
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Jalan hidup Dr Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua berawal dari kesederhanaan yang nyaris menjauhkan dirinya dari bangku kuliah. Lahir dan tumbuh di lingkungan desa dengan keterbatasan ekonomi, Mundakir bahkan sempat tak membayangkan dirinya menjadi mahasiswa, apalagi memimpin sebuah perguruan tinggi. Kini, ia dipercaya menakhodai Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) sebagai rektor periode 2024-2028.
“Setelah lulus SMA, saya langsung bekerja untuk membantu orang tua. Saat itu, kuliah seperti mimpi yang terlalu jauh,” tutur Mundakir mengenang masa mudanya.
Kisahnya adalah potret ketekunan yang tumbuh pelan, setapak demi setapak. Dorongan orang tua menjadi titik balik yang mengantarkannya ke dunia pendidikan tinggi. Ia memulai dari Akademi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, sebelum melanjutkan studi sarjana Ilmu Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Hasrat belajar yang tak pernah padam membawanya menempuh pendidikan magister keperawatan di Universitas Indonesia. Pengalaman akademiknya juga diperkaya melalui short course di Hamilton College, Adelaide, Australia. Pada 2013, ia kembali ke almamaternya di Universitas Airlangga untuk menempuh studi doktoral bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat, yang diselesaikannya pada 2017.
Seiring pendidikan, karier akademik Mundakir tumbuh beriringan. Ia memulai sebagai asisten dosen, kemudian dosen, hingga pada 2005 diterima sebagai CPNS dosen DPK Kopertis Wilayah VII Jawa Timur -kini LLDIKTI VII- yang ditempatkan di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Hingga kini, statusnya adalah dosen tetap PNS-DPK di kampus tersebut.
Kepercayaan memimpin Umsura ia maknai sebagai amanah. “Jabatan rektor bukan sekadar posisi struktural, tetapi tanggung jawab yang harus dijalankan dengan niat baik,” ujarnya.
Dalam kepemimpinannya, Mundakir mengusung agenda transformasi berkelanjutan. Tiga fokus utama ia tetapkan: pengembangan sumber daya manusia, penguatan unit bisnis kampus sebagai sumber pendapatan berkelanjutan, serta perluasan dan penguatan program internasionalisasi.
Bagi Mundakir, kepemimpinan juga berarti memberi pesan dan teladan. Kepada mahasiswa, ia berpesan agar kesempatan belajar dimanfaatkan sebaik mungkin. “Kembangkan kapasitas diri, cari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Tidak semua orang memiliki peluang seperti ini,” katanya.
Dari seorang anak desa yang sempat menunda mimpi kuliah hingga menjadi rektor, perjalanan Mundakir menunjukkan bahwa pendidikan, ketekunan, dan kesabaran mampu membuka jalan pengabdian yang lebih luas, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi generasi berikutnya.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



