Wednesday, June 19, 2024
spot_img
HomeEkonomikaKetum DPP BAPERA Sarankan Pemerintah Aplikasikan MMT Dalam Kebijakan Moneter

Ketum DPP BAPERA Sarankan Pemerintah Aplikasikan MMT Dalam Kebijakan Moneter

Ketua umum DPP BAPERA Fahd el-Fouz A Rafiq bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam suatu kesempatan beberapa waktu lalu. Kini, Fahd menyarankan agar Indonesia segera menerapkan MMT dalam kebijakan moneternya. (foto: cakrawarta)

JAKARTA – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Barisan Pemuda Nusantara (Ketum DPP BAPERA) Fahd El-Fouz A Rafiq mengatakan bahwa ada banyak negara yang berhasil mengaplikasikan modern monetary theory (MMT) dalam kebijakan moneternya seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Jerman serta negara-negara Eropa.

“Di beberapa negara tersebut, MMT berhasil diaplikasikan untuk kebutuhan proyek produktif dalam negerinya, sehingga jauh dari kata inflasi,” ucap Fahd pada media ini di Jakarta, Jum’at (17/3/2023) sore.

MMT adalah teori ekonomi makro yang berbasis cetak uang atau printing money sehingga dalam teori ini, suatu negara memiliki kebijakan mencetak uang sendiri untuk kepentingan dalam negerinya.

Fahd sendiri menjelaskan bahwa MMT pertama kali digunakan oleh negara Jerman sebelum perang Dunia (PD) II.

Di Tahun 1918, lanjut Fahd, Jerman kalah dalam PD I, namun karena strategi ekonominya yang cerdas  hanya dalam 15 tahun menjadi negara super power dengan menggunakan MMT.

Sementara Amerika Serikat sendiri,  meninggalkan Keynesian pada tahun 1971, yang meskipun masih dipakai di kampus-kampus, tapi pada prakteknya  Amerika Serikat menggunakan Hudsonian, guru besar MMT Amerika.

“Jadi beda apa yang ekonomi kampus ajarkan, dan ekonomi birokrasi dalam mengelola negaranya si Amerika Serikat itu  Double standard kan? Ya gitulah negara pemenang PD II ‘ngerjain’ dunia,” sindirnya sembari tertawa.

Menurut Fahd, Indonesia bisa saja meniru cara Amerika Serikat atau bahkan Tiongkok, tetapi penting diingat, menurutnya untuk tidak mengikuti kemauan mereka.

“Mengapa penting meniru kedua negara tersebut misalnya?  Karena jujur deh, diluaran sana, banyak yang meng-counter MMT, dapat dipastikan tidak ada solusinya juga agar bagaimana rupiah tidak melemah dan Indonesia bisa hidup tanpa inflasi ke depannya. Tidak ada yang bisa, kecuali ide menggunakan MMT yang digunakan Tiongkok dan Amerika Serikat itu kan?” tanyanya retoris.

Namun, mantan Ketum PP AMPG tersebut menegaskan bahwa penggunaan MMT oleh Tiongkok dan Amerika Serikat dapat diterima oleh akal dan tidak rumit.

“Ilmu ekonomi itu sederhana, selama basisnya bisa diterima akal sehat dan solutif untuk kemaslahatan bangsa dan negara ke depannya, why not, kan? tandasnya.

Mantan Ketum DPP KNPI menjelaskan bagaimana Stepahanie Kelton dalam bukunya Deficity Myth, murid dari Michael Hudson pendiri Hudson institute yang menjadi penasihat ekonomi Presiden Nixon, menggambarkan bagaimana pemerintah Amerika Serikat pada tahun 70-an akhirnya memutuskan melepas emas sebagai underlying dolar menjadi berbasis produksi dan trading termasuk petroleum sebagai create demand terhadap dolar sehingga mencetak dolar tanpa emas dan underlying diganti dengan hutang, proyek dan trading, dolar tidak akan inflasi.

Dalam buku Stephanie Kelton tersebut, lanjut Fahd, pernyataan bahwa defisit adalah selisih neraca perdagangan yang merugi atau minus di sebuah negara karena banyaknya impor, justru itu dianggap mitos bagi MMT.

“Selama kita menggunakan mata uang masing-masing, tidak akan ada yang namanya defisit,” tegas pria yang menyandar Magister dalam Ilmu Bisnis itu.

Mantan Ketum Ormas MKGR lalu memberikan contoh, kalau Indonesia dagang sama Thailand misalnya, kemudian menggunakan dolar pasti ada yang namanya defisit. Karena itu, lanjut Fahd, negara berdaulat devisanya bukan dollar tetapi bisa dalam bentuk lain seperti emas.

“Perlu diketahui bahwa Rupiah terhadap dolar dari tahun ke tahun berubah. Misal pada 1970an nilai 1 dollar setara 300-an rupiah. Tahun 80an sekitar 600 rupiah, tahun 1985 sekitar 1.100 rupiah, lalu tahun 1995 sekitar 2300an, tahun 2000 nilainya sekitar Rp 9.700 dan sekarang, tahun 2023 nilainya sekitar Rp 15.500/dollar. Kalau melihat angka diatas maka bukan tidak mungkin 1 dollar akan menyentuh akan 20.000 rupiah jika tidak segera menggunakan MMT dalam kebijakan moneter. Makanya, saat ini momentumnya bagi pemerintah. Kita bisa!” pungkas Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar itu.

(asw/bus)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terbaru

Most Popular