Kasus Kim Soo Hyun Memanas, Jaksa Korea Ajukan Penangkapan Bos Garo Sero

Aktor papan atas Korea Selatan, Kim Soo-hyun dan aktris Korea Selaran, (almh.) Kim Sae Ron. 

SEOUL, CAKRAWARTA.com – Kasus yang menyeret nama aktor papan atas Korea Selatan, Kim Soo Hyun, memasuki babak paling serius. Kepala kanal kontroversial Garo Sero Research Institute, Kim Se Ui, kini menghadapi permohonan surat perintah penangkapan dari Kejaksaan Distrik Pusat Seoul setelah dituduh menyebarkan rekaman suara hasil manipulasi kecerdasan buatan atau AI yang menyeret nama mendiang aktris Kim Sae Ron.

Dalam perkembangan yang memicu kehebohan besar di industri hiburan Korea, Kim Se Ui diduga menggunakan teknologi generative AI untuk memalsukan suara Kim Sae Ron. Rekaman itu disebut-sebut dipakai untuk membangun narasi bahwa sang aktris pernah menjalin hubungan dengan Kim Soo Hyun saat masih di bawah umur dan mengalami tekanan finansial dari sang aktor sebelum meninggal dunia.

Tuduhan tersebut langsung memantik badai opini publik, memecah penggemar, sekaligus memunculkan pertanyaan serius tentang bahaya penggunaan AI dalam perang citra selebritas.

Tim hukum Kim Soo Hyun kemudian menggugat Kim Se Ui atas dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran hukum terkait kekerasan seksual digital. Gugatan itu diajukan setelah konferensi pers kontroversial pada Mei lalu, ketika rekaman yang kini disebut “direkayasa” dipublikasikan ke publik.

Kini, Kejaksaan Distrik Pusat Seoul resmi mengajukan permohonan penahanan terhadap Kim Se Ui. Sidang peninjauan surat perintah penangkapan dijadwalkan berlangsung pada 26 Mei di Pengadilan Distrik Pusat Seoul.

Kasus ini disebut pengamat media Korea sebagai salah satu titik paling gelap dalam hubungan antara budaya fandom, kanal YouTube sensasional, dan teknologi AI. Untuk pertama kalinya, dugaan manipulasi suara AI yang menyeret kematian artis besar berubah menjadi perkara pidana yang berpotensi berujung penahanan.

Di media sosial Korea Selatan, tagar terkait Kim Soo Hyun dan Kim Sae Ron kembali menduduki trending topic. Banyak warganet mulai mempertanyakan bagaimana teknologi AI kini bukan hanya dipakai untuk hiburan, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun “realitas palsu” yang menghancurkan reputasi seseorang.

Jika surat perintah itu dikabulkan pengadilan, Kim Se Ui berpotensi menjadi figur media pertama di Korea Selatan yang ditahan dalam kasus besar terkait manipulasi suara AI terhadap selebritas.

Bagi industri hiburan Korea, perkara ini bukan lagi sekadar drama selebritas. Ini telah berubah menjadi pertarungan besar tentang batas etika AI, kekuatan media digital, dan bagaimana kematian seorang artis bisa dipakai sebagai senjata opini publik.(*)

Kontributor: Rika

Editor: Rafel