Melawan Dorongan Hati

(foto: #credit foto seorang pejabat menolak sogokan untuk confidential project atas perbuatan AI)

“Hati (jantung) adalah organ utama pertama (al-‘udhw al-ra’is al-awwal) yang menjadi sumber panas alami tubuh dan tempat bertumpunya daya-daya vital, yang dari padanya dipancarkan daya hidup, persepsi, dan gerak ke seluruh bagian tubuh.” -Ibnu Sina (980-1037), Psikologi Islam: Rujukan Utama Ilmu Psikologi Dunia (Terjemahan Turos Pustaka 2022).

Kemaruk kebudayaan manusia dalam berbagai aspek dan tonggak praksis dari sumber biopsikologi dan geokultur manapun, sarat dengan dorongan hati yang nyaris tak terkendali.

Pada lapis etik dan emik kebudayaan, dorongan hasrat ini -khususnya dalam hati (qalb) manusia- memiliki dua gerak kosmik sekaligus.

Lapis kosmik material seperti makan maupun bercinta, gerakannya menghadirkan gejala fisik lewat tubuh.

Di lapis kosmik immaterial seperti merasa maupun berpikir, gerakannya nyaris tak segera tertangkap.

Ditinjau dari etimologi dan pergeseran makna kata qalb (قلب) dalam bahasa Arab serta padanannya dalam bahasa Yunani, kardia (καρδιά), menunjukkan betapa peradaban manusia selalu memandang organ pemompa darah ini bukan sekadar fisik mekanis, melainkan pusat kesadaran, moralitas, dan kedinamikan jiwa.

Meskipun keduanya bermuara pada organ yang sama di dalam dada, penekanan etimologis pada masing-masing rumpun bahasa mengungkapkan sudut pandang filosofis yang sangat khas dalam memahami hakikat kedalaman diri manusia.

Dalam bahasa Arab, kata qalb berakar dari tiga huruf Semit, yakni qaf-lam-ba, yang secara harfiah mengandung arti membolak-balikkan, berubah-ubah, atau memalingkan arah.

Penamaan ini sangat artikulatif karena secara intrinsik merefleksikan karakter dasarnya yang sangat dinamis dan rentan terhadap perubahan.

Sesuatu dinamai qalb justru karena sifat fluktuatifnya yang mudah berpindah dari satu kondisi ke kondisi lain. Atau, dari kedamaian menuju kegelisahan, dari keyakinan menuju keraguan, atau dari cinta menuju kebencian. Dalam pemikiran linguistik dan spiritual Arab, qalb tidak dipisahkan dari aktivitas rasional.

Qalb adalah muara tempat berseminya penalaran, niat, keyakinan spiritual, dan kehendak moral, di mana intelek (‘aql) tidak diposisikan sebagai entitas yang dingin di kepala, melainkan bersemayam di dalam kedalaman organ yang senantiasa bergetar itu.

Sebaliknya, tradisi bahasa Yunani mengenal padanan istilah ini melalui kata kardia. Secara etimologis, kardia dapat ditelusuri hingga ke akar bahasa Proto Indo Eropa, kḗr atau ḱr̥d-, yang menurunkan kognat kata cor (Latin) serta heart (Inggris)

Berbeda dengan bahasa Arab yang menekankan aspek dinamika perubahan, etimologi Yunani lebih memfokuskan maknanya pada posisi jantung sebagai inti, pusat vital, dan sumber daya hidup manusia.

Sejak tradisi Homerik hingga pemikiran filsafat dan teks Yunani Koine, kardia dipandang sebagai wadah tersembunyi bagi kepribadian (inner self), tempat bertemunya emosi mendalam seperti keberanian dan kesedihan dengan pertimbangan etis serta motivasi paling mendasar dari tindakan manusia.

