
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Keputusan seseorang memilih jurusan kuliah kerap dilatari beragam alasan. Bagi Micha Catur Firmanto, langkah memasuki dunia psikologi justru berangkat dari kebutuhan personal: memahami dan menata dirinya sendiri. Dari perjalanan itulah, ia kini tumbuh sebagai psikolog yang mendampingi banyak orang.
“Sebenarnya dulu saya masuk psikologi itu untuk ‘mengobati diri’. Waktu itu saya tidak percaya diri,” ujar Micha mengenang masa remajanya. Pengalaman semasa SMA, ketika rasa percaya diri runtuh dalam situasi tertentu, menjadi titik refleksi yang kemudian mengubah arah hidupnya.
Nasihat sang ayah menjadi pegangan yang terus ia ingat. “Nikmati prosesnya, karena perjalanan itulah yang akan mendewasakan dan menjawab semua keraguan,” katanya mengulang pesan tersebut.
Pencarian itu membawanya mengunjungi sejumlah kampus hingga akhirnya berlabuh di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Bukan semata reputasi akademik yang membuatnya mantap, melainkan rasa diterima di lingkungan kampus.
“Saya datang dari SMA bukan siapa-siapa, tapi diajak ngobrol dan ditanggapi dengan baik. Di situ saya merasa bisa menjadi diri sendiri dan lebih percaya diri,” tuturnya. Micha kemudian tercatat sebagai mahasiswa Psikologi UNAIR angkatan 2001.
Selama menjalani pendidikan, Micha memilih peminatan klinis. Ia menilai proses akademik di Psikologi UNAIR tidak hanya membekali teori, tetapi juga membentuk cara pandang terhadap manusia dan lingkungannya. Salah satu pembelajaran yang paling membekas adalah modifikasi perilaku.
“Saya baru memahami bahwa perilaku terbentuk dari interaksi individu dengan lingkungannya. Kalau ingin berubah, bukan hanya orangnya yang diubah, tetapi lingkungannya juga perlu dibenahi,” ujarnya.
Menurut Micha, hampir seluruh materi perkuliahan memiliki relevansi jangka panjang. Psikometri, riset kuantitatif dan kualitatif, hingga diskusi akademik menjadi bekal penting dalam praktik profesional. “Pendekatan kuantitatif digunakan untuk pengukuran dan riset, sementara kualitatif sangat berguna saat profiling dan berinteraksi dengan manajemen,” katanya.
Di luar kelas, keterlibatannya dalam organisasi kampus turut membentuk karakter. Aktif di Teater Boneka Fakultas Psikologi, Micha belajar mengekspresikan diri sekaligus menyusun alur cerita. “Kemampuan storytelling dari teater itu masih saya gunakan sampai sekarang, termasuk ketika berbicara dengan jajaran direksi,” ujarnya.
Dari Perjalanan Pribadi ke Mendampingi Sesama
Setelah menempuh perjalanan panjang di dunia industri, pendidikan profesi, dan studi doktoral, Micha bersama sang istri mendirikan Life Tree Psychology pada 2021. Keputusan itu bukan tanpa risiko, karena ia harus meninggalkan posisi mapan dan memulai dari awal.
“Bukan modal yang paling utama. Yang pertama justru value proposition yakni apa nilai pembeda yang kita tawarkan,” kata Micha. Menurutnya, membangun praktik psikologi harus diawali dengan pemetaan nilai dan segmen pasar. “Kita perlu tahu ingin berada di segmen mana dan apa yang benar-benar dibutuhkan,” ujarnya.
Berbekal pengalaman dan portofolio panjang, Life Tree Psychology perlahan bertumbuh. Kini, lembaga tersebut menaungi berbagai program konsultasi, pelatihan, dan pendampingan psikologis bagi individu maupun organisasi.
Melalui kisahnya, Micha berpesan kepada mahasiswa agar menjalani proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh, sembari mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. “Apa pun yang dipelajari di kampus itu penting. Namun, dunia kerja menuntut kesiapan, keterampilan, dan pola kerja yang lebih praktis,” katanya.
Ia mendorong mahasiswa aktif berorganisasi, mengikuti program magang, serta terlibat dalam proyek nyata bersama industri maupun alumni. “Semua proses itu akan membentuk kemampuan adaptasi dan kesiapan yang lebih matang ketika lulus dan terjun langsung ke dunia kerja,” ujar Micha.(*)
Kontributor: Khefti PKIP
Editor: Abdel Rafi



