
PONOROGO, CAKRAWARTA.com – Jembatan yang sempat putus akibat diterjang banjir dan longsor di Desa Tempuran, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, kini kembali menghubungkan aktivitas warga. Jembatan Garuda yang dibangun melalui program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dan dikerjakan bersama TNI Angkatan Darat itu rampung menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi warga Tempuran, pulihnya akses tersebut bukan sekadar berdirinya kembali sebuah jembatan. Kehadiran jembatan menjadi harapan baru setelah selama berbulan-bulan warga harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh untuk bersekolah, bekerja, berdagang, bertani, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Desa Tempuran Tri Wahyono mengatakan jembatan baru tersebut menjadi hadiah kemerdekaan yang sangat berarti bagi masyarakat.
“Ini kado kemerdekaan terindah bagi kami, warga Desa Tempuran. Terima kasih Bapak Presiden Prabowo, terima kasih bapak-bapak TNI,” kata Tri saat ditemui di lokasi Jembatan Garuda, Selasa (18/8/2026).
Jembatan lama sebelumnya rusak berat setelah hujan deras mengguyur wilayah Ponorogo pada pertengahan April 2026. Derasnya aliran air disertai longsor membuat jembatan yang selama ini menjadi salah satu akses penting warga akhirnya ambrol dan putus total.
Putusnya jembatan berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat. Warga harus menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh sehingga menambah waktu dan biaya perjalanan.
Menurut Tri, kembali terbukanya akses tersebut diharapkan segera menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Mudah-mudahan dengan dibangunnya jembatan ini akan memperlancar semua perekonomian dan aktivitas masyarakat di Desa Tempuran dan sekitarnya sehingga masyarakat akan menjadi lebih sejahtera,” ujarnya.

Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto mengatakan pembangunan Jembatan Garuda merupakan salah satu bentuk kehadiran negara dalam membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses akibat kerusakan infrastruktur.
Menurut dia, keberadaan jembatan memiliki dampak langsung terhadap berbagai aktivitas warga, terutama pendidikan, pertanian, perdagangan, dan mobilitas sehari-hari.
“Jembatan ini bukan hanya menjadi sarana penghubung, tetapi juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Ketika akses terbuka, aktivitas masyarakat juga akan kembali berjalan dengan lebih mudah,” kata Untoro.
Ia berharap masyarakat ikut menjaga dan merawat jembatan tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kita ingin apa yang dibangun ini benar-benar memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Mudah-mudahan dengan adanya jembatan ini, aktivitas warga kembali lancar dan perekonomian masyarakat juga semakin berkembang,” ujarnya.
Kini, akses yang sempat terputus kembali tersambung. Kendaraan dapat melintas dan warga tidak lagi harus memutar melalui jalur alternatif untuk menjalankan berbagai aktivitas.
Bagi warga Tempuran, Jembatan Garuda bukan sekadar konstruksi yang menghubungkan dua sisi wilayah. Jembatan itu menjadi simbol pulihnya akses, bergeraknya kembali aktivitas masyarakat, sekaligus kado kemerdekaan setelah berbulan-bulan menghadapi keterbatasan akibat putusnya jalur penghubung.(*)
Kontributor: Arwang
Editor: Abdel Rafi