Ketika kedua istilah ini disandingkan, tampak sebuah lanskap konseptual yang saling melengkapi. Bahasa Arab melalui qalb menyumbangkan pemahaman akan sifat jiwa manusia yang sangat cair, fluktuatif, dan senantiasa berbolak-balik dalam mengarahkan kehendak serta penalarannya. Sementara itu, bahasa Yunani melalui kardia menegaskan keberadaannya sebagai pilar tengah, inti kehidupan yang kokoh, dan pusat dari seluruh dorongan eksistensial manusia.

Baik qalb maupun kardia pada akhirnya memosisikan jantung sebagai ruang paling privat sekaligus paling menentukan dalam mengemudi kesadaran, moralitas, dan takdir manusia.

Untuk itu, dua pendekatan psiko spiritual dari Sigmund Freud dan Imam Al-Ghazali bisa menguraikan kedua gerak kosmik tersebut dalam menyingkap cara manusia berhadapan dengan gelombang hasrat duniawi yang senantiasa menuntut pemenuhan tanpa batas.

Dalam peta psikologi modern, dorongan-dorongan materialistis untuk merengkuh kekayaan, kemasyhuran atau popularitas, serta kekuasaan dan jabatan yang berlebihan menemukan penjelasannya melalui teori psikoanalisis Freud.

Melalui gagasan mengenai prinsip kesenangan (pleassure principle) yang berakar dari kerja instingtif id, manusia secara kodrati didorong untuk mengejar kepuasan serta menghindari rasa sakit tanpa mengindahkan norma sosial maupun kalkulasi moral.

Konsep-konsep awal psikoanalisis Freud ini diperkenalkan secara luas di Indonesia melalui terjemahan karya klasiknya, Psikoanalisis (Gramedia 1984), yang membedah bagaimana hasrat-hasrat bawah sadar bekerja secara agresif untuk menguasai kesadaran. Tanpa adanya kontrol dari ego dan super ego, prinsip kesenangan memenjarakan manusia dalam pusaran hedonisme dan ambisi politik atau sosial yang tak pernah memuaskan.

Tepatnya, kekayaan dan posisi kekuasaan sekadar dijadikan alat pemuas dahaga naluriah yang primitif.

Namun, dalam ranah transendental dan immaterial, Imam Al-Ghazali melalui mahakaryanya, Ihya’ Ulumuddin (Karisma Utama 2018)), dalam bab Keajaiban Hati (Aja’ibul Qalb) -menawarkan pemahaman yang jauh lebih komprehensif mengenai qalb (hati) sebagai pusat komando spiritual manusia.

Al-Ghazali mengibaratkan qalb sebagai seorang raja di dalam benteng jiwa. Sementara, anggota tubuh dan daya-daya psikis adalah rakyat dan tentaranya. Dalam konsep tentara hati (junudul qalb), terdapat dua jenis pasukan utama.

Pertama, pasukan kasat mata (dzhahir) berupa indra serta anggota tubuh. Berikutnya, pasukan tak kasat mata (bathin) yang mencakup daya syahwat (hasrat kebinatangan untuk kenikmatan biologis dan materi) serta daya amarah (ghadhab, hasrat pembelaan diri, dominasi, dan kekuasaan).

Jika kedua pasukan ini dibiarkan berjalan tanpa kendali akal budi dan cahaya ilahi, manusia akan diperbudak oleh prinsip kesenangan duniawi.

Sebaliknya, apabila qalb (قلب) berhasil menundukkan tentara syahwat dan amarah di bawah naungan ilmu spiritual, maka hati mampu melawan setiap godaan popularitas, akumulasi harta, dan tirani kekuasaan. Dengan demikian, gerak kosmik manusia berhembus selaras menuju kebersihan jiwa (tazkiyatun nafs) dan kedamaian sejati.(*)

#coverlagu: Lagu “Jagalah Hati” yang dibawakan oleh grup nasyid Snada resmi dirilis pada era 2002-2003. Dicipta KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). A dalam album Neo Shalawat (2002) serta album kompilasi/regional Dari Jakarta ke Kuala Lumpur (2003) yang diproduksi bersama label GP Record.

Jakarta, 13 Oktober 2026

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan