Berita Terpercaya Tajam Terkini

Indonesia Terus Upayakan Perdamaian di Afghanistan

0
ilustrasi. (foto: istimewa)

 

Keinginan Indonesia untuk mengupayakan perdamaian di Afghanistan tidak pernah berhenti. Itulah pesan yang kita tangkap ketika Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin bertemu dengan Jusuf Kalla (JK) di Rumah Dinas Wapres, Jalan Diponegoro, Jumat, 11 Desember 2020.

Selaku juru bicara mantan Wapres JK, Husain Abdullah, mengatakan dalam pertemuan tersebut, mereka berdua membicarakan kelanjutan pertemuan ulama tiga negara, yaitu Indonesia-Afghanistan dan Pakistan yang berkaitan dengan upaya perdamaian di Afghanistan.

Diharapkan, pertemuan para ulama tersebut makin memperkokoh upaya perdamaian Afghanistan.

Memang meskipun JK tidak lagi menjadi wakil presiden di era kedua pemerintahan Presiden Jokowi (Joko Widodo), tidak berarti ia sekarang ini berhenti untuk menyelesaikan masalah di Afghanistan. Usaha penyelesaian tersebut akan tetap terus berlangsung.

Menyaksikan perkembangan di Afghanistan, sudah dilakukan Presiden Jokowi mengunjungi Afghanistan. Itu terjadi di awal jabatan lima tahun Presiden Jokowi bersama wakilnya, Jusuf Kalla, tahun 2018.

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo waktu itu berangkat menuju Afghanistan. Ia di sana memperoleh penghargaan berupa medali tertinggi atas keberaniannya dalam upaya perdamaian dunia. Penghargaan ini langsung disematkan oleh Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

Bangsa Indonesia memang patut berbangga bahwa presidennya diberi penghargaan tertinggi oleh pemerintah Afghanistan. Apalagi penghargaan ini baru dua kali diberikan kepada presiden RI. Yang pertama diberikan kepada Presiden RI Ir. Soekarno (Jokowi juga bertitel insinyur dan sama-sama berasal dari sipil sebagaimana Soekarno).

Kita memang bangga dengan Presiden Jokowi. Hadirnya beliau di Afghanistan, itu setelah empat hari pemboman markas angkatan bersenjata Afghanistan. Tetapi, meski banyak yang menyarankan membatalkan kunjungannya, Jokowi tetap bersikeras ke Afghanistan. Adalah hal wajar dalam situasi demikian, Jokowi dapat pengawalan ketat. Dua helikopter ikut meraung-meraung di atas kendaraan yang ditumpangi Presiden Jokowi.

Sebagaimana kita ketahui, inilah bagian akhir perjalanan Presiden Jokowi ke lima negara Asia Selatan, Bangladesh, India, Pakistan, Srilanka dan Afghanistan.

Kunjungan Presiden Jokowi ke Afghanistan waktu itu disusul Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Rombongan Wakil Presiden JK yang bertolak ke Afghanistan, pada hari Selasa, tanggal 27 Februari 2018.

Dibekali rompi antipeluru. Komandan Grup B Kolonel Pas Deny Muis mengatakan, penggunaan rombi antipeluru untuk berjaga-jaga mengantisipasi kondisi keamanan yang tak terduga di Kota Kabul.

“Kita tidak tahu kondisi pasti di Afganistan,  namun pemakaian rompi antipeluru ini untuk menjaga berbagai kemungkinan. Tapi sebetulnya aman saja, tim advan kami sudah ada di Kabul sejak beberapa hari lalu untuk memantau dan mengamankan,” ujar Deny waktu itu.

Ketika Wakil Presiden JK pada waktu itu menutup pertemuan Trilateral Ulama Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia di Istana Bogor, ia mengatakan, bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah awal untuk menciptakan perdamaian di Afghanistan.

