Berita Terpercaya Tajam Terkini

Inovasi di Masa Transisi Covid-19

 

“Kadang kita terlalu sibuk memikirkan kesulitan-kesulitan sehingga kita tidak punya waktu untuk mensyukuri rahmat Tuhan.”
(Jenderal Soedirman)

Pandemi Covid-19 telah menciptakan banyak sekali kesulitan, dari aspek sosial hingga ekonomi. Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebut kemungkinan persentase penduduk miskin meningkat menjadi 10-12 persen karena pandemi ini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin mencapai 24.97 juta jiwa atau sekitar 9.2 persen. Hal ini juga berdampak terhadap kehidupan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Indonesia, yang merupakan tulang punggung ekonomi riil bangsa Indonesia. Lebih menyedihkan lagi, ini adalah kerapuhan kehidupan ekonomi puluhan juta keluarga.

Pikiran, hati dan tenaga kita terkuras untuk berpikir tentang segala kesulitan itu. Semua lini media massa menceritakan segala hal tentang Covid-19 dari A hingga Z. Semua dikupas, seolah kita diajak untuk terus hanyut dalam gelombang kesulitan Covid-19.

Pantaslah Jenderal Soedirman, tokoh besar dan pahlawan nasional kita menyampaikan realita, bahwa hingga manusia tidak menyadarinya, ternyata masih banyak kekuatan manusia yang bisa disyukuri untuk bangkit dari kesulitan.

Tuhan menganugerahi rasa lapar, rasa kecewa, rasa sedih, rasa cemas, dan rasa takut untuk menjadi api pemantik agar kita bisa lebih menikmati rasa kenyang, rasa senang, rasa ceria, rasa tentram, dan rasa berani yang bermuara pada kebahagiaan.

Hanya saja, apakah api pemantik itu akan menghasilkan energi buruk membakar jiwa kita, atau kita mampu mengkonversi energi tersebut menjadi kekuatan untuk mewujudkan mimpi dan harapan.

Kita pernah tahu, tentang hukum gravitasi yang dicetuskan oleh Isaac Newton, Ilmuwan Inggris yang melahirkan karya besar saat kondisi pandemi yang menewaskan 20% penduduk London, yang dikenal sebagai Great Plague of London.

Tidak hanya itu, teori tentang optik dan kalkulus dilahirkan pada masa work from home (WFH) ala abad ke-16 tersebut. Seorang pembelajar hebat seperti Newton telah mampu membangun tatanan baru dunia melalui sains dan teknologi (new normal).

Karena akal adalah anugerah terhebat yang diberikan oleh Tuhan, menjadi kekuatan manusia menembus langit dan bumi dan juga menghasilkan pembaharuan dan inovasi.

Hari ini, UMKM berada di masa transisi tersulit dengan aliran cashflow bermasalah, sisi hulu menjadi terbatas dan biayanya meningkat. Sisi hilir pasar kian menyempit, permintaan berkurang drastis. Semua kesulitan ini belum ditambah beban kewajiban pembayaran gaji, listrik, kredit, dan banyak lagi. Tidak terkecuali kami nanoventure.tech yang merintis usaha rintisan berbasis teknologi dari kecil, ikut merasakan dampak.

Walau pada kenyataannya, uang itu tidak pernah hilang atau lenyap. Dia masih ada tersimpan di kantong masyarakat, swasta dan pemerintah. Hanya saja, cara spending (menghabiskan uang) yang saat ini menjadi berbeda. Masyarakat mengamankan uangnya untuk kebutuhan pokok (pangan dan kesehatan), dan menekan pengeluaran kebutuhan sekunder dan tersier (sandang, papan, dan mobilisasi).

Pada kondisi pasar berbeda, kita tidak bisa lagi menggunakan cara yang sama, harus gunakan cara berbeda dan inovatif.

Comments are closed.