyek yang di-create atas kerjasama dengan investor asing dan menjadikan negara sebagai jaminan. Jika proyek tersebut gagal, maka negara yang menanggung bebannya. Mental dagang selalu menjadikan impor sebagai sarana perampokan, orientasinya hanya mengeruk keuntungan dan menumpuk kekayaan. Mental dagang menempatkan pabrik rakitan dan distributor produk industri asing.

Mental kontraktor dan mental dagang dari komplotan saudagar dan taipan tersebut yang menghambat pertumbuhan industri nasional kita. Orientasi kontraktor dan dagang selalu berorientasi untuk membajak institusi pemerintah sebagai alat untuk merampok melalui skema proyek dan impor.

Berbeda dengan Chaebol (konglomerat di Korea Selatan) yang selalu berorientasi pada pembangunan industri yang mensyaratkan adanya riset dan inovasi untuk melahirkan produk baru. Sebagai contoh dari perusahaan yang dimiliki Chaebol melahirkan sejumlah produk adalah Hyundai, Samsung, LG, SK Group, Ssangyong, Daewoo, Hanjin, Lotte dan Cheil Jedang.

Di Indonesia, para saudagar tiba-tiba kaya mendadak ketika pemiliknya menjadi salah satu pejabat negara. Namun bernasib “JaMiLa” (Jadi Miskin Lagi) ketika pemilik perusahaannya terbuang dari pemerintah.

Membajak Partai Politik dan Institusi Pemerintah, Timbun Kekayaan

Tak ada prestasi yang dapat kita banggakan dari komplotan saudagar dan taipan. Kenyataannya, hanya Indomie produk Indofood yang jadi kebanggaan nasional kita. Di luar Indomie, bahkan garam dan tusuk gigi pun kita impor.

Para saudagar dan taipan tersebut menjadi kaya raya bukan karena inovasi dan industri, sebagaimana Zaibatsu (konglomerat di Jepang yang lahir pada paru kedua zaman Takugawa maupun Meiji), atau Chaebol (konglomerat di Korea Selatan) yang melahirkan sejumlah inovasi dan industri, yang produknya saat ini mengepung bangsa kita.

Mereka menjadi saudagar dan taipan kaya raya karena berhasil membajak parpol dan institusi negara, yang memudahkan mereka mengeruk sumber daya alam (SDA), menguasai tanah untuk perkebunan, menipu bank di saat krisis, melakukan rekayasa proyek dengan jaminan negara, serta membunuh industri nasional dengan impor.

Kenyataan tersebut mengingatkan kita pada tesisnya Yushihara Kunio dalam buku Kapitalisme Ersatz Asia Tenggara (LP3ES: 1990). Yoshihara melakukan penelitian di lima negara Asia Tenggara, Filipina, Singapura, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Secara singkat Yoshihara menjelaskan bahwa kapitalisme di Asia Tenggara menjadi Ersatz karena dua hal. Pertama, di Asia Tenggara, campur tangan pemerintah terlalu banyak sehingga mengganggu prinsip persaingan bebas. Kedua, kapitalisme di Asia Tenggara tidak ditopang perkembangan teknologi sehingga tak terjadi industrialisasi yang mandiri.

Ersatz berasal dari bahasa Jerman yang berarti pengganti atau substitusi, lalu diadopsi ke dalam bahasa Inggris dengan arti yang sedikit berbeda, “substitusi yang lebih inferior”, atau kapitalisme substitusi yangg lebih inferior.

Situasi yang berbeda di era reformasi adalah, ketika para saudagar dan taipan membajak parpol dan institusi negara dalam sistem pasar bebas untuk tujuan merampok, dengan mematikan inovasi dan industrialisasi.

Jokowi, Hasil Kongkalikong Dengan Asing

Kabar tentang maju mundurnya dua proyek raksasa, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan projek listrik 35.000 MW adalah bukti nyata tentang sebuah program pembangunan di era Presiden Joko Widodo yang di-create tanpa landasan konsepsi dan perencanaan yang mandiri dan terukur. Membuktikan juga bahwa proyek tersebut di-create oleh para saudagar dan taipan nasional yang berkomplot dengan investor asing untuk tujuan mengeruk kekayaan negara semata.

Setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) “dibunuh” fungsinya sebagai lembaga tertinggi negara, lalu fungsinya dipreteli semata sebagai event organizer (EO) yang bertugas melakukan sosialisasi empat pilar bangsa yang seharusnya jadi tugas lembaga eksekutif (khususnya Dirjend. Kesbangpol Depdagri), maka lembaga multilateral seperti International Monetary Fund (IMF), World Bank (WB) dan Asian Development Bank (ADB) mengambil alih fungsi MPR untuk mendikte haluan pembangunan bangsa yang harus dijalankan oleh Presiden selaku mandataris IMF dan WB. Konsep Garis-garis Besar haluan Negara (GBHN) yang dituduh produk Orde Baru dikubur dan diganti dengan Letter of Intent (LoI )IMF sebagai haluan negara.

Kini, setelah WB dan IMF tuntas melakukan deregulasi untuk meliberalisasi seluruh sektor kehidupan bangsa, maka saat ini kekuasaan politik berpindah tangan kepada para saudagar dan taipan yang berkomplot dengan korporasi asing. Para saudagar dan taipan nasional adalah kekuatan yang saat ini sangat berkuasa menentukan haluan dan perencanaan pembangunan menggantikan fungsi MPR dalam memutuskan GBHN.

Dalam situasi ketidakmampuan Presiden Joko Widodo memimpin negara merupakan hadiah terindah bagi komplotan saudagar dan taipan yang telah mengkudeta fungsi Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.

Demikian juga kekacauan sistem negara reformasi adalah karpet merah yg memuluskan para saudagar dan taipan yg berkomplot dengan investor China danJepang untuk merampok malalui berbagai skema projek yang dibiayai utang luar negeri dengan jaminan asset negara.

(bersambung)

HARIS RUSLY

Aktivis Petisi 28

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular