
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Juli atau Agustus 2026, isu kerukunan mengemuka sebagai ujian utama bagi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Pengasuh Pesantren Salafiyah Pasuruan, KH Idris Hamid, menegaskan bahwa kekuatan NU ke depan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga kerukunan, bukan sekadar secara formal, melainkan secara substantif.
“Kerukunan itu jangan hanya formal, tetapi juga lahir dari dalam hati,” ujar KH Idris Hamid saat menerima jajaran Pengurus Wilayah NU Jawa Timur dalam kegiatan Silaturahmi Syawalan di Pasuruan, Senin (30/3/2026) malam.
Pesan tersebut, menurut Sekretaris PWNU Jawa Timur, Dr HM Faqih, menjadi penegasan penting bahwa Muktamar bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum menguji kedewasaan organisasi dalam mengelola perbedaan.
“Ini menjadi ujian bagi NU, bagaimana proses menuju Muktamar bisa berjalan dengan rukun dan hasilnya dapat diterima semua pihak,” kata Faqih, Selasa (31/3).
Ia menjelaskan, berbagai forum pra-Muktamar saat ini tengah dimanfaatkan untuk merumuskan mekanisme pemilihan yang mampu meminimalkan potensi konflik. Dengan demikian, keputusan yang dihasilkan tidak menyisakan persoalan di kemudian hari.
“PWNU Jawa Timur juga sudah membentuk tim perumus program sebagai bagian dari kesiapan menyambut Muktamar,” ujarnya.
Terkait kemungkinan Jawa Timur menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU, Faqih menyatakan kesiapan pihaknya jika mendapat kepercayaan dari forum organisasi. “Kami siap jika diberi amanah,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur, Sudarsono Rahman, menilai pelaksanaan Muktamar dalam waktu dekat merupakan sinyal positif adanya kesadaran kolektif di tubuh NU untuk menjaga soliditas organisasi.
“Sebagai warga NU di akar rumput, kami bersyukur Muktamar segera dilaksanakan. Ini menunjukkan kesadaran bahwa konflik yang terlalu lama tidak menguntungkan bagi jam’iyah, jamaah, maupun bangsa,” ujarnya.
Dalam konteks menjaga kerukunan tersebut, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, menekankan pentingnya merawat tradisi silaturahmi dengan para kiai dan masyayikh.
Ia mengajak jajaran pengurus untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai sarana memperkuat ukhuwah di lingkungan NU. “Semoga ini menjadi tradisi tahunan untuk mempererat kebersamaan,” katanya.
Kegiatan Silaturahmi Syawalan PWNU Jawa Timur tahun ini diisi dengan kunjungan ke sejumlah ulama sepuh dan pesantren di Jawa Timur, antara lain Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Surabaya, KH Agoes Ali Masyhuri di Sidoarjo, serta KH Idris Hamid di Pasuruan.
Rombongan juga berziarah ke maqbarah KH Abd. Hamid di Pasuruan, serta melanjutkan silaturahmi ke sejumlah kiai di Kediri dan Jombang, termasuk KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, serta kompleks Pesantren Tebuireng dan Tambakberas.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan tradisi Lebaran Ketupat dan rapat rutin PWNU Jawa Timur di Surabaya, hari ini, Selasa (31/3/2026). (*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