“Ini adalah langkah awal daripada mendorong mereka untuk duduk bersama-sama mencapai perdamaian itu,” ujar JK usai menutup pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor.

JK menjelaskan, proses perdamaian di Afghanistan masih membutuhkan waktu yang panjang. Menurutnya, perdamaian bisa tercapai apabila pihak-pihak yang bertikai duduk bersama untuk berunding dan berdialog. “Masih panjang prosesnya, ini statement awal, payung,” ujar JK

Dengan demikian, pada pertemuan awal ini Indonesia berupaya untuk mempertemukan ulama-ulama dari Afghanistan dan Pakistan. Adapun, suara ulama biasanya lebih didengar oleh masyarakat maupun kelompok-kelompok agama. “Ulama sangat penting, dan juga semua negara Islam itu menghargai ulama maka ini seruan ulama bahwa kalian semua harus mencapai damai,” kata JK.

Pertemuan trilateral ini merupakan usulan dari majelis ulama masing-masing negara dengan persetujuan pemerintah. Dalam pertemuan tersebut, para ulama Afghanistan dan Pakistan sepakat untuk mencapai perdamaian. Kesepakatan ini dituangkan dalam deklarasi “Bogor for Peace.”

Deklarasi “Bogor for Peace” dibacakan oleh perwakilan ulama dari masing-masing negara. Adapun ulama yang membacakan deklarasi tersebut yakni perwakilan ulama Pakistan Qibla Ayaz, perwakilan ulama Indonesia Quraish Shihab, dan perwakilan ulama Afghanistan Ataullah Lodin.

Ketua Majelis Ulama Indonesia yang pada waktu itu dijabat KH. Ma’ruf Amin dan sekarang Wakil Presiden menyatakan bersyukur karena pertemuan trilateral ini akhirnya bisa diselenggarakan. Pertemuan antar ulama dari tiga negara menjadi sesuatu yang dibutuhkan dalam menjaga keutuhan saudara sebangsa yang ada di Afghanistan

Dia berharap kesepakatan yang diambil oleh ketiga negara menjadi upaya menumbuhkan perdamaian karena selama ini Muslim dunia sangat khawatir dengan kondisi keamanan di Afghanistan.

KH. Ma’ruf Amin menuturkan, sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki berbagi macam etnis, suku, ras, dan agama. Namun perbedaan ini tidak membuat negara tercerai beras. Indonesia dengan mayoritas masyarakat muslim tetap menjaga prinsip yang dipegang teguh melalui Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah.

Pertemuan mantan Wakil Presiden JK dan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin ini juga dibayangi pembunuhan seorang wartawan di Afghanistan. Seorang pria bersenjata menembak dan membunuh seorang jurnalis televisi perempuan yang juga aktivis hak-hak perempuan, di Afghanistan pada Kamis, 10 Desember 2020, sebuah insiden yang menandai peningkatan tren kekerasan terhadap jurnalis di negara itu.

Malalai Maiwand, seorang reporter di Enikass Radio dan TV di Nangarhar, tewas bersama dengan sopirnya dalam serangan terhadap kendaraan mereka di Jalalabad, ibu kota provinsi timur Nangarhar.

Dengan pembunuhan tersebut, jumlah total jurnalis dan pekerja media yang tewas tahun ini di Afghanistan tercatat ada sampai 10 orang.

“Dia sedang dalam perjalanan ke kantor ketika insiden itu terjadi,” kata Attaullah Khogyani, juru bicara gubernur provinsi Nangarhar seperti yang dilansir dari CNN pada Kamis, 10 Desember 2020.

Daerah Jalalabad dikatakannya telah menjadi sarang aktivitas militan, terutama yang melibatkan ISIS, tetapi tidak ada kelompok yang segera mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Juru bicara kementerian dalam negeri Afghanistan, Tariq Arian mengatakan bahwa dalam 1,5 dekade terakhir, sebagian besar jurnalis yang terbunuh adalah korban Taliban.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.