Berita Terpercaya Tajam Terkini

Komparasi Pembangunan Museum dan Auditorium PDRI 2020 Dan 2016

0

Sudah tentu dalam rangka memperingati Hari Bela Negara yang nanti jatuh pada tanggal 19 Desember 2020, bangsa Indonesia bisa bersyukur, karena pembangunan Museum dan Auditorium Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) sudah hampir selesai. Diberitakan sudah rampung 40 persen.

Tanggal 19 Desember memang sudah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai Hari Bela Negara melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006.

Penetapan 19 Desember sebagai “Hari Bela Negara” dipilih untuk mengenang peristiwa sejarah ketika tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melancarkan Agresi Militer II dengan mengumumkan tidak adanya lagi Negara Republik Indonesia yang sudah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Untuk membandingkan sejauh mana perkembangan pembangunan Museum dan Auditorium PDRI, lihatlah foto udara museum dan auditorium yang berada di kompleks Monumen Nasional PDRI di Nagari Koto Tinggi, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat, Jumat, 18 September 2020. Data dari Pemkab Limapuluh kota, pembangunan Monumen Nasional PDRI oleh Pemerintah Pusat tersebut terus dilanjutkan hingga kini progresnya telah mencapai 40 persen.

Pembangunan Tahun 2016

Secara kasat mata, saya tidak menyaksikan pembangun Museum dan Auditorium tahun 2020 ini, tetapi saya menyaksikan pembangunan itu pada tahun 2016.Tepatnya pada hari Sabtu pagi, tanggal 22 Oktober 2016, saya pergi ke Nagari Koto Tinggi, dari Payakumbuh. Pagi sekali saya mencarter ojek ke daerah Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota itu.

Mungkin pertanyaan yang muncul, mengapa naik ojek? Ya, karena angkutan umum waktu itu jarang langsung ke tempat tersebut.  Jika ada kendaraan, penumpang roda empat biasanya hanya sampai daerah Suliki.

Pun kalau ada mobil ke Koto Tinggi, mobil itu bukan dari Payakumbuh, tetapi mobil yang datang pagi-pagi dari Koto Tinggi ke Payakumbuh dan mobil yang sama itu pula, siangnya kembali ke Koto Tinggi. Biasanya mobil itu ditumpangi para penduduk Koto Tinggi yang akan berbelanja ke Payakumbuh.

Setelah berbelanja mereka akan kembali lagi dengan mobil yang sama di mana telah menunggunya.Jadi hanya sekali rute perjalanan.Itulah sebabnya, saya mencarter ojek pergi pulang dari dan ke Koto Tinggi-Payakumbuh.

Lumayan juga jauh jaraknya antara Payakumbuh dan Koto Tinggi. Kami harus beristirahat beberapa kali melepaskan lelah. Jalan yang ditempuh naik turun sebagaimana kondisi jalan ke daerah pegunungan, yang menjadi ciri khas jalan-jalan di Sumatera Barat.

Sewaktu tiba di Suliki, jalur jalan masih dua arah.Dari Suliki ke Koto Tinggi jalur jalan hanya satu.Pernah ojek saya hampir bertabrakan dengan mobil pribadi orang lain.

Tiba di Koto Tinggi masih agak pagi juga. Saya tiba di Kantor Kecamatan Gunuang Omeh. Karena hari Sabtu, pegawai libur, maka suasananya sepi dan di muka kantor terlihat bangku atau meja pedagang. Di muka kecamatan Gunuang Omeh itu tersedia halaman yang luas.Jadi bisa dipakai pedagang untuk berdagang.Di halaman yang luas itu terdapat patung pejuang yang menandakan pejuang PDRI bermarkas. Hanya sayang patung itu juga tidak terawat dengan baik, lebih-lebih sudah banyak para pedagang menjajakan dagangannya di kaki patung. Mungkin di hari-hari tertentu mereka berdagang.

Perjalanan kami teruskan ke puncak bukit. Jalan yang sulit, berliku, naik turun, licin dan sempit. Saya tiba di sebuah bangunan yang belum selesai dan  terletak di tanah seluas 20 hektar lebih. Ada dua kerangka bangunan. Bangunan I dijadikan Monumen dan untuk Museum Nasional PDRI,  ruang perpustakaan dan pusat Literatur Sejarah. Sedangkan bangunan II diperuntukan sebagai pusat pertokoan dan lain-lain.

Saya memperoleh informasi, bahwa pondasi bangunan dicanangkan tepat pada tanggal 19 Desember 2012 yang dijadikan sebagai Hari Bela Negara. Sudah menghabiskan dana 268 miliar rupiah. Biaya itu merupakan biaya patungan yang dikeluarkan dari Anggaran Belanja Kementerian Pertahanan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan sejumlah kementerian lain.

Bangunan ini sudah tentu tidak hanya akan menjadi kebanggaan Veteran RI, tetapi juga akan menjadi kebanggan seluruh rakyat Indonesia, karena pernah diajarkan Presiden RI Pertama Soekarno, “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah).

PDRI mengingatkan kita pula kepada Kolonel Hidayat yang pada saat itu hadir bersama Mr.Sjafruddin Prawiranegara. Menurut sumber yang saya peroleh di Bukittingi, Pak Hidayat yang mendorong Sjafruddin Prawiraranegara mengambil tindakan untuk mendirikan PDRI. Saat itu Pak Hidayat, di samping sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra, yang lebih penting, saat itu juga adalah pejabat Kepala Staf Angkatan Perang, karena KSAP ditahan Belanda di Yogyakarta bersama dengan Bung Karno dan Bung Hatta.

Akhirnya sebagai warga negara, saya mengharapkan Museum dan Auditorium PDRI ini cepat selesai. Sudah tentu jalan-jalan yang sulit saya lalui pada tahun 2016, juga sudah diperbaiki.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.