Wednesday, May 22, 2024
HomeEkonomikaJelang Ramadhan UMKM Menjamur, Pakar Ini Minta Pedagang Rasional dan Pahami Pasar

Jelang Ramadhan UMKM Menjamur, Pakar Ini Minta Pedagang Rasional dan Pahami Pasar

Penjual Jajanan Takjil Jelang Puasa di salah satu sudut jalanan di Kota Lhokseumawe, Aceh menjajakan jualannya. (foto: syahril/cakrawarta)

SURABAYA – Sebagai bulan penuh berkah, Ramadan tidak hanya bicara tentang puasa, mengaji, dan ibadah-ibadah lainnya. Negara dengan penduduk mayoritas muslim, Ramadan di Indonesia dirayakan dan ditandai dengan kegiatan khas dan hanya terjadi di bulan tersebut. Salah satunya dengan menjamurnya pedagang ultra mikro yang menjajakan dagangannya sesaat sebelum berbuka. Tentunya, dengan itu, Ramadan memberikan manfaat kepada banyak aspek, salah satunya aspek ekonomi.

Menurut pakar ekonomi Shochrul Rohmatul Ajija, fenomena tersebut menandakan bahwa Ramadan juga menjadi momen dalam peningkatan perekonomian masyarakat.

“Daya beli masyarakat di bulan Ramadan itu cenderung naik dan terdistribusi. Jadi orang yang cenderung kaya akan menyedekahkan sehingga orang-orang dalam kelompok miskin mendapat tambahan income dan daya beli naik,” ujarnya pada media ini, Senin (20/3/2023).

Tidak hanya itu, aspek psikologis dan keyakinan dalam beragama, sambungnya, juga memengaruhi hal tersebut. Banyak masyarakat yang merasa bahwa Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk bersedekah dan mengeluarkan uang yang dimilikinya, sehingga demand atau permintaan cenderung naik.

Dirinya juga menegaskan bahwa permintaan masyarakat tersebutlah, yang ditangkap oleh pasar sehingga direspon dengan bermunculan usaha-usaha ultra mikro baru. Hal itu, sambungnya, juga membuat para pengusaha menaikan supply atau penawaran barang yang dimiliki untuk memenuhi permintaan masyarakat. Kenaikan tersebut akhirnya membuat titik keseimbangan juga berubah.

“Banyak orang yang sudah merencanakan income-nya untuk menghadapi bulan Ramadan. Ada sebagian orang yang memilih untuk membuat tabungan Idul Fitri. Kalau di kampung ada arisan lebaran. Itu uang yang sengaja dikumpulkan untuk Ramadan dan Idul Fitri,” imbuhnya.

Dirinya juga menegaskan agar pedagang mampu bertindak rasional dan paham akan pasar, sehingga dapat menyetok barang dengan efisien. Selain itu, ia berpesan jangan sampai glorifikasi prospek usaha di bulan Ramadan membuat pedagang ultra mikro baru mencari modal dengan berutang.

“Skema pembiayaan untuk usaha yang sporadis seperti ini bahaya. Karena tidak sedikit yang abis lebaran menanggung hutang banyak. Dengan alasan ketipulah, salah perhitunganlah dan tidak laku barang dagangannya,” tegas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga tersebut mengingatkan sekaligus mengakhiri keterangannya.

(mar/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular